Andai aku menjadi Hamonangan seorang lulusan Institut Rochaster USA,dan sutradara film Dalihan Na Tolu.


foto ilustrasi by google image

foto ilustrasi by google image

Namaku adalah Padot Hamonangan Silalahi,lahir sekitar 30 tahun yang lampau,tepat hari jumat malam tanggal satu Agustus 1981,disebuah desa terpencil di pinggiran Danau Toba,tandus dan berdebu jika kemarau tiba,bebatuan,pohon pinus dan pohon mangga yang tumbuh di lereng bukit itu dan diselingi pohon pohon perdu yang berduri.ibuku adalah seorang wanita perkasa,yang sangat ku kagumi sekaligus inspirasiku sepanjang masa,sedangkan Ayahku??aku kurang begitu tau tentang alm Ayah ku,karena sejak aku kecil dan berumur sekitar 1tahun,beliau telah pergi untuk selama lamanya meninggalkan kami semua.
     Sejak sepeninggal ayah kami,maka praktis,Ibu lah yang berperan sebagai Ayah buat kami terlebih kepada aku dan kedua adik adik ku,masa kecil ku dipenuhi dengan kenangan yang menurutku kurang bahagia,setiap pagi subuh di usia yang sangat belia,yaitu umur lima tahun,aku sudah harus berangkat menuju tepi pantai Danau Toba,sambil membawa (Hole)dan (Doton)semacam jaring penangkap ikan mujahir di Danau Toba,bergegas menuju pohon Mangga yang berada persis di bibir pantai,karena disanalah SOLU (sampan kecil)peninggalan alm Ayah ku tertambat dengan rapi,setiap pagi sebelum matahari terbit aku harus sudah melemparkan jring penangkap ikan mujahir itu ke tengah danau(Tao) dan sore harinya aku kembali menganggkat jaring itu,seperti itulah tugas utamaku disela sela membantu Ibu di ladang,sepetak ladang yang selalu ditanami Bawang Merah,dan jika hasil tangkapan jaringku lumayan banyak,maka ibu selalu menjualnya ke Onan (Pasar)setelah itu ibuku membawa beberapa liter beras dari hasil menjual Ikan Mujahir itu,dan tak lupa,Ibu selalu membawakan ku oleh oleh Roti bulan kesukaan ku,ada rasa bahagia setiap kali melihat wajah Ibuku pulang dengan tersenyum dari Onan(Pasar)sembari memberiku oleh oleh roti bulan itu….
      Di Usia delapan tahun tepatnya kelas dua sekolah dasar,aku sudah hijrah ke Jakarta bersama Tulang(Paman),disanalah aku mulai tumbuh dan berkembang,remaja hingga dewasa,semuanya atas bantuan Tulang,semenjak aku menamatkan sekolah lanjutan atas(SLA) Negeri di bilangan jakarta Selatan,maka tibalah saat nya aku melihat sisi Dunia yang lebih luas,karena saat itu,seorang Lae ku(sepupu),anak dari Tulang itu sudah lebih delapan tahun tinggal di Negeri Paman Sam yang kesohor itu,Amerika Serikat,yang awalnya menyelesaikan study di salah satu Unversity dan bekerja paruh waktu(part time) disalah satu restoran milik keturunan Mexico,namun  semenjak ia lulus Universty telah bekerja di Perusahaan.
     Sejak kecil saya selalu menyukai seni,menggambar,melukis,mendengar musik dan menonton film,hingga remaja aku selalu rajin mengabadikan segala sesuatu yang kulihat didalam kemera saku sederhana,baik berupa foto maupun video durasi durasi singkat, kamera saku hadiah pemberian Tulang,ketika aku berhasil menggapai peringkat satu umum selama tiga tahun berturut turut di sekolah lanjutan pertama dulu, SLTP namun ternyata diam diam,Tulangku mengamati bakat yang kumili selama ini,singkat cerita,sejak lulus SLTA Tulangku mengirim ku ke California USA,dan untuk menuntut ilmu,yang sesuai dengan bakat yang kumiliki,tentunya orang pertama yang aku temui disana adalah Lae ku,anak dari Tulang tersebut,ketika pertama sekali Tulang mengutarakan rencana besar nya itu disela sela makan malam bersama kami beserta keluarga besar Tulang ku di Jakarta untuk mengirim ku study di USA,tiba tiba rasa mual serasa bergejolak dalam perutku,mual bukan kerena sakit perut atau karena keracunan makana,tapi oleh karena perasaan ku yang begitu terkejut dan senang nya bukan main mendengar rencana Tulang itu,aku mencoba bertanya kepada Tulang hingga tiga kali,benarkah aku mendengar ucapan Tulang itu ingin di kirim ke AS dalam rangka melanjutkan kuliah?namun Tulang berusaha meyakinkan ku,bahwa ini bukan mimpi akan tet mengunjungiapi kenyataan,maka saat itu juga aku memeluk Tulang dengan erat erat,dan menangis terharu,aku tidak tau lagi mengucapkan kata terima kasih kepada Tulang,atas semua pengorbanan yang begitu besar kepada ku.
      Dua hari kemudian aku minta ijin kepada Tulang untuk pulang ke kampung halaman di Samosir untuk mengunjungi Ibu,dan sekaligus inilah ini lah moment dimana aku pertama sekali pulang ke tanah kelahiran ku,dalam kurun waktu sepuluh tahun,sebelumnya selama 3 kali dalam rentang waktu itu Ibu lah yang datang  ke Jakarta,mengunjungiku dan mengunjungi para sanak keluarga dan family yang ada disini.setiba di kampung halaman,aku langsung memeluk Ibu,dan malam nya,aku baru mengutarakan maksud kedatangan ku mengunjungi Ibu,selain dari rasa kerinduan kepada Ibu dan kampung halaman tercinta.dan singkat cerita Ibu merestui keberangkatan ku ke USA,dan tak lupa ibu menyampaikan kata kata petuah,pesan dan Doa pemberangkatan ku ke esaok harinya,aku pun berjanji kepada Ibu,akan segera kembali,mengunjungi nya begitu study ku selesai disana.
      Dua hari kemudian akupun kembali ke Jakarta,dan selang waktu 20 hari,setelah urusan visa,paspor dan segala dokumen sudah rampung,ahirnya aku berangkat menuju Negeri impian Paman Sam,sebuah Negeri yang selama ini hanya ada dalam mimpi mimpi indahku,namun sebentar lagi impianku itu akan menjadi kenyataan,dan bukan sekedar mimpi semata lagi.
                                                                         *******
Hari selasa pagi,aku berangkat menuju Bandara Sukarno Hatta,diantar oleh Tulang beserta Nantulang dan langsung menuju terminal keberangkatan Internasional,tak sabar rasanya hati ini ingin segera duduk di seat pesawat air bus berbadan lebar yang akan membawaku menuju Amerika Serikat,yang terlebih dahulu Transit di bandara Changi  Singapura dan Dubai (Timur tengah),dari Dubai pesawatku langsung menuju Amerika Serikat,aku benar benar menikmati perjalananku ini yang sangat lama dan ber jam jam,dan beberapa jam kemudian,ahirnya pesawat yang ku tumpangi itupun mendarat di Bandara Jhon F Kennedy,badara terbesar di AS,yang sangat terkenal dan bersejarah dibangun pada tahun 1942.dan disana sepupu(lae) anak Tulangku yang tertua  sudah menunggu ku di terminal kedatangan,dan aku telah melihatnya berdiri dideretan pengunjung,”welcome to united states,,horas,,lae”sapanya dan langsung memeluk nya dengan erat,dari sana kami langsung melanjutkan perjalanan dengan melalui penerbangan domestik,menuju bandara Internasional San Diego yang terletak di negara bagian California,dan sekitar dua jam kemudian kami tiba disana,dan disana sebuah Taxi segera membawa kami ke kediaman sepupu ku ini,saat melihat pertama sekali kendaran dengan mengguanakan stir sebelah kiri,rasanya seperti serasa janggal dan kendaraan melaju di sebelah kiri,suatu pemandangan yang agak aneh saat pertama sekali aku melihatnya,terbalik dengan peraturan lalu lintas yang ada di kota kota besar di Indonesia dan kota kota besar lainya seluruh Indonesia.
Beberapa hari kemudian,aku bersama lae ku,mendaftar di sebuah insitut perfiliman yaitu Rochaster Institut of Technology,yang merupakan cabang dari Institut Rochaster yang berpusat di New York,dan disanalah aku menimba ilmu sebanyak banyaknya,tentang dunia per filim an,dengan mahasiswa yang berasal dari berbagai negara,dan singkat cerita beberapa tahun kemudian aku ahirnya menammatkan study di Institut tersebut,dan sepanjang menempuh pendidikan disana,aku bersama teman teman mahasiswa lain nya membuat beberapa film dokumenter dan film ber durasi pendek yang mengangkat tema sosial dan budaya yang diambil dari beberapa Negara yang masih memiliki akar budaya yang masih kuat,hingga suatu ketika,seorang sutradara film lokal yang berkebangsaan AS,mengajak ku berdiskusi untuk mengangkat sebuah film ber durasi panjang yang mengangkat tema budaya yang ada di Indonesian,dan dia bercerita sudah ketiga kalinya berkunjung ke Indonesia,diantaranya Bali,Lombok dan Samosir,saat itu pikiranku langsung tertuju kepada Budaya Batak,dan saya mencoba mengajukan untuk mengangkat sebuah film yang bertema budaya Batak,serta mengajukan beberapa konsep.
Dan setelah itu,dua hari kemudian kami mulai bekerja dengan dengan dengan beberapa tahap,diantaranya perencanaan,dana finansial yang besar,setting lokasi,per izinan dari pemerintah setempat,dan skenario yang akan dijadikan film.setelah kesemuanya sudah rampung,maka kami tinggal menentukan waktu yang tepat terbang ke Indonesia,bersama beberapa orang crew dan tehnisi,dari bandara Soekarno hatta kami langsung melanjutkan perjalanan ke Kota Medan hari itu juga,praktis tanpa Istirahat,dari Jakarta masih  membutuhkan waktu selama dua jam hingga sampai di Bandara Polonia Medan,berhubung pesawat yang kami tumpangi dari medan berjadwal sore hari,maka kami terpaksa menginap satu malam lagi di sebuah Hotel di dekat Bandara itu,dan ke esok harinya kami baru melanjutkan perjalan trlebih dahulu menuju kampung halaman,sebelumnya,Ibu telah kukabari tentang kedatangan rombongan kami dari Amerika.
      Pagi itu,kami sengaja men carter sebuah mobil dari salah satu rental mobil yang ada dikota itu untuk digunakan beberapa hari kedepan,dan sebuah mobil mini van,yang digunakan sekaligus,untuk mengangkut barang barang properti,siang harinya ahirnya kami tiba dikampung halaman,ada rasa haru yang begitu dalam,ketika aku memeluk Inang dengan erat erat,inilah moment pertama sekali kunjungan ku ke kampung halaman dan sekaligus tanah kelahiran ku di Samosir ini,satu persatu para rombongan kami ku perkenalkan kepada Inang,tentunya mereka hanya bisa mengatakan kata”Horas,,inang”kepada Ibu ku,sembari tersenyum,kampung kami ini tidaklah begitu istimewa dengan kehadiran para bule bule yang bertubuh tinggi besar,ber mata biru,dan ber rambut merah sebagaimana ciri ciri bangsa Eropa dan Amerika,karena dikampung kami ini sejak dahulu sering dikunjungi para Turis dari berbagai negara,sebagaimana turis yang melancong,dan kampung kami ini juga sering dilalui para Turis yang melintas dari Tomok maupun Tuktuk yang hendak ke Pangururan via Ronggur ni Huta.
Ke esok harinya kami baru memulai survey di Lapangan,dengan terlebih dahulu meminta izin ke pemerintah setempat,beberapa tempat yang akan jadikan syuting lokasi diantara nyaPusukBuhit.Buhit,Parapat,Tele,Sianjurmulamula,Tulas,Ronggurni Huta,Parbaba,Tomok,Tuktuk,Tongging,Onan Runggu,Nainggolan,Balige,Tarutung,Sipoholon,Pematang siantar dan Medan dan selanjutnya Pemilihan sosok karakter para pemain(Artis) yang akan terlibat langung didalam nya,dan termasuk diantaranya pemeran Utama dalam film yang akan kami garap ini,si Tiurma Simbolon,sebagai pemeran utama sengaja kami boyong dari medan,setelah melalui beberap tes dan seleksi pemilihan yang terlebih dilakukan dikota Medan,dan Maruli Silalahi pemeran Utama pria yang berasal dari pria kelahiran Samosir seorang mahasiswa semester 4 di salah satu universitas negeri di kota Medan yang mengambil sastra inggris,dan sebagai Orang tua kedua tokoh pemeran utama tersebut sengaja kami pilih para penduduk setempat kampung ku.
       Adapun judul film yang akan kami garap tersebut  adalah DALIHAN NA TOLU”,yaitu mengangkat kisah Adat dan Tradisi budaya batak yang berlangsung secara turun temurun,dari generasi ke generasi,yang tetap eksis hingga saat ini,dan selalau di jungjung tinggi sebagai plasafah hidut adat Batak,dalam film ini aka dijabarkan secara gamblang,bagaimana proses palsafah “Dalihan na Tolu”ini berjalan secara ber irama,dan terlihat dinamis dalam tatanan kehidupan batak toba pada umumnya,dimulai sejak,lahirnya seorang putra Batak yang bernama Maruli Silalahi,dari keluarga sederhana yang merupakan putra dari seorang bapak yang di daulat menjadi “Raja Parhata”dikalangan satu marga yang ada dikampung itu,dan kampung yang berbatasan tidak jauh dengan kampung kami itu,hingga maruli menginjakkan usia remaja,dan begitu juga dengan kehidupan sehari harinya,sebagai seorang,laki laki batak yang berasal dari keluarga sederhana,ayah nya hidup dari hasil bertani di sepetak lahan yang tidak terlalu luas,ditambah penghasilan sampingan sebagai nelayan penjaring ikan di Danau Toba,namun,Maruli selalu optimis dan yakin,meskipun dengan penghasilan yang sangat minim itu,Maruli mampu mencapai bangku kuliah di salah satu Universitas Negeri di kota Medan,namun di sela sela waktu kuliah nya dia memiliki pekerjaan sampingan,untuk mencukupi biayinya hidup yang setiap pertengahan bulan selalu kehabisan uang kiriman dari orang tua nya dari kampung halaman,untuk  itulah,dia menyiasat maka ia menyiasatinya dengan menarik becak dimalam hari,becak bang Dimin,tetangga kost Maruli di Gang Arjuna Medan.
     Disana akan diperankan kehidupan Maruli yang sangat pas pas an,serba minim,namun selalu ulet dan telaten dalam melakukan segalanya,termasuk dalam kerja sampingan nya itu,demikian pula semangat tingginya menuntut ilmu di bangku kuliah dan menggapai cita cita yang sejak kecil dia impikan.hingga satu waktu kemudian ia bertemu dengan sosok wanita sederhana sesama mahasiswa di universitas itu,Tiurma boru Simbolon,demikian namanya,seorang gadis cantik kelahiran Pangururan,Samosir,Putri tertua Pak Simbolon.keluarga terpandang dikampung itu,ayahnya seorang anggota  Dewan Kab Samosir,disini dikisahkan,bagaimana ahirnya Maruli jatuh cinta kepada Tiurma,namun ahirnya mendapat penolakan mentah dari orang tua si perempuan,namun Maruli tak pernah menyerah,ia selalu optimis,bahwa selama ia bersikap jujur,hormat,sopan dan selalu berpedaoman kepada Dalihan na Tolu,maka tak ada alasan untuk menyerah menghadapi orang tua kekasihnya itu,intrik dan kisah cinta ala pasangan muda khas Batak akan dipertontonkan disini dengan rinci dan sedetil mungkin,lengkap dengan setting lokasi dibeberapa tempat di pinggiran pantai Danau Toba,di dalam kapal dan di sebuah bukit yang menghadap langsung ke arah Danau Toba, yang eksotik semakin menambah  romantisme kisah cinta dua insan muda ini,serta ada canda,tawa dan suka duka.
Hingga ahirnya Marluli menikahi sang pujaan hatinya,disni,adat dan tradisi budaya Batak ditampilkan secara detil,dimana implementasi dan makna Dalihan na Tolu terlihat jelas,dalam pesta adat ini akan tampil siapa Tulang/Hula hula(pihak keluarga dari garis keturunan Ibu si Maruli,atau Paman,Dongan tubu,kerabat semarga dari garis keturunan Ayah,termasuk didalamnya kerabat satu kampung si Maruli,Boru,pihak dari keluarga saudara perempuan (Ito)si Maruli yang sudah menikah,dalam acara pesta pernikahan ini,ketiga makna yang terkandung dalam Dalihan Na Tolu,tampil secara bersama samaan dengan tugas masing masing yang berbeda,Pihak si empunya hajatan/pesta biasa disebut Hasuhuton Bolon,sedangkan pihak dari keluarga si Peremuan/mempelai wanita disebut Hula hula par boru,sedangkan yang bertugas di dapur ini adalah tugas utama Boru dari pihak yang punya hajatan.dalam prosesi pernikahan yang panjang ini,semua tampak jelas demikian juga saat Mangulosi(para hadirin undangan menyampaikan sehelai kain ulos kepada kedua mempelai)masing masing ulos memiliki nama yang berbeda beda namun menyimbolkan berkat dan anugrah dari TUHAN….
(Bersambung….)

Tentang Bresmansilalahi

Belajar dari hal yang sangat kecil dan sederhana,untuk menemukan sesuatu yang lebih besar dan bermanfaat.
Pos ini dipublikasikan di Kisah dan tag , , . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s