Oppung Par Batang


Oppung par Batang,,demikian julukan nya dikampung itu,entah sejak kapan panggilan itu melekat pada dirinya,seorang kakek tua yang tinggal menyendiri di rumah berpanggung tanpa polesan cat dan terlihat kusam dan kumuh,rumah itu terletak di ujung kampung kami,seingatku sejak aku lahir,orang2 dikampung memanggilnya Oppung Par Batang,setidaknya itulah nama panggilan yang kutau sejak aku lahir dikampung itu
Konon sebutan atau Panggilan “Par Batang” disematkan kepada kakek/Opung ini oleh karena kelihaian nya yang menjadi aktifitasnya setiap harinya,disela sela menggembalakan 2 ekor kerbau miliknya ditanah lapang yang ber rumput hijau,yaitu membuat Peti mati Jenazah atau dalam bahasa batak disebut (Batang),konon kehadiran Oppung Batang awal nya di kampung kami menjadi gunjingan,dimana setiap Oppung Batang selesai membuat satu Peti Mati(Batang)maka bisa di tebak,tak lama kemudian pasti ada penduduk kampung itu yang meninggal dunia,entah secara kebetulan atau memang ini sudah di prediksi oppung batang jauh jauh hari sebelum nya,namun terbukti sepanjang perjalanan hidupnya kurang lebih 8(delapan) Peti Mati yang dihasilkan oleh Oppung Batang kelak menjadi peti mati yang digunakan oleh para orang tua yang meninggal dalam kurun waktu yang berbeda beda dikampung itu,akan tetapi.
Akan tetapi di usia Oppung Batang yang semakin Ujur,tua dan Ringkih,tangan nya yang kurus dan hitam legam srta urat urat tangan nya yang menonjol,seolah menyiratkan segala perjalanan hidupnya,dari Zaman ke jaman,mulai dari era sukarno,suharto,habibi megawati dan gusdur,semua dia lalui penuh dengan kesendirian di temani 2 ekor kerbau peliharaan nya,sunyi dan menyendiri demikian lebih tepatnya sifat Oppung par Batang ini,adakalanya dia duduk menyendiri dibawah Pohon Hariara yang rindang dan teduh(sejenis Pohon Beringin)yang ada diatas sungai kampung itu,terkadang bernyanyi,namun tak jelas lagu apa yang sedang ia senandungkan jika saya menduga itu lagu lagu Opera jaman dulu.dan tak jarang pula disela sela lamunan nya,anak anak sekolah dasaryang kebetulan melintas dihadapan nya suka menggoda goda Oppung Batang ini dengan menyebut”Ise muse na naeng mate oppung?”(siapa lagi yang akan meninggal oppung?)namun sikap si oppung Batang ini selalu ternsenyum dan terlalu banyak mau berbicara,menurut penuturan orang2 tua sekampung,tak ada yang mengetahui jelas dimana dan siapa saja kerabat dekat oppung Batang ini,hanya satu yang melekat sebagai identitas pada dirinya yaitu marga yang ia sandang
Diahir menjelang perjalan hidup si Oppung Batang,sepertinya memang ia sudah mengetahui ajalnya yang semakin dekat,4 bulan menjelang si Oppung Batang meninggal dunia ia telah mempersiapkan segala sesuatunya,dimulai dari menebang pohon Jior(sejenis pohon trembesit)pohon yang sangat terkenal keras dan kuat,memotong dan menggergaji,hingga menjadi beberapa lembar Papan,dan menjemur di depan rumahnya,seperti biasa ketika oppung Batang mulai menjemur papan di depan rumahnya maka stiap orang yang kebetulan melintah darisana akan bertanya tanya,siapa gerangan yang akan meninggal dari kampung halaman ini,seketika ada rasa kekawatiran kepada orang orang sekampung,namin meskipun demikian tak ada yang berani menayakan langsung kepada oppung Batang,hanya anak anak kecil yang suka menggodanya lah yang berani menayakan demikian kpda oppung batang,meski tak pernah ia jawab.lambat namun pasti,peti (batang)terahir telah usai dia kerjakan dengan rapi,beberapa hari kemudian,sosok Oppung Batang semakin jarang terlihat,bahkan tempat ia biasa menghabisakan sore hari dibawah pohon Hariara itu pun tang pernah lagi muncul,demikian juga dengan kerbai miliknya,sudah beberapa hati tertambat dibelakang rumahnya,orang2 kampung sekitarpun semakin penasaran apalagi melihat pintu rumah dan jendela sudah beberapa hari ini tak pernah terbuka,dengan inisiatif orang2 sekampung maka rumah Oppung Batang berhasil dibuka dengan cara didobrak,maklum pintu rumah itu dikunci dari dalam dengan Palang melintang yang terbuat dari kayu yang keras.benar sudah dugaan orang sekampung,bahwa Oppung Batang telah meninggal dunia,dan persis terbaring di dalam Peti Mati(Batang)yang telah lama dia persiapkan.teka teki orang kampung selama ini pun terjawab sudah,bahwaa peti mati yang terbuat dari pohon Jior itu menjadi peti mati Oppung Batang untuk terahir kalinya sekaligus peti Mati buat dirinya sendiri…..Demikian.
CATATAN:(empat tahun yang lampau kisah mirip seperti Oppung Batang ini pernah dimuat diharian Nasional terbitan Ibukota,dalam Rubrik cerpen,namun tidak dijelaskan secara detil kisah itu berasal dari daerah mana)
Terimakasih….
*Bekasi 29/03/2011,Bresman Silalahi*

Tentang Bresmansilalahi

Belajar dari hal yang sangat kecil dan sederhana,untuk menemukan sesuatu yang lebih besar dan bermanfaat.
Pos ini dipublikasikan di cerpen dan tag , , . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s