Kado Natal itu bernama Laricchi


Kado Natal itu bernama Laricchi.S

Jika ada yang mengatakan bahwa,menunggu adalah pekerjaan yang sangat membosan kan,namun kali ini tidak,karena sesuatu yang ku tunggu kali ini serasa istimewa,
Hari itu aku sengaja berangkat dari rumah,menuju P.Siantar,tepatnya di simpang dua Simarimbun,tempat dimana kami telah sepakati sebelumnya untuk bertemu,setengah jam berlalu,untuk mengusir kebosanan ku,sengaja aku mampir di sebuah kedai,dan menikmati segelas kopi di sore hari itu,menit berlalu hingga satu jam,dan baru saja sesorang yang ku tunggu itu mengirimkan sebuah pesan singkat kepada bahwa posisinya sudah memasuki kota Pematang Siantar,setelah Bus yang ia tumpangi dari Medan,memasuki daerah Sinaksak
Laricchi,demikian namanya,sebuah nama yang menurutku sangat menarik,sekaligus sedikit unik,dan tentunya memiliki makna dibalik nama tersebut,seorang gadis cantik,dengan model rambut panjang dan berponi,yang menurutku bak seorang gadis Jepang,tapi yang ini tidak mengenakan pakaian Kimono,turun dari sebuah Bus berwarna Biru langit,serrr,,,,,,,tiba tiba jantungku berdegup kencang,saat pertama sekali melihat nya,dengan mengenakan baju berwarna pink dengan motif bunga bunga,dan celana Jeans berwarna biru muda,menenteng sebuah tas warna putih garis garis digapit diantara bahu nya plus selendang berwarna coklat tua melingkar di leher,sungguh saat itu aku merasa kala PeDe,saat pertama sekali melihat nya turun dari Bus itu,aku tidak menyangka bahwa yang tampak dan berdiri di depan mataku dengan jarak 20 meter adalah sosok nyata dari seorang Laricchi yang ku kenal selama ini melalui telepon dan Yahoo mesangger,meskipun kami beberapa kali melakukan tatap muka secara langsung melalui video call di yahoo mesangger,namun kali ini tampak sangat berbeda.”wah,,ternyata dia memang cantik,,”batinku sambil menatap nya dari kejauhan.
Sengaja aku tak langsung menghubungi nya ketika aku sudah melihatnya turun dari bus itu,aku masih ingin meyakin kan bahwa sosok yang ku lihat itu adalah Laricchi yang seutuh nya,aku melihat dia bak seorang yang kebigungan dengan pandangan mata yang mencari cari,sesaat kemudian dia menghubungi ku,dan tangan kanan ku kulambaikan sebagai isyarat,dimana posisiku sedang menunggu.
“Horas,,bang,,”sapa nya sambil kami bersalaman setelah dia menyebrang dan menghampiri ku
“Horas,,juga dek,,jawab ku menyambut penuh semangat..
aku melihat senyuman manis nya mengembang,dan dihiasi lesung pipit disebelah kirinya,seakan membuatku semakin mabuk kepayang kala itu,
“maaf ya bang,,bus nya lelet dari di jalan,lama nunggu nya ya,,?sambung nya lagi dengan sedikit manja..
“oh,,ga apa apa kok dek,menunggu seorang Tuan Putri secantik kamu yang dikirim dari Surga,tak tersa membosan kan buatku,jangankan satu jam,lima jam bahkan seharian pun aku pasti setia menuggu mu,jawabku bercanda dan sedikit merayu  kepadanya,ia pun tertawa lepas dan tersenyum dengan lesung pipit nya yang manis itu,dia tau bahwa aku memang selalu memuji lesung pipit nya itu.
Tak lama kemudian kami pun berangkat, sebelum nya dia membelikan beberapa kotak Kue Ganda untuk oleh oleh ke Rumah ku,kebetulan saat itu keluarga besar kami  lagi kumpul bersama di rumah,sepanjang jalan dari Siantar menuju Sidamanik,sesekali kami bercanda dan tawa diatas sepeda motor,sepeda motor peninggalan Almahum Ayah kami,ada damai dan ketenangan saat dia berada didekapan ku,sesekali tangan nya ku raih untuk memeluk pinggang ku diatas laju sepeda motor itu,aku tau dia masih canggung,karena ini adalah pertemuan kami pertama kalinya.
Tiba di Sidamanik,sengaja aku mengajak nya makan di sebuah warung makan,dan sekedar bercerita sejenak,disana aku mencoba bertanya kembali kepadanya untuk meyakinkan diriku,bahwa sikapnya berubah atau tidak setelah bertemu dengan ku,dan dengan tegas dia jawab “tak ada yang berubah bang,,aku akan selalu komitmen atas pernyataan yang pernah ku sampaikan kepada abang,,”
“Terimakasih dek,,jawab ku singkat,dan ku coba meraih tangan nya dalam genggaman ku serta menatap sorot mata nya dalam dalam,hingga beberapa detik,hingga ahirnya sodoran piring dan cuci tangan ke meja kami membuyarkan moment itu,ah,,,menggangu saja,,gerutuku dalam hati…
Dari sana kami melanjutkan perjalanan sekitar duapuluh menit ke rumah,di Ambarisan,disana keluarga besar ku telah menunggu,kebetulan saat itu beberapa abang ku juga sudah tiba di kampung sama seperti ku,pulang dari tanah perantauan yang bertepatan dengan hari Natal,saat tiba aku memperkenalkan keluarga besar ku semua kepada nya,mulai dari Ibuku,abang abang ku,saudara iparku dan keponakan ku,dia menyalami satu per satu…
suasana ke akraban pun terlihat disana,malam menjelang tidur,ibu ku sengaja mengajak nya sekedar ngobrol,menayakan tinggal dimana,kegiatan nya apa,dan ibunya boru apa,dan entah apalagi yang ditanyakan ibu ku pada malam itu.
Ke esok harinya,saat pagi masih diselimuti oleh dinginnya embun pagi dikampung kami,aku mengajak nya ke makam Ayah ku,ketika aku berdiri didepan pusara Ayahku,sejenak aku tertegun dan terdiam,didalam hati ada rasa kerinduan yang mendalam,seketika ingin rasanya aku berteriak memanggilnya,dalam hati aku aku berkata.
“Horas Among,,aku telah datang untuk kedua kalinya ke kampung ini,dan kali ini aku datang bersama seseorang yang kusayangi,seseorang yang sebenarnya ayah tunggu tunggu sejak dulu,pagi ini dia telah ku hadirkan disini ayah,aku tau semua itu tidak adalagi gunanya,aku sadar karena sampai kapan pun ayah tak akan pernah lagi melihat seorang gadis yang menjadi pendampingku,meskipun kelak Tuhan mempersatukan aku dengan dia,hari ini aku hadir sekaligus meminta restu dari  mu Among..”
Usai dari makam Ayah ku,kami kembali ke rumah,dan saat menjelang siang aku sengaja mengajak Laricchi ke sebuah Dolok panatapan yang jarak nya kira kira 30 menit dari kampung kami
sebuah bukit di dataran tinggi,yang menghadap langsung ke danau Toba,bukit yang menghampar  hijau bak permadani,dan ditumbuhi pohon pinus,sesekali terdengar deru dan mendesis akibat hembusan angin didahan pinus tersebut,yang saat itu ditutupi embun yang menusuk hingga ke tulang tulang,duduk dibawah pohon pinus,sambil bercerita panjang lebar hal tentang diriku,sesekali hembusan angin menerpa wajah dan rambutnya yang ter urai panjang,dan seketika itu juga aku merapikan nya kembali,sekitar satu jam kami berada di dolok simarjarunjung ini,,aku jadi teringat akan sebuah komentar Laricchi yang kala itu aku meng upload sebuah foto panorama di facebook yang lokasi foto itu ada di Simarjarunjung ini,dan di sertai teks sebagai deskripsi dari foto tersebut,dimana foto itu aku ambil ketika kepulangan ku yang pertama saat Ayah kami meninggal Dunia,dari sini lah awalnya dia penasaran tentang sisi romantisme dari sebuah Simarjarunjung ini.
Awal dari perkenalan ku dengan laricchi adalah melalui catatan catatan yang sering dia muat di akun facebook,setiap tulisan yang dia publish kan ke fb,aku secara diam diam selalu membacanya satu demi satu,dengan gaya bahasa yang sebenarnya susah untuk ku ikuti,bahkan untuk membuat satu catatan yang panjang nya kira kira 3 lembar,dapat dia tuliskan dalam waktu yang relatif singkat,yang ahirnya timbul rasa kagum ku kepada nya.hingga suatu ketika ia menuliskan satu cerita yang menurutku sangat panjang,dalam cerita itu aku aku benar benar terkesan dalam alur ceritanya,hingga ku beranikan memberi satu komentar dan menayakan kisah ini di sadur dari mana,namun malah sebaliknya,bukan respon yang baik yang kudapat,dia bahkan sempat membenciku karena aku menyebut tulisan itu hanyalah sebuah saduran yang tidak dicantumkan siapa penulisnya,ahirnya akupun sadar bahwa catatan itu berasal dari buah pikiran dan imajinasinya secara Orisinal…
demikianlah awal dari perkenalan kami,dan dilanjutkan dengan komunikasi yang semakin intens…
Dari dolok Simarjarunjung,aku membawanya turun,ke arah Danau Toba,melewati kelokan kelokan tajam yang dia sebut sebagai”tikungan Manis”hingga setengah jam kemudian kami tiba disebuah bibir pantai,pantai yang berbatu,dan dengan latar belakang sebuah tanjung yaitu Tanjung Unta,ketika tiba disini maka aku teringat akan sebuah kisah masa lalu yang pernah ku tuliskan berjudul”Boru ni da tulang“dan semua kisah dalam catatan itu seakan terulang kembali setelah kehadiran Larichi disisiku,dan kehadiran Laricchi di tepi pantai itu,disana kami sempat mengabadikan beberapa foto sebagai dokumentasi,dan kenang kenangan dan beberapa diantaranya adalah foto yang menyartai catatan ini.
Waktu pun menjelang sore,dan dari sini kami kembali pulang ke Ambarisan,dengan membawa sejuta kenangan dari Simarjrunjung dan bibbir pantai Danau Toba.
Esok harinya tepat tanggal 30 desember pagi,kami bersama keluarga abang ku,kembali ke Jakarta,dengan terlebih dahulu ke Medan untuk mengantarkan kaka ipar ku ke bandara Polonia Medan,sekaligus membawa Laricchi pulang ke Tanjung Morawa,sepanjang jalan,dari kampung hingga ke Medan,aku duduk persis disampingnya,ada rasa bahagia sekaligus sedih,bahagia karena saya ahirnya kini bisa bertemu dengan nya,menatap langsung bahkan menggemgam tangannya,bertatapan bukan lagi melalui video call,akan tetapi secara langsung,dan sedih karena hari itu saya akan kembali lagi ke tanah perantauan ku yang jauh disana,kami akan kembali terpisah oleh jarak sekitar 2230 kilometer,berbeda pulau dan diseberang selat Sunda,saat mendekati Tanjung morawa,perasaan ku semakin gelisah,hingga ahirnya membuatku menjadi terdiam,dan sesekali ia menggemgam tanganku,seakan memberi isyarat pamit,sebelum tiba di tempat dia turun dia membisikkan “dalam waktu yang tidak lama kita akan bertemu kembali bang”ucap nya ditelingaku dengan lembut,sebuah ucapan yang hingga kini ku pegang bak sebuah janji.
Mendekati sebuah perempatan jalan ahirnya dia pun Turun dari Mobil dan pamit kepada abang dan kaka iparku,tak lupa ia mencium tangan ku sebagai perpisahan,dan kubalas dengan ucapan“aku akan selalu merindukan mu”dengan lembut saat ia tertunduk,dari balik kaca jendela berlapis hitam aku menatapnya hingga di kejauhan sampai hilang dibalik mobil mobil yang berseliweran di kota itu,dari Polonia perjalanan kami lanjutkan menuju kembali ke Tebing tinggi dan Kisaran,hingga menemukan kembali Jalur Lintas Timur untuk meneruskan kembali perjalanan menuju Jakarta,perjalanan darat yang masih panjang dan sangat melelahkan,alhasil jalur lintas timur dan tepat berada di daerah Rengat Riau,menjadi tempat menghabiskan malam Tahun baru,tepat di sebuah Pom Bensing,sebuah pengalaman yang tak pernah ku rasakan sebelumnya,namun itulah perjalanan,segalanya tak dapat ditebak,sama halnya dengan perjalanan hidup yang penuh dengan misteri dan liku liku kehidupan.
Dua hari tiga malam,ahirnya kami tiba kembali di tempat Perantauan ini,tempatku mengadu nasib dan mencari peruntungan hidup.
Terimakasih TUHAN atas penyertaian MU,dalam perjalanan kami,dan terimakasih juga kami ucapkan atas berkatMU kepada kami semua,kepada OrangTua kami,saudara2 kami yang semuanya sehat tak kurang satu apapun sejak kami tiba di kampung halaman hingga kami kembali ke tanah Perantauan kami ini.
Demikian….
*Catatan ini sekaligus Kodo Valentine ku buat Laricchi*

Oleh:Bresman Silalahi.
Bekasi 03/02/2011

Tentang Bresmansilalahi

Belajar dari hal yang sangat kecil dan sederhana,untuk menemukan sesuatu yang lebih besar dan bermanfaat.
Pos ini dipublikasikan di Kisah dan tag , , , , . Tandai permalink.

2 Balasan ke Kado Natal itu bernama Laricchi

  1. guzel berkata:

    wow………….

    romantisme yang menarik..
    akhirnya kk q..
    kak deLLa
    punya ehem..ehem..juga ea…
    selamat2…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s