Ketika aku Tersandung


Nama ku adalah Tonggo,dalam bahasa batak simalungun artinya Doa,aku adalah Putra tertua dari 4 bersaudara,entah apa dulu dalam pikiran kedua orang tua ku hingga memberiku nama Tonggo,nama yang tidak pantas aku sandang selama ini,umurku saat ini 32 thn,berangkat merantau dari sebuah kampung yang sunyi dan terpencil saat usiaku menapaki 15 thn,tepatnya kelas 2 SLTP

Dalam usia yang sangat belia,aku diharuskan berangkat ke satu tujuan yang tak pernah ku ketahui sebelum oleh karana sebuah pertengkaranku dengan Ayahku kala itu,bahkan tempat yang akan ku tuju tidak pernah kulihat dalam peta buta yang di aj…arkan Pak Nainggolan ketika sekolah dasar dahulu,yang ku tau hanya nama,Pekan Baru,Batam,Sibolga,belawan,pelabuhan merak,terminal pulau gadung(JKT)hingga Senen,tempat dimana aku tinggal hingga kini.

dalam pelarian panjangku kota jakarta adalah kota yang terlama ku singgahi,ber awal dari pertemuanku dengan seorang yang semarga dengan ku,ketika malam hari aku duduk kedinginan di selasar sebuah bioskop tua perempatan senen,malam pertama sekali aku sampai dikota Metropolitan ini,rasa senasip sepenanggungan terlebih kami masih satu marga,ahirnya ia membawaku ke rumah kost kost an nya di dekat pinggiran rel jakarta pusat,saat pertama kali tiba disana,aku melihat beberapa teman nya sedang pesta minuman keras,sekitar 5 orang,aku sempat ragu,namun sahabat ku ini berhasil menenangkan keraguan ku,sampai ahirnya kami minum bersama sampai memabukkan hingga menjelang pagi hari.

Esok harinya sekitar pukul 10 pagi aku harus memulai aktifitas seperti yang dilakukan oleh mereka2,mereka mereka para sahabat baruku ini,yaitu mangkal di sebuah terminal yang sebelumnya sama sekali tak kumengerti arti dari aktivitas ini,yang pasti ketika itu,aku hanya disuruh duduk dibawah sebuah jembatan penyebrangan,hingga tak lama kemudian dengan perasaan masih bertanya tanya,tiba tiba seorang teman sambil berjalan santai menyelipkan sebuah dompet berwarna coklat ketangan ku ditengah keramaian orang yang berlalu lalang.

Reaksi pertamaku adalah ketakutan sekaligus gemetaran saat memegang dompet itu,selang 2 menit kemudian suara teriak Copet,,,,terdengar dan menuju ke arah ku,dengan refleks ku buang dompet itu ke arah jalan raya,namun naas,beberapa orang melihatku,tak ayal,akupun harus merasakan sakitnya dikeroyok ramai ramai oleh orang,tak terhitung berapa kali bogem mentah mendarat di sekujur tubuh dan wajah ku,bahkan teriakan pembelaan kupun tak seorang pun yang mendengarkan ku,aku babak belur dan nyaris mati saat aku dibawa ke kantor Polisi,dompet itu ahirnya membawaku menghuni sel tahanan selama tiga tahun,dan aku akan menerima nasib sebagai seorang eks narapidana oleh karena perbuatan yang tidak pernah ku lakukan.

Sejak aku ditahan di sel polisi,praktis tak ada seorang pun yang menjenguk ku diantara teman2 baruku itu,sepanjang malam aku menangis meratapi nasib ku,dibalik sel penjara yang dingin dan penuh arogansi ini,aku merasa di jebak dan di hianati,hingga beberapa bulan kemudian ahirnya aku dipindahkan ke Lembaga pemasyarakatan,disinilah baru aku mendapat kunjungan dari teman2ku itu,mereka selalu memberiku semangat,bahkan mereka juga menjelaskan duduk permasalahan nya kenapa bisa sampai begini,dan terahir aku tau mereka secara sukarela mengumpulkan uang mereka untuk mengurangi hukuman yang akan saya jalani.

Tiga tahun kemudian aku bebas,aku menangis ketika pertama sekali melewati portal pintu keluar LP itu,aku pun berjanji tidak akan menginjakkan kaki di tempat dimana aku nyaris mati konyol dan babak belur.namun dibalik dari itu semua,aku memetik nilai posifnya,aku semakin selektif dalam bergaul,meskipun ahirnya teman2 yang dulu menjadi sahabat baik ku dua orang diantaranya,biar bagaimana pun aku menyadari,ini adalah bagian dari perjalanan hidup yang harus ku lalui,sekalipun itu semua menyakitkan buatku.

Didalam lubuk hatiku yang terdalam,aku selalu merindukan kedua orang tua ku dikampung halaman,tujuh belas tahun aku tak pernah bertemu dengan nya,terahir kali nya aku berkomunikasi dengan ayah ku sekitar 1 tahun yang lalu,namun dengan nada masih marah dan membenci ku,ayah ku mengatakan lebih baik aku tak usah pulang ke kampung halaman ini lagi,namun ibuku selalu merindukan ku,setiap kali aku menelepon ibuku,aku selalu menangis,demikian juga dengan nya.

Dan kini aku harus menghadapi masalah baru yang dilematis,yang membuatku selalu bingung,aku bertemu dengan seorang gadis,yang ahirnya menjadi kekasih ku,satu tahun telah kami jalani,dan niat untuk menikah pun telah kami rencanakan,namun kembali aku akau akan mempertanyakan,kubawa kemana lah kekasihku ini?ke kampung??aku masih ragu dan bingung dengan sikap ayah ku yang masih tetap tak mau menerima kepulangan ku…

Demikian….

*Kisah nyata dari seorang sahabat bernama Tonggo.S*

Catatan:Sumber foto yang melengkapi catatan ini di ambil dari Google

Bresman S

Tentang Bresmansilalahi

Belajar dari hal yang sangat kecil dan sederhana,untuk menemukan sesuatu yang lebih besar dan bermanfaat.
Pos ini dipublikasikan di Uncategorized dan tag , . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s