Iboto ku Boru Tambunan


Tigabelas tahun yang lampau,Kota Medan menjadi kota tempat dimana aku Tinggal dan menuntut ilmu,tainggal di sebuah Rumah kost di daerah Padang Bulan Gg Medan Area No 36.berlantai dua dan berbatasan langsung dengan tembok Universitas Sumatera Utara,tembok pembatas setinggi 2 meter diatas nya tertanjap kawat duri berkarat,disebelah nya langsung pekarangan Rumah Dosen Universitas tersebut,sebuah pekarangan luas yang ditananmi pohon Pisang,jambu kelutuk dan singkong.

Sudah Dua Tahun tepatnya aku tinggal di rumah kost kost an ini,atau lebih tepatnya aku menginjjak kelas dua SMK,aku adalah satu satunya penghuni kost yang tinggal di Rumah kost ini yang masih bersatatus SLTA,selebih nya adalah para Mahasiswa dan mahasiwi Universitas Sumarera Utara dan dua orang berstatus Pegawai di Pengadilan Tinggi Negeri Medan.

Lantai bawah mayoritas dihuni oleh para Mahasiswi Putri beserta pemilik rumah(Induk semang)dan di atas dihuni oleh para Mahasiswa Putra.

Anak kost yang menghuni di Rumah kost ini berjumlah 23 orang,yang kesemuanya adalah Orang Batak dan berasal dari berbagai Daerah diantaranya.Duri,Pematang Siantar(Sidamanik,Tanah Jawa,Tomuan),Raya,Tanjung Balai dan Tebing Tinggi.dan penghuni yang datang terahir adalah berasal dari Sidikkalang kab Dairi,yaitu Boru Tambunan.pada awalnya dia datang menjadi penghuni baru di tempat kami ini,sepertinya memang ada rasa sedikit gengsi,dalam hati”ah,,masak penghuni lama yang menyapa duluan penghuni pendatang baru,,?”meski saat itu aku sadar bahwa penghuni paling bontot di rumah itu adalah aku.

Namun Pada hari yang kedua,entah mungkin inilah yang disebut dengan “Makkuling do mudar”ketika aku pulang dari sekolah,Ito boru Tambunan Tadi sudah menunggu ku di ujung Tangga Lantai Dua,ketika aku menaiki tangga,dan mendekat dengan ito itu,dia langsung menyapa ku dengan penuh senyuman

“Horas Uda,,,”sapanya sembari menarik tangan ku

“Horas juga ito,,jawab ku,,kok manggil uda?tanyaku penasaran

“Aku boru Tambunan” ito,jawab nya semangat

“Bah,,horas ma tutu Namboru,,aku Silalahi Tolping,,” jawab lagu singkat

“ia Uda,,aku tadi nanya kak Dewi dibawah,,”ia menyebut kak Dewi boru Sembiring yang merupakan penghuni senior di kost an ini,

“makanya aku tungguin uda di atas,,”jawab nya lagi.

“ah,,aku aja masih STM ito,manggil ito aja lah ya,,?protesku kpda ito itu dengan senyum

aku dapat melihat ekspresi wajah ito itu ketika pertama sekali kami bertemu,penuh dengan kegembiraan,demikian hal nya dengan ku,aku seolah menemukan Ito kandung ku secara nyata.

Singkat cerita kami saling memerhatikan,dan dia juga sangat perhatian sekali padaku,hingga seorang mahasiswa Fak Ekonomi di USU,marga Sianipar,yang kamarnya persisi berhadap hadapan dengan ku,sempat berpikiran kami berpacaran,itu karena dia belum tau antara Silalahi dengan Tambunan,adalah saudara bahkan memiliki history yang sangat meng eratkan.akan tetapi lama kelamaan dia mengerti juga…

Suatu hari tepatnya dipenghujung bulan,berhubung masa untuk pulang kampung masih 4 hari lagi,maka strategi untuk mempertahankan hidup pun dirancang,dan uang yang tersisa hanya delapan ribu rupiah,beras yang kubawa dari kampung untuk bekal selama sebulan ludes sudah,mau pinjam uang tetangga kost?sama saja bodong toh mereka juga kondisi keuangan nya sama sepertiku,uang yang tersisa delapan ribu pun segera di simpan didalam buku,yang hanya cukup untuk ongkos pulang hari sabtu yang akan datang,hal yang memprihatinkan ini sudah biasa buat ku dan beberapa penghuni kost lain nya.

Hari pertama makan siang dan makan malam pun lepas,karena kebetulan teman satu kelas ku kala itu mengajak ku kerumahnya di daerah Perumnas Mandala,yang tidak terlalu jauh dari sekolah ku,di daerah Letda Sujono.namun esok harinya,mau tidak mau demi mempertahan kan hidup dan perut sejengkal ini,pekarangan Dosen yang berada dibalik tembok kost an kami ini pun menjadi sasaran,siang hari nya aku bersama dua orang penghuni lain nya dengan nekat melompat tembok dan mencuri jambu kelutuk yang berbuah lebat dan besar besar dipekarangan Sang Dosen itu,satu kantong besar warna hitam.alhasil perut yang sedari tadi kelaparan dapat mengganjal perut hingga tiba malam hari nya,namun malam harinya perut memang selalu tak bisa kerja sama dengan keadaan yang lagi krisis,kali ini kami mencabut beberapa batang Singkong yang ditanam dipekarangan sang dosen tersebut,seingatku ada sekitar empat pohon yang kami cabut,yang buah nya tidak seberapa.dan singkong ini lah kami rebus untuk mengganjal perut malam itu.

Situasi kalaitu selalu melekat dalam ingatan ku,dimana aku dan beberapa penghuni mahasiswa harus mencuri singkong Sang dosen dari pekarangan Rumah demi mempertahankan Hidup.Namun pada hari ketiga ketika aku pulang dari sekolah sepertinya aku sudah kehilangan strategi,dan badan yang sudah lemas,tak banyak lagi yang dapat kuperbuat,ketika aku duduk diatas teras lantai dua kost an itu,saat perut sudah sangat kelaparan disertai keringat dingin,tiba tiba ito ku Boru Tambunan itu Naik ke atas dan memberitahukan bahwa tadi pagi jam sembilan istri si Dosen marah marah dari balik tembok pekarangan nya,karena Singkong dan jambu dipekarangan nya telah kami curi,

“ito,,emang siapa yang mencuri singkong dosen itu,,”?tanya itoku itu padaku penasaran..

“aku ito,bersama si ini dan si itu aku menyebut nama dua orang penghuni kamar kost lain nya,habis nya ga ada lagi uang ku buat makan,,beras yang aku bawa dari kampung pun sudah ludes,makanya kemaren dan tadi malam kami cabut empat batang singkong itu,daripada tidak makan ito,,?jawabku kepada Ito boru Tambunan itu sembari tangan ku menunjuk ke arah pekarang Dosen itu dengan polos..

“kenapa ito tidak bilang sama ku,,?dia setengah membentak ku,namun aku hanya diam di samping nya..

“sito ini ada ada saja ebenarnya aku ini ito anggap sebagai ito atau teman biasa,,?sambung nya lagi.aku tau ito itu sangat kesal sama ku,seolah olah dia menganggap tak ada guna nya dia boru Tambunan tinggal satu kost an dengan ku.

dan yang paling mengagetkan ku saat ito itu menangis di depan ku sambil mengatakan.

“Bapak selalu berpesan sama ku ito,setiap bertemu dengan marga Silalahi kau harus anggap itu sebagai bapak mu,dan bapak pernah bercerita tentang hubungan yang begitu denkat antara Silalahi dan Tambunan”

“Ia ito,,aku minta maaf,,”jawabku sambil tertunduksebentar dia pamit untuk turun kebawah,dan tak lama kemudian dia menghampiri ku kembali,dan bertanya

“Ito sudah makan,,?

“belum ito,,”jawabku datar..

“oh,,”jawab ito itu singkat dan pergi meninggalkan ku tanpa sepatah kata

namun lima menit kemudian dia menghampiriku kembali dan membawaku sebungkus nasi padang dan tebakan ku nasi padang ini dibeli dari jalan Jamin Ginting dekat kost2 an kami yang terkenal mahal itu.jujur saja,saat itu ada rasa haru sekaligus salut kepada ito ku ini,ternyata dia sangat memperhatikan ku,lebih dari apa yang kuduga,dan di dalam katong plastik bungkus nasi itu terselip uang selembar 20.000 an,dan saat aku usai makan,aku kembalikan uang it,aku berpikir itu kembalian uang mebeli nasi padang yang lupa dia kantongi,namun saat kuberikan pada ito itu dia menolak dan semakin marah karena aku berusaha mengembalikan nya.ahirnya uang itupun aku masukkan dalam saku

“kapan pulang kampung ito,?tanya nya padaku

“besok ito,,”jawabku saat hendak naik ke lantai dua.

Ke esok hari nya saat aku hendak pulang kampung ke Sidamanik,sebagaimana biasanya untuk mengambil bekla dan uang sekolah,ito ku itu menitipkan empat kaleng susu,satu bungkus kopi sidikkalang dan satu bungkus gula.

“bawa ini ya ito,ini oleh oleh buat Bapa Tua dan Inang Tua dikampung,,”katanya sembari menyodorkan kantong kresek berwarna hitam.

“Terima kasih ya ito,,”jawabku penuh haru,saat tiba di kampung aku menceritakan semua tentang ito br Tambunan ini kepada bapak dan ibu ku,mereka sangat terkesan,dan haru mendengar penuturan ku tentang ito itu Boru Tambunan ini,dan menyuruh ku untuk mengajak ito itu datang ke Rumah kami,dan tak lupa saat aku hendak kembali ke Medan esok harinya,bapak dan ibu ku menitipkan salam buat ito ini.

*Empat Bulan kemudian*

Anak kost sangat identik dengan Mie Instant,setidak nya ini penilaian ku pada masa itu,pagi sarapan indomie,siang makan indo mie,begitu juga dengan malam hari nya,maklum,ini satu satu nya makanan praktis untuk ukuran kost sekelas saya,hingga suatu hari aku harus tumbang dan jatuh sakit oleh karena terlalu sering mengkomsumsi Mie instant ini,alhasil aku terkapar tak berdaya selama tiga hari di kost an,dan lagi lagi ito ku boru Tambunan ini lah yang selalu setia merawatku,mulai dari membawaku ke klinik,menebus obat membuatkan bubur dan dan itu semua atas biaya dari saku pribadi itoku itu,hingga ahirnya aku pulih kembali.

Aku benar benar sangat kagum kepada ito ku ini,seorang Mahasiswi fakultas Kedokteran USU yang berasal dari sebuah kecamatan di Sidikkalang sana.tampil selalu dengan sedehana,bertutur kata lembut dan sopan,namun tidak berapa lama aku harus pindak kost ke daerah Tanjung Sari,aku melihat matanya berkaca kaca saat aku menyalam tangan ito itu sebagai tanda pamit,dan dia selalu berpesan agar aku sering sering datang ke tempat ini lagi.

“Ia ito ku,aku pasti datang lagi kok kesini,,”jawabku diahir perpisahan kami.

Semenjak aku tinggal di tempat kost yang baru,aku masih sempatkan menemui itoku ini ditempat kost lama ku dahulu,setidak nya dalam sepanjang yang ku ingat sebanyak tiga kali aku berkunjung kesana,dan libur semester yang sangat panjang bagi universitas serta aku kesibukan ku yang sudah menjelang kelulusan semakin membuat kami tak pernah lagi bertemu setidak nya hingga hari ini,jauh dilubuk hatiku yang terdalam aku sangat merindukan Ito ku itu,entah dimana kini dia berada.tapi aku yakin dengan segala kebaikan yang telah bayak ia tanamkan kepada orang lain,dia pastinya telah sukses dan berhasil dimanapun kini dia berada.

Sangat banyak yang kupetik nilai nilai kehidupan semenjak mengenal ito ku Boru Tambunan itu,aku tau dia seorang keluarga yang berada sementara Orang Tua ku hanya keluarga yang pas pas an,namun dia bisa merasakan apa yang sedang ku alami dalam pahit getirnya sebuah kehidupan.berangkat dari pengalaman hidup ini seolah aku merasa bergetar setiap kali bertemu dengan Ito ku dan Namboru ku Boru Tambunan,setidaknya hingga saat ini di Tanah Parantauan ini.

Demikian Notes ini saya tuliskan Salam Buat Itoku Namboru ku, dimanapun berada yang membaca catatan ini

Horas…….

*Bekasi 14/02/2011*

Bresman Silalahi Tolping

Tentang Bresmansilalahi

Belajar dari hal yang sangat kecil dan sederhana,untuk menemukan sesuatu yang lebih besar dan bermanfaat.
Pos ini dipublikasikan di Kisah dan tag , , . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s