Cintaku yang tak kunjung tiba


Pagi yang masih dingin,seperti biasa,aku terlebih dahulu bangun dari tempat tidur ku,untuk menyiapkan segala sesuatu yang dibutuhkan keluarga kami,terlebih kepada suamiku,seorang laki laki tampan dan berwibawa yang telah lima bulan menikahi ku,kulihat wajah nya terlelap dialam tidur nya,senyum nya seakan tak pernah lepas meskipun dalam keadaan tidur sekalipun,lama ku pandangi wajah nya,sebelum aku aku beranjak dari ranjang kami itu.

Aku tau Suamiku mengerti akan perasaan ku,perasaan yang selalu melingkupi antara takdir dan nasib,suamiku sangat menunjukkan begitu besarnya cinta dan kasih sayang nya kepada ku,ia selalu berusaha menghiburku lewat cerita cerita segar,maupun kisah kisah konyol yang tujuan nya hanya untuk membuatku dapat tersenyum di depan nya,ia sadar,ia paham,masalalu lu penuh dengan kisah sedih,yang bahkan pernah membuatnya menitikkan airmata kala pertama kali aku menceritakannya di sebuah pantai di ujung kota jakarta kala itu,dan itulah bagian awal perjalanan kisah cinta kami.

Suamiku tak pernah bosan membuatku kembali tersenyum,dia selalu berusaha semampu nya,setiap pagi kala ia hendak berangkat bekerja,ia tak pernah lupa mencium kening ku,dan membisikkan kata sayang nya padaku,dan ku sambut dengan mencium tangannya,hanya senyuman yang mengembang dari wajah ku yang dapat kulakukan,meski sebenarnya senyuman itu menyimpan seribu satu luka,adakalanya aku sungguh tak tega melihat suamiku akan semua ketulusan,pengorbanan serta spirit yang selama ini dia berikan pada ku,namun hatiku tetap dingin,kaku bak es yang membeku didalam mesin pendingin,aku sadar ini semua kesalahan besar yang telah kulakukan kepada suamiku,lima bulan lama nya kami membina rumah tangga,namun,,hingga saat ini aku benar benar belum bisa menerima dan mencintai nya,dengan sepenuh hati,meskipun sebenar nya ia tau akan hal ini,aku masih ingat kata kata nya,”bahwa cinta akan lahir dengan sendirinya seiring berjalan nya waktu”namun,,,hingga detik ini pun cinta yang ia tunggu tunggu dariku tak kunjung tiba.

*Jauh sebelumnya*

Aku adalah seorang anak yang terlahir dari keluarga yang sederhana,Ayahku seorang pensiunan Perusahaan swasta di kota Medan,sementara kampung halaman kami jarak nya relatif jauh dari kota medan,sehingga mengharuskan Ayah ku tinggal di perumahan yang disediakan oleh perusahaan tersebut untuk menghemat segala pengeluaran tiap hari nya,namun ketika terjadi krisis monoter tahun 1997 yang melanda perekonomian Indonesia kala itu,alahasil Perusahaan tempat ayah ku bekerja selama ini,merasakan dampak yang sangat terasa,terjadilah pengurangan karyawan secara besar besaran,ayah ku termasuk salah satu korban pengurangan diantaranya.Dan praktis,semenjak tahun 1997 ayah ku berhenti bekerja,hingga suatu hari kemudian mendirikan usaha keluarga sebagai sampingan untuk menopang kebutuhan keluarga kami.

Ibuku seorang Pendidik(Guru)sekolah Dasar yang tidak terlalu jauh dari rumah kami,aku anak ketiga dari lima bersaudara,dan aku merupan anak putri satu satu nya diantara saudara saudara ku,(boru sasada)namun meskipun aku menyandang status sebagai anak putri satu satu nya dikeluarga kami,ayah dan ibu ku tidak menempatkan ku di posisi istimewa,dihadapan mereka kami anak anak nya mendapat kasih sayang dalam porsi yang sama,semenjak kecil hingga dewasa.demikianlah sekilas keluarga ku.

Saat aku lulus dari sekolah menengah atas aku mendapat kesempatan yang sangat ku impi impikan selama ini,yaitu melanjutkan pendidikan ke Universitas Negeri di kota Medan,dan memilih jurusan akuntansi di Fakultas Ekonomi,aku memilih jurusan ini,karena sejak kecil aku bercita cita dan terobsesi ingin menjadi seorang Pialang terkenal yang duduk dibarisan meja meja dan komputer yang berderet,seperti yang sering ku saksikan dilayar kaca melalui berita tentang aktifitas di Bursa efek jakarta,hari hari dalam aktifitas kuliahku pun berjalan seperti biasa nya,hingga ahirnya pada semester tiga aku berkenalan dengan seorang pria,yang juga satu universitas dengan ku,namun dia mahasiswa senior semester tujuh di fakultas kedokteran,singkat cerita ahir nya dia menyatan cinta nya kepadaku,meski saat itu aku masih agak terlihat malu malu,tapi dibalik nya ada rasa bahagia yang berjuta juta.

Ahir nya kami pun resmi berpacaran,sesekali aku dia mengajak ku berkunjung ke rumahnya untuk bertemu dengan orang tua nya,pertama sekali aku kerumah nya,sungguh aku tidak mengira ia ternyata seorang anak dari keluarga cukup berada,dan tinggal di sebuah kompleks perumahaan Elit di jantung kota Medan,aku benar benar tak menyangka,ternyata dibalik dari penampilan nya selama ini baik dikampus maupun di pergaulan dia sehari harinya tampak sangat sederhana,tak ada satupun yang menandakan ciri bahwa ia adalah seorang anak orang berpunya,dan terahir aku mengetahui ayahnya salah satu orang berpengaruh di Kota Medan,sebenar nya ada rasa ragu dan tidak percaya diri atas semua tentang dia ini,aku merasa tidak sanggup untuk berteman dengan nya,apalagi berpacaran,ah,,ini mustahil,,benakku saat itu.

Namun lambat laun,dia berhasil meyakinkan ku,dan suatu ketika ia mengatakan padaku,bahwa orang tua nya tak pernah menilai seseorang itu dari materi tapi hati.beberapa bulan kemudian ahir nya dia pun lulus dan pada waktu acara wisuda nya,aku berada disamping nya sebagai wanita pendamping,ada rasa bahagia dan tersanjung saat itu,bagaimana tidak,saat itu aku seolah sudah menjadi bagian dari keluarga besar mereka ditengah tengah para sanak famili yang mayoritas orang orang berada.Setelah lulus dua bulan kemudian diapun bekerja di salah satu Rumah Sakit swasta di Kota Medan,disamping melanjutkan Program Pascasarjana nya,di universitas yang sama,sehingga durasi pertemuan kami masih tetap tak ada perubahan,hingga suatu ketika ia mengatakan niat nya kepada ku untuk segera menikahi ku,aku sempat kaget dan tak percaya,aku berpikir aku merasa tidak sanggup untuk masuk kedalam keluarga besar mereka,aku sadar saat itu ungkapan yang ia lontarkan kepada ku bukan sekedar guyonan namun benar benar serius,aku juga melihat serta merasakan begitu besarnya cinta dan pengorbanan yang ia berikan kepadaku selama ini,berkali kali aku tanyakan kepada dia tentang pernyataan nya ini,apakah segampang ini aku bisa diterima masuk menjadi keluarga besar mereka melalui kedua orang tua dan keluarga keluarga nya?yang pasti rasa ragu tetap membayangi pikiran ku saat itu,suatu ketika aku mengajak nya untuk berkunjung ke rumah ku dan sekaligus bertemu dengan kedua orang tua ku,seingat ku,itulah kunjungan pertamanya kerumah kami,dengan tampil apa adanya,sehingga membuat kedua orang tua ku sangat berkesan,sikap ramah nya,sopan santun nya dan tutur bahasanya yang langsung bisa nyambung kepada ayah ku.

Beberapa hari kemudian Disela sela makan malam bersama keluarga kami,aku mencoba meminta pendapat Ayah dan Ibu ku tentang pacar ku itu,serta kusampaikan kepada mereka,bahwa dia berencana mengajak ku menikah,begitu juga dengan latar belakang keluarga nya,saat itu mereka hanya berpesan,agar segera menamatkan kuliah ku dulu,dan bekerja,setelah itu baru dipikirkan tentang menikah,sama seperti yang ada dalam pikiran ku selama ini,kedua orang tua ku tak pernah silau akan kekayaan harta atau jabatan,”selesaikan dulu kuliah mu,habis itu bekerja baru pikirkan untuk menikah,,”itulah di ucapkan orang tua ku,dan aku hanya bisa mengangguk pertanda setuju akan pendapat yang mereka sampaikan.

Seperti biasanya,,semua hari hari kami jalani bersama,hingga suatu ketika dia mengajakku kembali kerumah nya,dan bertemu dengan kedua orang tua nya,saat itu aku mulai melihat tanda tanda ketidak sukaan ibu nya kepada ku,dengan caranya memandang dan dengan pertanyaan pertanyaan sinis yang seolah memojokkan ku,aku baru baru menyadari ternyata ibu nya mulai memperlihatkan sikap ketidak suka an nya kepada ku,aku hanya bisa tertunduk kala itu,seolah aku berada dimeja terdakwa,dan inti dari semua pembicaraan itu bahwa aku tidak pantas berteman,bahkan berpacaran dengan dengan anak nya.

gelap dan hancur seketika yang kurasakan saat itu,hatiku bagaikan remuk,hancur berkeping keping saat mendengar ucapan yang keluar dari mulut ibu nya,meski saat itu,Pacar ku memberi pembelaan dan mecoba memberikan penjelasan kepada Ibu nya,namun lagi lagi kata kata yang menusuk yang meluncur dari mulut ibunya tepat menancap dan menghujam tepat di ulu hatiku,aku hanya bisa tertunduk diam dan membisu,mencoba untuk tidak menangis saat itu.

Ketika akan pulang dari Rumah nya,maka Tangisku pun pecah seketika,sepanjang jalan didalam mobil itu aku menangis,aku merasa tak berdaya,aku merasa tak mampu,aku sungguh tak dapat menerima harga diriku,harga diri keluarga ku di injak injak oleh ibu nya,lewat kata kata yang sangat menusuk hati ku,saat itu ia selalu berusaha menenangkan ku,memelukku seolah memberi ketenangan dalam jiwa ku yang shock menerima kenyataan ini,dan dia pun berjanji akan memohon kembali kepada ibu nya.Semenjak saat itu intens pertemuan kami semakin berkurang,aku sadar dengan semua ini,aku sadar atas penolakan ibu nya kepada ku,semakin hari ahir nya akupun mengambil jarak dari nya,sebisanya aku menghindar jika kebetulan bertemu dengannya di kampus,meski sebenarnya jauh di lubuk hatiku,aku masih sangat mencintai nya,namun kenyataan berkata lain,Praktis semenjak saat itu akupun mulai menutup diri hingga beberapa bulan lama nya,aku putuskan untuk tidak memulai lagi apa yang disebut dengan,cinta sayang dan sebagainya,rasa itu sudah kubuang jauh jauh,agar aku konsentrasi dengan kuliah ku yang saat itu sudah menjelang penyusunan skripsi.

Beberapa bulan kemudian ahirnya akupun di wisuda dan lulus,selama itupula ahirnya aku menutup diri kepada tiap laki laki yang ingin mendekatiku,semua nya kutolak dengan cara yang sopan dan santun,biar bagaimanapun,aku berusaha semaksimal mungkin untuk tidak membuat mereka merasa tersinggung,hingga suatu ketika dipenghujung bulan Desember,kebetulan Namboruku datang berkunjung ke rumah kami bersama seluruh keluarga nya,saat itu aku bertemu pula dengan salah satu pariban ku,yang bekerja di salah satu Rumah sakit Swasta di Jakarta,awal nya tidak ada yang spesial dalam pertemuan kami itu,terahir sekali kami bertemu yaitu ketika Opung Doli meninggal dunia Di Toba,itupun sekitar 10 tahun yang lampau,jadi wajar kalau kini kami sudah tidak terlalu mengingat wajah satu sama lain,kala itu Ibuku menyuruh menjemput satu paket kiriman dari jakarta,kebetulan kiriman tersebut harus dijemput sendiri ke salah satu loket bus tujuan Jakarta-Medan,jadilah saat itu,aku bersama Pariban ku ini berangkat ke medan dengan mengendarai sepeda motor,awal nya saat berangkat sama sekali tidak ada yang spesial kurasakan,aku harus duduk dijok belakang sepeda motor itu dan mengharuskan aku mendekap tubuh nya dari belakang di tengah laju sepeda motor yang saat itu melaju kencang.

Sepulang dari medan,kami berdua sengaja singgah sejenak di warung pinggir jalan untuk sekedar istirahat sekaligus mengisi perut yang sudah mulai kelaparan,saat kami duduk berhadapan dan menikmati Mie Pangsit itu,sesekali ia mecuri curi pandang ke arahku,sebenarnya aku sadar dia memperhatikan ku,namun aku pura pura tidak tahu,seakan ada sesuatu yang berbeda dalam perasaan ku saat itu,dan rasa itu tak bisa kupungkiri,ah….apakah aku jatuh cinta??kira kira begitulah yang mengelayuti pikiran ku saat itu,aku mencoba mencoba membuang rasa itu jauh jauh,sambil menikmati makanan yang tersaji di meja,kami mencoba berbagi cerita masing masing,dan di ahir pembicaraan kami saat itu,dia mengunggkapkan bahwa sebenarnya dia telah lama menaruh harapan kepada ku,akan tetapi dia takut aku akan menolak cinta nya,saat mendengar kata kata nya,aku sedikit kaget yang ahir nya membuatku tersenyum.

Singkat cerita beberapa hari kemudian ahirnya aku pun menerima cinta Pariban ku ini,dan hubungan kami semakin intens,selama dua minggu dia dikampung,aku mencoba untuk menumbuhkan kembali rasa percaya kepada seseorang,aku mencoba kembali untuk membuka diri kepada seorang pria,aku berpikir toh ini pariban ku sendiri yang tak jauh dari keluarga besar kami,hubungan yang baru kami jalani itu mendapat restu dan persetujuan dari kedua orang tua kami.Suatu ketika sehari menjelang kepulangannya kembali ke Jakarta,dia sengaja menjemputku ke rumah,untuk selanjutnya dia membawaku ke Rumah nya,di Toba,dalam perjalanan dari rumah ku hingga ke Toba,yang menempuh jarak yang sangat jauh,yaitu sekitar 6 jam perjalanan,menumpangi Bus,tak lupa,ia mengajakku singgah dibeberapa tempat wisata untuk sekedar melepas penat selama perjalanan.

Hari menjelang malam ahirnya kami pun tiba di rumah nya,senyum pun mengembang dari wajah namboru ku,demikian juga dengan Amangboru ku,kedatangan ku bak seorang menantu(parumaen)yang sudah sah,aku sadar meskipun pada dasarnya aku tidak menikah pada paribanku itu,posisiku tetaplah sebagai maen nya,demikianlah salahsatu keistimewan adat Batak,terlihat segala sesuatunya sudah mereka persiapkan dengan segala sesuatunya,makan malam pun terhidang dimeja makan,dan usai makan malam,sejenak kami berbincang bincang,dan inti pembicaraan itu,Namboruku berniat ingin sekali menjadikan ku sebagai menantunya,dan ia mengatakan hal ini sudah pernah mereka bicarakan dengan Ibu dan Ayah ku,ketika kedatangan mereka tempo hari kerumah kami,namun responku saat itu antara ragu dan bingung,aku ragu karena sebenarnya waktu yang masih kami jalani masih sekitar 2 minggu,aku juga bingung dikarenakan,susah untuk menolak permintaan namboru ku ini,meski saat itu rasa percaya diri dan rasa sayangku semakin tumbuh kepada pariban ini,ahirnya aku hanya menjawab,”kita jalani aja dulu namboru,apalagi dengan statusku yang sekarang ini belum juga bekerja..”.

Ke esok harinya ahirnya kekasihku ini kembali kejakarta,aku sempat menghantarkan nya ke Bandara Polonia Medan,ada rasa sedih saat kami tiba di bandara itu,sebelum ia berangkat,dia sempat berpesan padaku,agar aku kelak datang ke Jakarta menyusul nya,dia berkeinginan aku mencari peluang kerja di Jakarta,dan tentunya kujawab dengan “Ya”,sejenak ia mencium keningku,di balik pintu kaca yang membatasi antara ruang chek in dan ruangan pengunjung,ahirnya diapun menghilang ditengah keamaian orang yang berlalu lalang,sejak saat itu,hubungan komunikasi kami hanya melalui telepon,pesan singkat dan situs jejaring dunia maya,hari hari pun berlalu…sejak keberangkatan nya,ada rasa rindu yang semakin mendalam,aku semakin menyadari ternyata aku semakin mencintainya,ada rasa ingin sekali berada didekatnya,namun apa daya hanya melalui pesan singkat dan telepon lah yang dapat menyatukan komunikasi kami.

*Dua Bulan kemudian*

Ahirnya surat lamaran yang pernah ku masukkan di salah satu perusahaan dikota Medan menghubungiku,dan memintaku esok hari agar hadir di kantor mereka untuk segera Interview,singkat cerita ahirnya aku diterima bekerja disana,akan tetapi di tugaskan di kantor pusat Jakarta,dalam hatiku sangat berbunga bunga,karena hal ini lah yang sangat ku impi impikan dan semakin dekat dengan kekasihku.Dua hari kemudian saya diberangkatkan oleh perusahaan tersebut ke jakarta,semua ini sengaja saya rahasiakan kepada kekasihku itu,sekaligus ingin membuat satu kejutan buatnya,ketika aku sudah sampai di jakarta dan langsung menuju penginapan yang disediakan oleh perusahaan tempatku bekerja,dan dari sana,saat malam tiba,seperti biasa,aku menghubungi nya melalui ponsel milik ku,karena jika aku menggunakan telepon umum pastinya keberadaan ku akan dapat dia ketahui,dalam pembicaraan itu,aku mencoba meminta kembali alamat pastinya,awalnya dia bertanya kenapa meminta kembali alamatnya,karena memang dia sudah pernah menuliskan alamatnya dengan jelas di secarik kertas ketika kami petemuan kami di kampung tempo hari,dan aku mencoba sedikit bersandiwara bahwa kemungkinan 1 bulan lagi aku akan datang ke jakarta untuk menemui nya.

Dua hari kemudian,setelah aku pulang kantor,saat saat yang ku tunggu tunggu pun tiba,saat dimana aku ingin membuat satu kejutan kepada kekasih ku,bermodal secarik kertas yang menuliskan alamat persisnya,berhubung saat itu saya masih buta seluk beluk jakarta dan nama nama jalan nya,demikian pula dengan daerah yang akan ku tuju,yaitu daerah Sunter Jakarta Utara,akupun mengajak seorang Pria rekan kerja dikantor ku,yang belum genap dua hari kukenal,sore itu kami berangkat dari daerah jakarta selatan,menembus parahnya kemacetan lalulintas kota Jakarta,hingga ahirnya tiba di daerah Sunter,hingga ahirnya menemukan jalan yang tertulis di alamat itu,entah berapa orang yang sudah kami tanyakan dimana persis alamat itu,hingga ahirnya kami menemukan alamat yang dimaksud,yaitu sebuah Rumah yang khusus yang mayoritas dihuni oleh beberapa anak kost,Rumah bercat kuning krem,berlantai dua,dan berpagar tinggi berwarna Hijau,setelah menayakan terlebih dahulu kepada penghuni yang tinggal disana,apa memang alamat yang tertulis di secarik kertas ini benar disisni,setelah dijawab benar,maka aku mencoba menanyakan nama kekasih ku tinggal disini,dan dijawab Ya,perasaan ku lega seketika,ahirnya aku menemukan Rumah kost tempat kekasihku yang kucari cari.

Setelah kuberitahu bahwa saya adalah keluarganya dari medan,maka penghuni yang kutanyakan tadipun memberitahukan dimana letak dan nomor kamar yang dihuni oleh kekasihku itu,sebelum nya terlebih dahulu saya menghubunginya untuk memastikan keberadaan nya,dan dari seberang telepon dia mengatakan lagi ada dirumah sehabis pulang dari kerja,berbekal jawaban nya demikian,aku merasa semakin tak sabar ingin segera menemuinya di kost nya,yang sebenarnya sudah didepan mataku,ketika hendak menuju ke arah kamar yang dihuni oleh kekasihku itu,langkahku seakan diragukan oleh sepasang sepatu yang terletak diluar pintu kamarnya,rasa ragu pun membayangi pikiran ku,”ah,,jangan jangan aku salah kamar,dan ini kamar seorang perempuan,,”benak ku saat itu,ahirnya aku kembali menanyakan kepada seorang pria penghuni kamar sebelah,yang saat itu sedang keluar dari kamar nya,apa benar ini kamarnya kekasihku itu,sambil kusebutkan nama kekasihku,dan pria itu pun membenarkan.

Sebuah tandatanya besar menghinggapi pikiran ku,kenapa ada sepatu berhak yang terletak di teras kamarnya?saat itu kucoba membuang jauh jauh pikiran negatif yang menggelayuti alam pikiran ku,jantungku pun semakin berdetak tak beraturan,dengan keberanian,kucoba mengetuk pintu kamar itu dengan perlahan,saat kuketuk pertama sekali sama sekali tak ada jawaban dari dalam,namun suara televisi menyala terdengar jelas ditelingaku,kucoba kembali mengetuk pintu itu,dan aku telah mempersiapkan senyuman yang paling manis untuk kupersembahkan sebagai hadiah surpise buatnya ketika sosok ku yang selama ini dia anggap masih dikampung,ternyata tiba tiba hadir didepan pintu kamarnya persis tepat dihadapan nya,seketika itu,saat pintu dibukakan,dari dalam,oleh seorang wanita yang berpenampilan cantik dan seksi,berkulit putih serta berambut anjang terurai,

“maaf mbak,,sedang mencari siapa ya,,?”tanya nya kepada ku,

“oh,,maaf,,saya salah kamar mungkin mbak,,”jawab ku singkat,dari luar pintu yang terbuka separuh itu,namun sekilas kulihat didalam ada seorang pria seperti sedang tertidur,,

“maaf mbak,,ini kamarnya si ini kan,,?tanya ku lagi semakin penasaran,,

“ia mbak,,tuh,,dianya lagi tiduran,,”jawab perempuan cantik tadi sambil melongok kan kepalanya ke arah pria yang tertidur didalam kamar itu,

“kalau boleh tau,,mbak siapanya,,?tanya dia lagi padaku seolah semakin penasaran,

“emang,,mbak sendiri siapanya dia?tanya ku lagi dengan nada suar yang sedikit meninggi,,

“pacarnya nya,,,”

“hah,,,,?aku begitu terkejut saat mendengar jawaban yang meluncur seketika dari mulut wanita itu,ketika ku coba menerobos masuk ke dalam kamar itu,untuk memastikan siapa sebenarnya pria yang tertidur di dalam kamr itu,sebelum aku menghampirinya,tiba tiba ia terbangun,mungkin mendengar sedikit suara kegaduhan didepan pintu saat itu,namun,,,,

hah…..betapa hancurnya hatiku,,saat kulihat siapa sosok laki laki yang baru terbangun dari tidurnya itu,,aku berdiri tepat di sampingnya,,aku diam mematung,,dengan seribu satu bahasa,

“Iban,,”?dia menyapa ku dengan tatapan yang masih diliputi kebingungan,kakiku seolah tak kuat untuk berdiri menyaksikan pemandangan yang menghancurkan perasaan ku ini,dia mencoba menarik tangan ku,untuk mengajak ku duduk,namun seketika tangan nya ku tepis dengan sangat keras,sosok wanita cantik yang sedaritadi masih berdiri didekat pintu,berdiri bak orang kebingungan,demikian halnya dengan kekasihku ini,beberapa kali dia menghusap matanya seolah memastikan diriku benar benar pariban nya.

“kapan datang Iban,,”?kenapa tak meberi kabar padaku terlebih dahulu,,?tanya dia lagi seolah mengalihkan situasi yang saat itu masih terlihat wajah kebingungan di wajah nya,tak kujawab sedikitpun pertanyaan nya,aku mencoba menahan diri,namun ahirnya,hancurnya perasaan ku tak dapat lagi kutahan,seolah tanpa sadar aku menampar wajah nya dengan keras,akupun menangis,,hatiku seakan hancur berkeping keping saat melihat dan mengetahui kenyataan yang kusaksikan didepan mataku itu,tak ada satupun kata kata yang keluar dari mulutku,bahkan ia mencoba membela diri dengan penjelasan yang mengada ada,aku tetap diam,seketika itu aku bergegas meninggalkan kamar itu,ketika dia berusaha menarik tangan ku,aku membentaknya dengan suara yang lantang dan keras,

“Diam…!!!!”jawabku membentak.

Aku berlari menuju tangga dan lekas lekas meninggalkan nya,dan menemui rekan kerja ku yang sedari tadi menunggu ku di bawah rumah kos kost an itu,saat itu kekasih yang selama ini aku percaya i,itu berusaha mengejar ku,namun buru buru kami berlalu dari rumah itu,pria rekan kerjaku masih terlihat kebingungan saat melihat ku menangis disampingnya sambil mengemudikan kemudi setir mobil nya itu.sepanjang jalan aku menangis sejadijadinya,aku bak seorang pecundang yang pulang dari pertarungan ketika menyaksikan semua ini,hatiku ter iris bak disayat silet,aku tak percaya,ternyata cinta yang kuberikan dengan tulus dan iklas kepada kekasih ku,yang tak lain adalah seorang pariban ku itu,ternyata dihianati,kepercayaan yang ku berikan selama ini kepadanya ternyata sia sia,saat itu aku merasa segalanya telah hancur…….

Pria rekan kerjaku saat itu merasa prihatin akan semua ini,dia mencoba menghibur ku dengan membawaku ke sebuah Pantai di ujung kota jakarta sdimalam yang semakin gelap itu,dipantai yang ramai itu,aku mencoba berbagi cerita kepadanya,membagi kepenatan yang perih yang kurasakan saat itu.dia selalu sabar mengikuti cerita demi cerita yang ku sampaikan,dia setia mendengar seluruh keluh kesah ku,cerita cerita perjalanan kisah cinta kami yang berangkat dan berawal dari kampung halaman…..

Esok harinya,di berusaha menghubungiku,entah berapa kali telepon nya masuk ke dalam ponselku,semua ku abaikan,pesan singkat tak terhitung banyaknya tak ada yang kubalas,bahkan dia meminta alamatku di jakarta,setelah dia tau aku telah bekerja di Jakarta,begitu menghubungi orang tua ku di kampung,dan menurut cerita Ibuku beliau sempat bertanya kepada pariban nya,kenapa justru menanyakan alamat kepada ibuku,ata dasar itulah Ibuku menanyakan bagaimana hubungan kami kini,akan tetapi kujawab dengan datar kepada ibuku bahwa semuanya baik baik saja,aku tak ingin masalah kami ini,dan penghianatan orang yang kusayangi ini terlalu cepat diketahui kedua orang tua kami,hingga ahirnya Namboru ku,Ibunya Pariban ku menghubungiku langsung dari kampung,awalnya namboruku tidak mengetahui cerita yang sudah terjadi diantara kami,namun bagaimanapun juga,aku tak ingin masalah ini berlangsung berlarut larut lama,aku berusaha semampuku untuk tetap tenang dalam menceritakan semua ini kepada namboruku.

Namboru sempat menayakan kapan hubungan kami di lanjutkan ke pernikahan,sontak aku terkaget saat mendengarnya,begitu tulusnya namboruku menayakan hal hubungan kami ini,namboru yang jauh dikampung halaman sana sesungguh nya berharap kapan waktu yang tepat untuk menunggu kami kembali kekampung hlaman untuk melangsungkan pernikahaan,demikian juga harapan kedua orang tua ku dan segenap keluarga besar kami.aku sungguh tak tega mendengar harapan harapan yang disampikan namboru ku ini padaku melelaui pembicaraan kami di telepon saat itu,sungguh aku merasa terhenyuh mendengarnya,ahirnya akupun tak kuasa menahan perasaan ku,aku kembali menangis dan ku ceritakan bagaimana sesungguh nya hubungan kami yang sebenarnya kini,aku tak mau namboruku meneruskan semua harapan nya,semua keinginan nya,menjadikan ku menjadi menantu nya(parumaen)dan aku hanya sanggup mengucapkan”maafkan aku namboru,aku tidak sanggup menjadi seperti yang namboru inginkan,seperti yang Ibu dan Ayah inginkan,,”serta kujelaskan semua apa yang mendasari retaknya hubungan kami secara detail dan komplit.

Saat mendengar semua penjelasan ku,namboru terdengar menangis saat mendengar nya,ia tak menyangka hubungan ternyata hubungan kami sudah retak beberapa minggu yang lalu,meskipun demikian namboru berusaha memberi pengertian kepadaku untuk menyelesaikan masalah ini,dan kembali merajut hubungan kami,namun aku jawab tidak.

“Tidak namboru,,cukup sudah sakit hati yang kurasakan selama ini,,”,aku seakan mengulangi lagi perjalanan kisah cintaku beberapa tahun yang lampau,namun ketika rasa cinta,dan aku mecoba mulai membuka diri kepada seorang pria yang tak lain seorang Pariban ku sendiri,namun itu semua tetap tak menjadi jaminan.Sejak saat itu hubungan komunikasi ku dengan pariban yang pernah kucintai itu praktis terputus,bahkan hingga kini pun rasa sakit hatiku seolah tak kunjung sembuh,padahal sudah hampir tiga tahun,sekedar mendengar namanya pun rasanya perasaanku begitu membencinya,sesungguhnya aku tau perasaan ku ini salah,bahkan dosa.

**********

*Satu tahun kemudian*

Rekan kerjaku yang setia mendampingiku selama ini,yang sudi mendengar keluh kesahku selama ini,hampir satu tahun lebih ini,melamarku dan ahirnya mengajakku untuk menikah,meski sebenar nya dia tau,atas semua problema hidupku dan perjalanan cintaku yang selalu diterpa kegagalan demi kegagalan,bahkan aku sempat mengatakan kepadanya bahwa aku tak akan pernah lagi jatuh cinta hingga aku mengahiri hidupku di usia tuaku nantinya,akan tetapi lambat laun ia berhasil meyakinkan ku,hingga ahirnya tepat lima bulan yang lalu ia mengajak ku untuk menikah,dan ku jawab dengan “Ya” ada kalanya saat kesendirian ku,batinku menangis,aku sangat tak tega melihat suamiku yang hingga kini tak dapat ku cintai dengan sepenuh hati,namun semua itu dia jalani dengan penuh sabar,aku berharap suatu hari nanti aku akan merasakan cinta yang diberikan suamiku.

Tanpa sadar Pelukan dari belakang mengagetkan ku,pelukan hangat dari suamiku yang selalu setia dan sabar mengerti akan semua perasaan ku selama ini,ternyata suamiku sudah terbangun dari tidurnya dan segera mencomot tempe goreng yang baru saja kuangkat dari penggorengan,sambil membisikkan kata “masak apa sayang,,?”dan sekejap ia berlalau menuju kamar mandi,sebelum ku siapkan susu dan roti bakar sebagai sarapan pagi nya sebelum berangkat ke kantor.

aku berharap semoga rasa cinta dan sayangku akan semakin bertumbuh dan bertumbuh kepada suamiku dalam waktu yang sangat singkat ini.ia terlalu sempurna buatku,dia terlalau sabar untuk ku,maafkan aku sejauh ini suamiku……

Demikian……

*Horas*

Bekasi 18/10/2010.Bresman Silalahi.

Tentang Bresmansilalahi

Belajar dari hal yang sangat kecil dan sederhana,untuk menemukan sesuatu yang lebih besar dan bermanfaat.
Pos ini dipublikasikan di curhat. Tandai permalink.

3 Balasan ke Cintaku yang tak kunjung tiba

  1. burian caem berkata:

    Mau dunk tempe gorengnya… hehehehe

    wah kalau aku jdi wanita itu pasti bahagia bgt..
    kalau beneran ada pengen deh ketemu…
    kalau laki2 itu suami ku akan kuncintai dia lebih dari apapun…

    Sungguh beruntung wanita yg dicintai pria itu….

    • bresmansilalahi berkata:

      hahaha,,,,,,tempe nya aja yang cian?nanti kita buatkan jadi nyata tapi dengan alur cerita yang berbeda cian,hehehe….

      • burian caem berkata:

        hehehe….
        hbsnya asyik bgt tuh kyknya pagi2 menu pembukanya tempe goreng.. hehehe…
        gmn gak melek neh mata.. kwkwk

        ya pastinya dengan cerita yg akan sampai dan trus menggema ke anak cucu,….
        hohoho…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s