Mereka menyebutku,,Jawa kesasar


Dalam cerita ini,saya tidak bermaksud untuk mendiskreditkan suku jawa pada umum nya,jusru saya malah bersyukur,saya memiliki sesuatu pengalaman yang sangat berharga yang ku petik dari berteman,bersahabat berteetangga dengan orang jawa.
Jauh di kampung kami sana,tersebut lah sebuah perkampungan,nama nya Desa Ambarisan,yang jarak nya kira kira 3km dari kecematan,yaitu kecamatan Sidamanik,suatu perkampungan yang sangat sederhana,hidup dengan rukun dan damai,kebetulan tidak jauh dari rumah kami terdapat satu pemukiman,yang di huni dan di diami oleh mayoritas suku jawa,entah sejak kapan mereka mulai mendiami perkampungan itu,perkampungan kecil yang di kelilingi oleh penduduk asli kampung kami,yaitu mayoritas suku Batak Toba dan Simalungun,dengan identitas marga masing masing,yaitu Marga Saragih dan marga turunan nya,Silalahi dan Turunan nya serta marga Manik dan turunan nya.
Konon menurut cerita orang Tua di kampung kami,kehadiran para penduduk dari suku jawa ini,sudah ada sejak mereka lahir,bahkan nenek moyang mereka sudah menempati perkampungan ini sekitar 4 generasi,semenjak zaman Belanda,dan mereka adalah bagian dari pekerja yang sengaja di datangkan oleh Belanda dari Pulau jawa untuk di pekerjakan sebagai buruh buruh perkebunan pada masa itu. kebetulan perkampungan kami sangat berdekatan dengan Perkebunan Teh,milik PN2 Sidamanik.wah,,bisa dibayang kan mereka telah menyatu dengan masyarakat suku Batak toba dan simalungun sejak dahulu,maka tak heran,jika dalam kehidupan sehari hari,mereka sangat fasih menggunakan bahasa batak,demikian pula sebalik nya,masyarakat di kampung kami yang berbatasan langsung dengan perkampungan mereka,rata rata menguasai bahasa jawa,lengkap dengan dialek yang nyaris sempurna.
Sejak kecil saya terbiasa bermain dan bergaul dengan anak2 yang berasal dari suku jawa yang ada di kampung jawa ini,dalam berkomunikasi,terkadang menggunakan bahasa jawa dan bahasa batak,bahasa batak toba tentu nya,dan persahabatan kedua suku yang berbeda ini berlangsung hingga remaja,tepat nya saat menduduki sekolah menengah pertama,diantara beberapa sahabat ku ini tersebut lah namanya Rony Damanik,yang ibu nya seorang Jawa,Syahrul,Suryanto,Herianto,Parno dan masih banyak lagi,mereka mereka ini lah yang mejadi sahabat sekaligus Guru pengalaman,guru yang saya maksudkan adalah,seorang sahabat yang selalu mengajari ku bertutur kata dalam mnggunakan bahasa jawa,bahasa leluhur mereka,dan begitu juga sebalik nya,saya selalu mengajari mereka dalam penggunaan bahasa Batak toba,dengan dialek dan cara pengucapan yang sama persis.
Jika dahulu ketika saya masih kecil,semua ini saya anggap tidak ada yang spesial,namun setelah dewasa hingga saya meninggalkan kampung halaman dan tiba di tanah perantauan yang persis nya berada di satu pulau yang disebut Pulau Jawa,segalanya menjadi sangat berarti buat ku,sebuah pengalaman dan pembelajaran yang tak kuduga sebelum nya,kini aku sangat dibantu dalam beberapa hal karena saya menguasai bahasa jawa,meski hanya 90%,namun dialek dan cara pengucapan nya mendekati sempurna,hehe,,,,maaf sedikit bangga,,.yang pasti dalam banyak hal yang sudah kujalani dalam kehidupan di tanah perantauan ini,bahasa jawa yang sedikit ku kuasai ini sangat membatu.Disaat orang orang sudah fasih menggunakan bahasa inggris,spanyol,Jerman,Mandarin,italia dan bahasa yang lain nya,namun aku hanya bangga karena aku dapat menguasai bahasa jawa,hehe…..
Suatu ketika,sekitar 2 tahun yang lampau,saya mengendarai sepeda motor dari arah Kramat jati menuju Cawang,saat itu sekitar pukul 09:30 malam,ketika lampu pengatur lalu lintas yang tepat berada di perempatan PGC cililitan menyala merah,seketika aku langsung menghentikan laju sepeda motor ku,bersama ratusan pengendara lain nya,yang langsung berhenti menyemut yang hanya dikomandoi lampu yang menyala merah itu.saat lampu berubah menjadi hijau,perjalanan ku lanjutkan kembali menuju Cawang yang sudah tidak jauh lagi,namun baru sekitar 100 meter melewati lampu pengatur lalu lintas itu,tiba tiba aku langsung di hampiri oleh seorang Pak Polisi dan menyuruh ku untuk menepi di dekat sebuah pom bensin,saat itu aku merasa tidak ada yang salah atau melanggar rambu3 yang ku yang ku lalui.
“selamat malam pak,,ujar pak polisi itu pada ku sambil menghormat,
“malam pak,,jawab ku dengan sopan sambil ku buka helm full face ku.
“bisa saya lihat stnk dan sim nya pak,,?kata nya lagi melanjutkan,
“sebentar pak,,jawab ku,sambil mengeluarkan stnk dan sim dari dompet ku.
sesekali dia perhatikan foto yang tertempel di sim itu dengan wajah ku,serta memperhatikan sepeda motor ku.
“bapak tau tidak dimana kesalahan nya,,?tanya pak polisi itu lagi.
“loh,,kesalahan apalagi pak,,?jawab ku penasaran sanbil mengeritkan dahi ku,
“sim lengkap,stnk ada,bahkan zebra cross nya pun tak kulewati sewaktu di lampu merah tadi pak,,?ku coba beradu argumen dengan pak polisi tadi,,karena sama sekali tak merasa melanggar peraturan lalu lintas
“Lampu belakang sepeda motor bapak tidak menyala,,jawab nya singkat,,
“wah,,masa sih pak,,?jawab ku seolah pura2 tidak tau,padahal memang sudah 2hari lampu belakang sepeda motor ku tidak menyala,dan belum sempat menggantinya dengan yang baru,
“bapak saya tilang,,,kata polisi tadi sambil mengeluarkan selembar kwitansi berwarna kuning.
“wah,,,jangan deh pak,,jawab ku seolah membujuk pak polisi tadi,saat itu dia berkeras ingin menilang ku,namun dia juga seperti nya seorang polisi yang tak mudah di ajak kerja sama,karena aku ngotot untu tidak di tilang,sehingga dia membawa stnk sepeda motor ku ke sebuah pos dekat perempatan itu,
“silahkan bapak temui saya di pos,,”ujar nya sambil berlalu membawa stnk ku tadi,
mau tidak mau,terpaksa aku menyusul ke pos yang dia sebutkan tadi,disana saya disuruh menghadap,(mungkin atasan nya)”malam pak,,sapaku ramah,dengan sedikit tersenyum pada sosok yang duduk di balik meja itu.
“saat itu sebelum memasuki ruangan nya,saya mendengar dia berbicara melalui ponsel nya dengan menggunakan bahasa jawa,,
“ada apa,,?tanya nya saat aku menghampiri meja kerja nya,
“stnk pak”jawab ku singkat,dia memperhatikan beberapa stnk yang sudah terletak di atas meja nya,
“Beresman,,ini nama bapak.?dia membaca beberapa atasnama stnk dimeja nya itu,,
ia pak,,itu punya saya,,jawab ku singkat,lantas dia menanyakan dimana saya tinggal dan asal nya dari mana,dan saya jawab berasal dari Jawa timur,karena saat itu saya menebak dia asal nya pasti juga dari jawa timur dengan dialeg nya yang medok  jawa timuran,
“lha,,wong jowo timur tha kui,,?jowo timur e nang endih,,?tanya dia lagi pada ku penasaran,
” lha iyo toh pak,,aku wong suroboyo,,jawab ku lagi mulai mengarang cerita demi belaskasihan nya,
saat itu dia mengatakan dia juga berasal dari Tuban,,suasana menjadi semakin akrab,saat ku katakan orang jawa timur,dan dia menanyakan kenapa aku sampai dibawa ke pos,aku katakan lagi kepada nya,bahwa akudua hari lagi aku hendak pulang kampung ke jawa,tapi boss tempat kerja,belum memberikan gaji kami,bahkan menghilang sudah dua hari,akibat nya para karyawan nya luntang lantung ga punya uang,dan ku katakan ini sehabis pulang dari rumah boss yang kusebutkan tadi,tapi tetap tak ada juga,eh,,malah ketangkap polisi gara gara lampu belakang tak menyala.
saat itu saya menceritakan semuanya kepada pak Polisi itu,tentu dengan menggunakan bahasa jawa dengan dialek jawa timur yang medok dan pengucapan nya rada keras,berbeda dengan dialek dan tutur bahasa jawa tengah pada umum nya.Tak lama kemudian,dia langsung mengembalikan surat tanda nomor kendaraan ku yang di tahan sebelum nya,
“iki loh rek,sesok nik wis duweh duet langsung tukok ke bohlam sing anyar,,ingisin ngisini wae,,,kata nya pada ku sambil mengembalikan stnk ku tadi,di sertai senyuman.
“maternuon pak,,,jawab ku dan ahirnya pamit kepada nya,ku tinggalkan pos itu dengan sedikit perasaan yang menggelitik,aku berpikir,jika saat meninggalkan pos itu dia meminta kartu identitas (KTP)maka mampus lah lah aku ketauan marga Silalahi  yang tercantum disana,
Sejati nya,dalam cerita ini saya bukan bermaksud untuk mempublikasikan kebohongan saya kepada nya  dengan mengatakan saya orang Jawa timur,tapi karena memang situasi lah yang memaksa demikian,saya bersukur ternyata banyak  hal hal kecil kuperoleh dan bersentuhan langsung  dalam kehidupan sehari hari hari ku sekarang.maka tak heran beberapa teman satu kerja dulu di daerah Tangerang, menyebut ku dengan panggilan JAWA KESASAR,karena selama satu bulan pertama masuk kerja saya selalu menggunakan bahasa jawa kepada mereka yang mayoritas karyawan nya berasal dari jawa,(jawa kesasar) maksud nya,saya orang jawa yang kesasar ke medan.
Terimakasih kepada sahabat sahabat lama ku di kampung jawa sana,kampung yang selalu meriah sepanjang hari,mulai dari dentuman musik dangdut yang samar samar terdengar dari rumah kami,yang selalu terlihat terang di malam hari,berbeda dengan kampung yang kami diami,jika tiba malam melewati pukul 9,lampu teras pun tak lupa di padamkan,dengan alasan penghematan,yang selalu tercium aroma wangi dari dapur yang sudah sibuk memasak jika jika petang hari telah tiba,berbeda dengan kampung kami,yang penduduk nya selalu tiba dimalam hari  oleh karen aktifitas nya.Semoga generasi yang akan datang tetap dapat menjaga suatu kerukunan kekompakan dan merasa satu nasib satu pejuangan,meskipun kita dihadapkan oleh satu kultur budaya yang berbeda.
*Bekasi 28/08/2010.Bresman silalahi.*

Tentang Bresmansilalahi

Belajar dari hal yang sangat kecil dan sederhana,untuk menemukan sesuatu yang lebih besar dan bermanfaat.
Pos ini dipublikasikan di Uncategorized. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s