Sebuah perjalanan panjang


   Desri M.Damanik,itulah nama ku,aku adalah putri ke tiga dari empat bersaudara,Ayahku J.Damanik dan Ibu ku boru Sihaloho, seorang Ibu yang sangat menyayangi kami para anak anak nya,Semuanya berawal dari kisah cinta,ayahku seorang Guru disebuah sekolah lanjutan atas yang berada kota Pematang siantar kala itu,kebetulan ibu ku saat itu adalah salah seorang siswanya yang pintar terlebih di bidang study yang di ajarkan oleh ayahku kala itu yaitu Akuntansi dan tentu nya ibuku salah seorang gadis yang cantik di kelas itu,hingga tak lama beberapa tahun kemudian ahir nya ibuku lulus dari sekolah itu,di sela sela waktu luang nya mengajar,ayah ku sering menemui ibu dikota itu,
hingga beberapa tahun kemudian ayah pindah mengajar di Sekolah lanjutan atas(SLTA) yang terletak di kecamatan itu,yang tidak begitu jauh dari kampung kami.
      Hubungan cinta antara ayah dan ibu yang mantan salah satu murid nya kala itu semakin intens,sementara status ayahku saat itu sudah menyandang Duda,dikarenkan istri pertama ayah ku meninggal Dunia,setelah di karuniai empat orang putri dan satu orang putra,tak lama kemudian ayah menyatakan niat nya untuk melamar ibu ku,hal itu tentu disambut ibu ku dengan bahagia dan berbunga bunga,akan tetapi hal ini sangat di tentang oleh oppung ku,orang tua dari Ibuku,namun meski hubungan itu tidak di setujui oleh orang tua Ibuku,mereka tetap nekat,
       Bila atas nama cinta sudah berbicara,semuanya akan tampak menyatu,tak mengenal perbedaan,usia,bahkan sikap yang sudah di tunjukkan oleh kedua orang tua Ibuku sama sekali tak mengurungkan niat mereka,justru malah semakin meneguhkan cinta dan niat mereka,hingga ahir nya Ayah ku menikahi Ibu,meskipun kedua orang tua Ibuku hadir dalam pernikahaan itu,namun dalam keadaan sangat terpaksa,didalam hati orang tua ibu tetap tidak bisa menerima hal dan kenyataan ini.sesuatu yang membuat hati ayah ku terpukul ketika itu,
       Hari berlalu,hingga menjelang satu tahun kemudian,Ibu ku mengandung anak pertama nya,yaitu kakak tertua kami,hingga beberapa minggu kemudian Ibu melahirkan,maka saat itu juga lah,Orang tua Ibuku (Oppung)baru bisa memahami,menerima dan memaafkan atas semua yang telah terjadi di depan mata,hati kedua orang tua ibuku semakin luluh saat mendengar kabar kelahiran cucu nya,mereka sadar,bahwa ini sudah merupakan bagian perjalanan hidup mereka dan takdir yang sudah di garis kan oleh SANG KHALIK,sejak kelahiran kakak trtua kami,hubungan antara Ayah ku dan mertunya mulai harmonis,dan berjalan seperti apa ada nya,hingga beberapa bulan kemudian,Ayah mulai memperlihatkan sifat alami nya,dan kebiasaan buruk nya.
      Tiap kali sepulang dari sekolah,ayah tak pernah tiba di rumah,jika matahari masih terlihat terang,tiap kali pulang selalu singgah di sebuah warung yang terletak tidak jauh dari kampung kami itu,untuk bermain judi,dan bila sudah usai bermain judi di lanjutkan minum Tuak,yang tentu nya hingga memabukkan,alhasil hal ini lah yang selalu memicu keributan di rumah kami,antara ayah dan ibu,hal seperti ini berlangsung setiap hari nya.Satu tahun kemudian anak kedua nya lahir,namun sifat ayah tak berubah,sepanjang hari kala sudah pulang dari tempat dia mendedikasikan diri,selalu tiba malam hari,bahkan menjelang pagi,semua itu selalu di jalani ibu dengan rasa berbesar hati dan lapang dada,dan sekali lagi ini demi semata mata demi cinta,biar bagaimana pun ini sudah jalan kehidupan yang ibu harus jalani.

       Dua tahun kemudian aku di lahirkan,sebagai putri ke tiga mereka,satu hal yang membuat ku selalu sedih adalah,saat aku lahir ke dunia ini bahkan ayah tak ada di sisi Ibu ku,ayah lebih memilih bermain judi di tempat ia biasa nongkrong,padahal jelas jelas beliau sudah diberitahu bahwa ibu akan melahirkan pada waktu malam itu,namun ke esok hari nya dia baru tiba,ayah ku membiarkan ibuku mengerang kesakitan kala melahirkan ku tanpa sosok seorang Ayah/suami yang dia cintai,sebenar nya,saat mengetahui kelahiran anak ketiga nya seorang perempuan,hati ayah sedikit kecewa,namun itu semua dia lampiaskan ke dalam hal yang sangat di benci oleh ibu ku,yaitu berjudi dan minum selalu dalam keadaan mabuk berat.
        Seperti itulah berjalan dalam hari hari nya,Ayah seorang pegawai negeri yang tentunya tiap bulan selalu mendapat jatah beras catu beberapa kilogram dari pemerintah,sejak lahir kami sekeluarga dibesarkan oleh aroma wangi nya beras catu itu,beras yang di cuci dahulu berulang kali agar aroma wangi nya tidak terlalu menyengat,jika ditanya mengenai rasa nya?wah lumayan cukup untuk mengenyangkan perut yang sejengkal ini,namun semua itu kami syukuri,tak pernah ada kata mengeluh,kami sadar ini adalah bagian dari perjuangan hidup Ayah kami untuk keluarga
        Suatu ketika ayah pulang di malam yang sudah menjelang pagi itu,dari luar sudah terdengar memangil manggil kami untuk membukakan pintu,namunkarena Ibu sedikit terlambat membuka nya,tak pelak ibu menjadi sasaran kemarahan nya,saat itu ibu juga seperti nya tak sanggup menahan kemarahan hati nya selama ini,ibu pun menyambut ucapan dan umpatan yang terlontar dari ayah,dan beberapa barang barang yang berada di atas meja dan lemari tak luput jadi sasaran kemarahan yang di akibatkan pengaruh minuman memabukkan itu,kala itu kami hanya bisa menangis dan ketakutan saat mendengar suara ayah mengelegar dan sekali kali terdengar bentakan kepada Ibu,yang ujung nya pasti berantam dengan ibu,dan hal seperti ini sering sekali terjadi.
        Delapan tahun kemudian,Ibuku mengandung adik kami yang paling kecil,dan pada saat ibu mengandung dalam usia sembilan bulan,pertengkaran kembali lagi terjadi di malam yang kala itu hujan deras,saat itu aku melihat pertengkaran mereka sangat hebat,namun satu hal,walaupun ayah dan ibu selalu bertengkar hebat,ayah ku tidak pernah sekalipun lalu tangan atau menampar ibu,malam itu entah setan apa yang merasuki pikiran ayah ku,hingga pertengaran itu memorak morandakan se isi rumah,bahkan Ibu ku yang saat itu dalam keadaan hamil sembilan bulan dia usir dari rumah bersama sama dengan kami anak anak nya.Tak ada pilihan lain,maka malam itu kami,Ibuku,aku dan kedua kaka ku meninggalkan rumah di malam yang gelap bingin karena diguyur deranya hujan,u ntuk mengungsi ke Rumah Tulang kami yang lumayan jauh dari rumah kami,di iringi tangisan kami yang saling bersahut sahutan kala itu.
       Beberapa hari kemudian setelah kami kembali lagi ke rumah Ibu kami ahir nya melahirkan adik kami  yang terkecil dan lagi lagi seorang perempuan,tidak seperti yang ayah harapkan dan lama dia tungu tunggu,saat menerima kenyataan ini,sepertinya, Ayah semakin sadar,bahwa semua ini sudah di gariskan oleh Tuhan,dan ini adalah anugrah yang terbesar yang ia terima,harta yang paling tinggi dang ia dapatkan,meski keinginan nya tidak terpenuhi sampai saat ini,hingga anak terkecil nya terlahir sebagai seorang perempuan.
       Saya bisa memahami keinginan yang lama di impi impikan ayah ku ini,karena seorang anak laki laki adalah sebagai penerus keturunan marga,di keluarga yang akan di bawa nya kelak dikemudian hari,ya,,itu lah adat Batak,namun kali ini seperti nya ayah sudah membuka mata,hati dan pikiran,bahwa keinginan hati nya bukan lah kehendak Tuhan,kekecewaan nya selama ini yang ia lampiaskan ke minuman dan judi ternyata sudah semakin menyebabkan ia jatuh semakin dalam,dan akibat nya sangat mempengaruhi sikap dan mental anak anaknya yang sudah beranjak remaja.
                                                                 
                                                              ********

      Beberapa tahun kemudian kaka kami yang tertua memilih untuk segera menikah dalam usia yang sangat muda,yaitu ketika masih menduduki bangku sekolah SLTA kelas dua,tentu hal ini sangat bertolak belakang dengan ke inginan ayah,dan hal ini kembali ia tentang dengan sangat keras,namun seketika ia ter ingat akan masa lalu nya,saat orang kedua orang tua ibu ku mententang/tidak menyetujui hubungan mereka dahulu,ayah sadar,bahwa segala sesuatu telah berputar seolah pengulangan sejarah apa yang pernah ia jalani,awal nya dengan berat hati ia merestui perikahan Putri tertua nya itu,menikah dengan seorang laki laki pujaan hati nya,yang masih satu kampung dengan kami,dan rencana yang ayah persiapkan sedemikian rupa buat masa depan kaka kami pun sirna seketika,saat ia berkeras untuk tetap menikah,padahal saat itu ayah berencana meneruskan sekolah kaka tertua kami hingga ke jenjang Universitas,namun nasib berkata lain,dan sekali lagi,Ayah harus memendam niat itu.

       Hari berlalu seiring dengan berjalan nya waktu,beberapa tahun kemudian aku menginjakkan kaki di bangku sekolah lanjutan atas(SLTA) yang ada di kecamatan itu,saat menduduki bangku kelas dua,aku mengambil jurusan Biologi agar kelak sesuai dengan jurusan dan fakultas yang ku kehendaki nanti nya,ketika itu aku berniat ingin melanjutkan pendidikan ke jenjang perguruan Tinggi,tentu semua itu aku sudah yakin sebelum nya,bahwa aku pasti mendapat kesempatan di bangku kuliah oleh ayahku,namun……sekali lagi kenyataan berkata lain,ketika aku sudah lulus,ternyata Ayah tidak memberiku peluang itu,
      Rasa frustasi dan kecewa pun menghinggapi pikiranku saat itu kepada ayah,saat itu saya tidak habis pikir,kenapa ayah tidak mengijinkan aku untuk melanjut ke universitas?aku benar benar kecewa akan sikap ayah kala itu,dan tak bisa menerima kenyataan ini,karena saat itu ayah belum pensiaun,jadi saya tak habis pikir atas alasan yang ujung nya mengecewakan ini.
     Suatu malam aku katakan kepada Ayah ku,bahwa aku akan pergi meninggalkan rumah ini,jika aku masih tetap tidak di ijin kan melanjut ke jenjang perguruan tinggi seperti yang telah lama ku impi impikan,dan semua itu tetap tak mengubah pendirian ayah ku,berbagai cara sudah aku lakukan,hingga suatu hari ahir nya aku berniat ke Jakarta ke Rumah kaka ku,dan hal ini pun tak di ijin kan oleh ayah ku jika aku berangkat sendirian ke jakarta,namun niat itu sudah saya pertimbangkan dengan matang matang,tak lama kemudian ahir nya akupun meninggalkan kampung halaman menuju jakarta,dengan di balut kekecewaan ku pada sang Ayah.

       Dalam perjalanan yang tidak mulus dengan menumpangi sebuah Bus tujuan Jakarta dari Pematang Siantar itu,harus menempuh perjalanan hingga lima hari empat malam,di karenakan beberapa kali kerusakan sewaktu dalam perjalanan menuju jakarta,namun Puji TUHAN,ahir nya aku sampai juga di jakarta dan bertemu dengan kaka ku meski dengan kondisi yang kurang sehat,hingga ke esok hari nya aku jatuh sakit,hingga tiga hari berturut turut,setelah aku kembali sehat dan pulih,ahir nya aku pun menatap sebuah Tugu Monas,sebuah pemandangan yang selama ini ku saksikan melalui televisi dan media lain nya,namun kini aku berdiri tepat di hadapan Tugu kebangggan Indonesia ini,lama aku menatap di bawah hingga ke puncak yang berkilau itu,”jakarta aku telah tiba,,orang menyebut kau kota yang kejam dan tak perduli,kota yang tak pernah tidur dan penuh dengan hiruk pikuk,kini aku telah menginjakkan kaki di kota mu,maka akan ku takkluk kan kau jakarta,,”itulah yang ku ucapkan dalam hati ku,namun di jakarta ternyata tidak seperti yang kubayangkan,namun segalanya berjalan melalui proses yang seolah sangat lambat,susah sulit bahkan berliku,entah berapa perusahaan di kawasan industri yang kucoba masukkan lamaran,namun hasil nya nihil,jawaban yang sama selau kudapat kan berulang ulang,”Tunggu saja panggilan nya melalui telepon,,”ah,,,bosan,,”batinku kadang kala.

       Hingga ahirnya beberapa bulan kemudian aku diterima bekerja di salah satu  perusahaan kecil yang bergerak dibidang percetakan Box catering,dengan penghasilan sekitar 60 ribu per minggu,berhubung dengan penghasilan yang demikian kecil,aku terpaksa mencari pekerjaan lain,paling tidak yang lebih layak lah,tak lama kemudian aku bekerja di Kota Bandung,sebenar nya pekekerjaan nya tidak terlalu berat,namun entah kenapa aku tidak betah di tempat ini,bahkan Boss pemilik perusahaan ini sangat baik dan care kepada para karyawan nya,saat aku mengundurkan diri dari perusahaan ini,teman teman yang dulu bekerja disini langsung di angkat menjadi karyawan tetap.
       Dari Bandung aku kembali lagi ke Bekasi,disini aku melamar di sebuah Perusahaan pabrik sepatu,namun justru bukan lebiah baik,alih alih mencari yang lebih mendingan justru malah jadi parah,makan hanya sekedar,diberikan nasi sebungkus kecil,dan lauk apa adanya pula,sampai sampai terkadang menangis saat makan,pekerjaan nya juga sangat berat dan panas,yaitu memanggang sepatu,”bah,,selama ini yang kutau ikan,daging dan roti yang di panggang,ternyata di tempat kerja ku ini,aku dibagian memanggang sepatu,ada kala nya kalau gosong bakalan di omeli oleh pengawas,bahkan suatu ketika,salah seorang rekan kerja ku di tiban sepatu yang gosong itu karena dia lalai,yang mengakibatkan kepala nya berdarah dan bocor.
       Daripada aku korban kedua kepala bocor ditiban hak sepatu,terpaksa ahir nya aku meninggalkan tempat pekerjaan itu,setelah keluar dari sana sekitar dua minggu aku kembali menganggur,cari sana,cari sini,kontak sana kontak sini,hingga ahir nya aku kembali di terima di sebuah perusahaan yang terletak di Cikarang yaitu PT KAO,disini sempat bekerja selama beberapa bulan hingga ahir nya habis masa kontrak,maklum karyawan outsourching,sejak keluar dari perusahaan ini kembali lagi aku menganggur beberapa minggu,hingga uang sisa gaji terahir yang ku pegang semakin menipis.

        Suatu waktu ketika uang sisa pengangan ku tinggal limaribu rupiah,terpaksa lapar pun aku tahan kan,aku berpikir jika uang ini aku belikan nasi sebungkus malam ini,maka dipastikan aku tidak bakalan makan buat esok hari nya,maka akupun menyiasati nya dengan tidur,aku berpikir dengan tidur mungkin rasa lapar akan hilang seketika saat aku terlelap tidur,sebelum aku tidur sengaja ku selipka lembaran uang lima ribuan ini ke dalam Alkitab,”jika Tuhan masih sayang sama aku,keesok hari nya saat aku bangun pasti uang lima ribuan ini akan berubah menjadi 100 kali lipat,,”bathin ku saat itu,dan tak lupa aku berdoa sebelum tidur,namun dasar memang perut tak pernah sejalan dengan pikiran,dan tak bisa dibohongi,ketika jam 5 pagi,aku terbangun karena lapar,bahkan keringat dingin,saat ku lihat pecahan lima ribuan yang kuselipkan di Alkitab tadi,sama sekali tidak berubah,berkali kali ku perhatikan,siapa tau Tuhan langsung menunjukkan muzijat  nya dan lansung menukar nya menjadi pecahan seratus ribuan,,”pikirku dengan polos.namun tetap saja tak berubah.
       Pagi itu kucoba kembali melanjutkan tidurku,namun dasar sudah kelaparan,mata pun sangat sulit dipejamkan,hingga mentari pagi mulai bersinar,saat orang orang sibuk berlalu lalang menuju tempat mereka bekerja,aku hanya lemah tertegun di teras atas kontrakan ku melihat orang yang sudah sibuk di pagi itu,sekitar pukul 07:30 pagi itu,tiba tiba seorang Ito ku bermarga Manik menelepon ku,dan menyuruh ku agar rapi rapi pagi itu,seorang ito yang masih satu daerah dengan ku,akan tetapi beda kecamatan,tak lama kemudian dian datang ke kontrakan ku,
    “Tok,,tok,,tok,,seorang mengetok pintu kamar ku dari luar sana,
    ” Bah,,ai na modom dope ho ito ku,,?tanya nya saat ku buka pintu,
     “Eh,,ito,,masuk ito,,”jawab ku singkat menyambut nya,dengan tampang yang masih kucel dan tempat tidur masih acak acakan,saat itu dia tak segan segan merapikan tempat tidurku yang masih berantakan itu,ketika itu aku hanya bisa tertegun melihat begitu perhatian nya kepada ku,padahal hubungan kami samasekali tak ada ikatan keluarga,hanya kebetulan sama dia marga manik dan aku juga boru damanik,namun ia selalu menganggapku adik kandung nya,karena sebelum nya ia pernah bercerita bahwa ia tidak memiliki ito(saudara perempuan) di keluarga nya,jadi dia berperinsip,setiap boru manik atau damanik dia anggap sebagai adik kandung nya.

        Dari kontrakan ku dia mengajak ku ke sebuah Warung khas Batak yang dan memintaku memesan sepuas nya apa yang kuinginkan,serta memesan kan Juss alpukat kesukaan ku,dan bercerita panjang lebar saat makan usai,darisana dia mengajakku ke Rumah pacar nya,sore hari saat akan menghantarkan ku pulang ke kontrakan,ketika menunggu angkutan kota dia menayakan ku,
      “Ada tidak uang mu ito,,?
      “ada tinggal lima ribu ito,,jawab ku polos kepada nya saat itu,
      “saat itu dia memberiku selembar pecahaan uang 50.000 an,sebelum nya aku ragu,namun dengan sedikit aku terunduk dan akupun menangis menahan haru saat menerima uang itu,ketika dia melihat ku menangis,itoku ini semakin bingung dan penasaran,
      “kenapa kau menangis ito,,?
maka semuanya pun kuceritakan kepada nya tentang keadaan ku saat ini,bahkan ku ceritakan tentang tadi malam semua yang ku alami kepada nya dengan lepas tanpa malu malu,dia pun memeluk ku,seolah meyakin kan serta menghapus air mata ku,
       “amang tahe ibotokon,oto nai boasa ditaon ho male,,?(kenapa bodoh,,lapar kok ditahan tahan,,?)
       “boasa dang di telepon ito au,,?(kenapa ito tidak menghubungi ku tadimalam,,?
       “aku tidak punya pulsa ito,,”jawab ku singkat.
dari sana aku pun meninggalkan nya dan ku lanjutkan kembali menuju kontrakan ku,dalam perjalanan di dalam angkutan kota itu,perasaan ku sedikit terharu,dan kucoba mengartikan jawaban sebuah doa yang kupanjatkan sesaat sebelum tidur tadi malam,aku berpikir,”mungkin melalui seseorang yang kusebut ito ku yang sangat baik hati itu lah,doa ku di jawab oleh Tuhan,”jawab ku dalam hati.berkalikali ku mengucap syukur pada Tuhan.
        Selang satu minggu kemudian aku kembali bekerja di sebuah Perusahaan Elektronik,di kawasan indusrti Cikarang,namun berhubung di tempat ini memberlakukan 3 shift dalam satu hari kerja,sungguh benar benar membuat ku stres,jika tiba shift malam,seakan mata sangat berat diajak kerja sama,dang selalu ngantuk,terkadang berbagai cara pun ku lalukan,agar bisa tidur sebentar,entah itu alasan ke Toilet,padahal karena mata sudah sangat berat dan ngantuk yang selalu menyerang,bahkan sampai sampai pengawas ku mencari cari ku yang tengah tertidur pulas di satu pojokan,padahal jelas jelas tempat itu sangat menakutkan kala malam tiba,terkadang terdengar suara suara aneh yang tidak tau datang nya dari arah mana.jika saat mata ngantuk berat dan tiba tiba mendengar suara2 aneh itu,maka dengan sekejap rasa ngantuk bisa hilang dan mata kembali melek,
       Beberapa bulan kemudian Ibuku menyuruh ku segera meninggalkan tempat itu dan menyarankan ku ke Lampung saja ke Rumah kaka ku,dengan alasan yang sama seperti yang di ungkapkan oleh seorang orang Pintar yang kami temui beberapa hari yang lampau,dan atas pertimbangan ini juga lah,ahir nya aku segera berangkat ke Lampung menemui kaka ku disana,
      Di kota ini aku sempat bekerja beberapa bulan hingga ahir nya bertemu dan berkenalan dengan seorang Pria Batak,lama kelamaan ahir nya akupun jatuh cinta kepada nya,dan resmi berpacaran,karena aku sering berkunjung ke tempat nya,dan kebetulan Ibunya seorang boru Manik,dan ibu nya juga sangat baik kepada ku,hubungan kami pun semakin lengket,namun tidak lama kemudian bebrapa hari sesudahnya aku pun segera pulang,dan kekasih ku itu sempat mengantarkan ku ke terminal Bus yang akan membawaku pulang ke kampung halaman,dan ini lah terahir kali nya aku melihat wajah nya,karena sampai pada detik ini aku tak pernah lagi kembali ke sana.dan melalui telepon kami putus secara baik baik ketika aku sudah berada di kota yang kini ku diami.
        Setelah  aku mendapat kabar bahwa Ayah ku sudah mulai sakit sakitan,saat mendengar kabar itu,perasaan ku sedih dan menangis,aku semakin menyadari,bahwa ini lah alasan yang mendasari bahawa ia sejak dulu berkeras tidak mengijinkan ku melanjut ke jenjang perguruan tinggi,aku tau ayah tak ingin mengecewakan ku saat aku diberi kesempatan namun terputus ditengah jalan dikarenakan kondisi ayah yang sudah mulai tua dan sakit sakitan.

      Beberapa hari sebelum meninggal Dunia,beliau sempat menyuruh Anak anak nya agar segera pulang,melihat nya,mungkin saat itu dia sudah punya firasat bahwa akan tiba saat nya,dan di penghujung bulan Oktober 2008,dua tahun yang lampau,kami anak anak nya pulang,rasa kecewa yang dulu menyelimutiku saat meninggalkan nya di kampung halaman,kini berubah menjadi rasa rindu yang sangat dalam dan haru,aku memeluk ayah ku dengan erat,aku tau dia juga merindukan ku seperti aku sangat merindukan nya.aku menangis dipelukan nya,dan aku memohon maaf setulus tulus nya kepada Ayah..
       Dan ahirnya Ayah meminta untuk di adakan sebuah acara perjamuan kudus yang dipimpin seorang Pendeta,malam tanggal 30 oktober,semua berjalan hening dan hikmad,sesudah acara perjamuan kudus berahir,ayah memberikan pesan pesan terahir nya,kepada kami semua anak anak nya,dan menyanyikan lagu lagu pujian disertai doa,hingga menjelang pagi,dan sekitar pukul 06:30 wib,tanggal 31 Oktober 2008,ayah kami tercinta,Ayah kami tersayang menghembuskan napas terahir nya,disambut dengan Doa dan Tangisan kesedihan dari kami yang di tinggalkan,cucu,anak anak nya dan Istri tercinta nya Ibu kami.
       Kesedihan yang sangat dalam terlihat di wajah Ibuku,mata nya terlihat bengaka dan memerah,air mata nya sudah kering,entah berapa banyak air mata nya keluar menghantarkan kepergian suami yang selalu setia didampingi nya selama ini,yang selalu sabar ia hadapi,suami yang selalu pulang malam dalam keadaan mabuk dan  berantam,suami yang begitu dia cintai nya sepanjang masa,Ayah meninggalkan kami dalam usia nya yang ke 69 tahun,namun apapun stigma yang melekat dalam Ayahku,beliau tetap sosok yang ku kagumi,sosok ayah yang tetap menyayangi kami para anak anak nya,serta jiwa sosial nya yang sangat tinggi.


         “Selamat jalan Ayah kami tercinta,kasih sayang mu akan abadi dan bersemayam di hati kami para anak anak mu selamanya,tak lekang dimakan umur,tak lapuk dimakan usia”

      Kini setelah aku kembali ke kota ini,aku menemukan ladang kehidupan yang baru,sesuatu pekerjaan yang cukup membuat ku selalu bersyukur,setidak nya dalam pekerjaan ku yang kini,aku tidak perlu lagi bersembunyi tidur di pojokan yang gelap,tidak lagi memanggang sepatu,tidak lagi bekerja di bawah deru suara mesin yang memekakkan telinga,dan bunyi alarm yang mengejar ejar terget produksi,setidak nya lebih layak dan santai,meski penghasilan yang kudapatkan tidak seberapa,namun semua itu aku syukuri sepenuh nya,biar bagaimana pun ini adalah berkat yang Tuhan berikan kepada ku,perjalanan ku masih panjang,berliku menanjak dan menurun,semua masih misteri,yang tak pernah bisa ku tebak.biarlah Tuhan yang akan tetap berjalan mendapingi ditiap langkah kaki ku yang akan kulangkahkan ke depan.

Demikian kisah ini saya tuliskan,ahir kata saya ucapkan Terima kasih.

Catatan:Dalam tulisan ini saya coba tuliskan sepanjang yang saya alami,sejauh yang saya rasakan,sedalam yang saya ingat dalam memori,dan dengan menuliskan catatan ini,ada sedikit ke legaan,serta mengobati rasa rindu ku kepada alm Ayahku.disamping mengingat semua masa lalu yang pernah aku jalani,yang kini berlanjut,ke babak selanjutnya….

 *HORAS*                                            Jakarta 24/08/2010


                                                      Sumber Cerita:Desri M.Damanik
                                                          Ditulis oleh:Bresman silalahi

                                                                                                                                                                           

Tentang Bresmansilalahi

Belajar dari hal yang sangat kecil dan sederhana,untuk menemukan sesuatu yang lebih besar dan bermanfaat.
Pos ini dipublikasikan di Kisah. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s