Duapuluh menit di jembatan Tano ponggol


     Tano Ponggol,

Sedikit tentang Tano ponggol,sebuah kanal yang memisah kan daratan Pulau Samosir,panjang kanal sekitar 1km memanjang dari garis pantai Pangururan lebar kanal sekitar 20 meter,dalam foto ini sisi kiri si pemotret adalah daratan Pulau Samosir,sedangkan sisi kanan adalah daratan Pulau sumatra yang menuju tempat wisata aek rangat Pusuk buhit,Kanal yang di bangun sejak zaman Belanda,untuk kepentingan pelayaran maupun transportasi pemerintahan Belanda kala itu,(Tano ponggol)
                          Duapuluh menit,di jembatan Tano ponggol
     Terima kasih buat salah satu sahabat ku,sahabat yang penuh dengan kejutan,yang ku kenal dari dunia maya,suatu persahabatan yang di mulai dari Jakarta hingga ahir nya bertemu kembali di tempat ini,tentu dengan situasi dan kondisi yang berbeda,
     Segala nya ber awal dari kebetulan,saat itu keberadaan ku tepat masih di kampung halaman,yang jarak nya sangat jauh dari foto yang terpampang ini,yaitu Pangururan,menempuh jarak perjalanan sekitar 56 kilometer,melewati jalanan mendaki,menurun,berliku dan menyeberangi Danau Toba,demi satu tujuan,yaitu bertemu dengan mu.salah satu alasan yang mendasari bertemu di tempat ini adalah,karena memang tempat ini lah yang saya datangi sebelum nya beberapa hari sebelum nya dengan seorang teman yang kusebutkan di atas tadi.
     “dimana sekarang,,,?sebuah pesan singkat yang masuk ke ponsel ku kala aku sudah berada di dermaga Tigaras pagi menjelang siang itu,
     “di dermaga tigaras,,”balas ku singkat.
berhubung jarak yang ku tempuh,sedemikian jauh nya,maka tidak mungkin aku menemui nya di kampung halaman nya sendiri di daerah Nainggolan,ahir nya kita pun sepakat untuk bertemu di Pangururan lebih tepat nya,di Tano ponggol,
      Dari dermaga Tigaras aku menyeberangi Danau Toba menuju Simanindo,salah satu Dermaga yang terletak di daratan Pulau Samosir,dan menempuh waktu sekitar 30 menit,riak riak ombak terdengar jelas beradu dengan badan kapal yang memulai memutar haluan menuju Simanindo,saat duduk di atas kapal itu,ku coba merasakan hembusan dingin nya angin yang menerpa wajah ku,di bawah tenda terpal yang menaungi kapal itu,
di atas kapal yang bernama “DOS ROHA”ini kucoba mengabadikan beberapa pemandangan yang indah ke arah Parapat di sisi kiri kapal dan ke Tao Silalahi di sisi kanan kapal ini yang terlihat biru di kejauhan sana.
       Melaju namun pasti,itulah kapal yang ku tumpangi ini,”semoga saja aku menemukan seperti nama kapal ini nanti nya di ujung perjalanan sana,,”benak ku saat itu menerka nerka arti sebuah nama yang terpangpang di bawah televisi berukuran keci di kapal itu,dalam lamunan ku tak sadar aku di kagetkan colekan sang kondektur kapal itu
   “ongkos lae,,,sapa nya  di sela sela lamunan ku sambil memegang beberap lembaran uang di tangan nya,
“berapa lae,,sekaligus onkos sepeda motor,,”?tanya ku kepada sang kondektur itu,
“sepuluh ribu,,,jawab nya singkat,dengan sigap ku rogoh saku celana ku,
 “dari simanindo ke pangururan berapa lama kalau mengendarai sepeda motor lae..”?saat dia sibuk menghitung kembalian dari uang yang kuberikan pada nya,
 “lae mau ke mana,,?tanya dia lagi,,
 “ke Pangururan,,”
 “tak sampai satu jam ke pangururan,,”jawab nya kembali sambil berlalu menagih ongkos ke penumpang yang lain nya,
     Daratan Pulau Samosir pun sudah membentang luas di depan mata,hijau nya bukit bukit yang membentang luas seolah menyambut kedatangan ku,di tanah Samosir yang tersohor itu,tak beberapa lama kapal yang ku tumpangi pun tiba di dermaga Simanindo,salah satu dermaga yang ada di pulau samosir ini,
    Dari Simanindo ahir nya aku melanjutkan perjalanan menuju ke pangururan,di sepanjang perjalanan menuju pangururan,entah berapa perkampungan yang ku lalui,di mulai dari  Simanindo,Simarmata,Parbaba,Pintusona dan sepanjang jalan yang ku lalui sesekali terlihat kuburan yang ber aneka bentuk corak dan warna,tentu hal ini sudah tak asing lagi buat ku,karena memang daerah ini salah satu tanah leluhur orang batak,dan pasti nya masih memegang teguh adat dan tradisi yang di turun kan oleh leluhur.
tidak berapa lama ahir nya aku tiba di Parbaba,sebuah daerah yang masih dalam tahap pengembangan disegala hal pembangunan sarana pemerintahan,karena di daerah ini juga lah letak kantor DPRD kabupaten Samosir,
      Berada di daerah ini mengingatkan ku akan masa lalu saat kecil,ketika salah satu kaka tertua dalam keluarga kami di tugas kan di daerah ini yaitu SMP Negeri Parbaba pada tahun 80 an,aku berpikir,mungkin jika kaka kami tidak di tempatkan disini maka mustahil aku menginjakkan kaki di Pulau Samosir ini,Parbaba yang selalu kami kunjungi saat tibu musim libur panjang yang jatuh pada bulan enam ketika itu,namun semua itu tinggal kenangan,si kaka yang dulu di tugaskan oleh dinas pendidikan dan kebudayaan ke daerah ini kini telah pindah kembali ke Sidamanik,satu daerah pengabdian yang lama dia impikan.
                                                            *********
      Kita tinggalkan Parbaba perjalanan ku lanjutkan menuju pangururan,kota kecil yang jadi kota tujuan ku,di kota ini lah saya sepakat dengan seorang gadis yang belum pernah ku temui sebelum nya,aku hanya mengenal suara nya,dan beberapa foto yang sengaja dia selipkan di dalam akun situs jejaring sosial dunia maya,
      Ketika memasuki gerbang kota ini,perasan mulai sedikit ragu,bagai mungkin bisa ketemu di kota ini?kota yang tidak ku kenal sama sekali ini?bagaimana mungkin aku bisa ketemu dengan seseorang yang hanya ku kenal melalui dunia pesbuk,,?gimana mungkin bertemu nya di pangururan padahal selama ini kami sama tinggal dikota yang sama di jakarta,,?namun,,,,semua keraguan ku di hentikan oleh getaran ponsel di saku ku,sebuah pesan singkat masuk ke ponselku.
      “Abang sudah dimana,,?pesan dari dia..
      “aku sudah tiba di pangururan dan 5mnt lagi sampai di tano ponggol,”balas ku kembali,tak lama kemudian dia kembali mengirimkan pesan singkat kepada ku
       “Tunggu aku di tanoponggol bang,,aku sudah berangakat sedaritadi dari Nainggolan,dan mungkin sekitar 20 menit lagi aku tiba di sana,”isi pesan nya di ahir komunikasi kami saat itu.
       Ahir nya aku pun tiba di tempat yang ku tuju,di Tano ponggol,tempat yang menjadi titik pertemuan kami,saat aku tiba,kucoba menikmati sejenak berdiri tepat di atas jembatan itu,tak luput pula ku abadikan sebuah pemandangan yang mengarah kesisi Sihotang,sisi Parbaba,sebelah Pangururan dan arah ke Pusuk buhit,lima menit sudah berlalu aku di jembatan ini,
       Tak lama kemudian,dia pun tiba di jembatan itu,dengan mengenakan celana Jeans hitam ketat dan atasan kaus ketat brwarna kuning cerah bertuliskan”BEBE”dan di balut baju hangat berlengan panjang berwarna biru,diapun segera menghampiriku,karena saat itu hanya aku yang berdiri di jembatan ini,sehingga dia tak perlu menghubungi ku kembali memastikan nya,
    “Horas,,,”sapaku saat dia mulai mendekat ke arah ku
    “Horas juga,,abang silalahi kan,,?tanya nya seolah memastikan siapa aku,
    “Ya,,,boru Simbolon kan,,?tanya ku kembali sembari menyodorkan tangan ku untuk bersalaman.
    “wah,,,aku tidak menyangka,,kita bisa bertemu disini bang,,”?
    “ia aneh juga ya,,padahal jarak antara Duren sawit dan Cakung tidak begitu jauh,namun justru kita bertemu di tempat yang sangat jauh dari domisili kita selama ini,jarak yang telah kita tinggalkan sekitar 2000km,,”?jawab ku lagu seolah memulai cerita di awal pertemuan kami itu,
     Sekitar duapuluh menit kami di jembatan itu sekedar ngobrol singkat,saat itu aku menilai dia sebai seorang gadis yang cantik kelahiran Samosir tepat nya di Nainggolan,meranatau ke jakarta sekitar 6 tahun,dan bekerja di salah satu perusahaan swata,sederhana,luwes dan memiliki rasa humor yang tinggi serta blak blakan saat bercerita maupun ketika berkomunikasi.
      Dari sana ahir nya dia pun mengajak ku ke sebuah tempat wisata aek rangat,yang terletak di kaki Pusuk buhit,disana kami singgah ke sebuah warung makan yang menyediakan menu Mie gomak,saat mie gomak tersaji di meja,aku pun sedikit menyeritkan dahi,karena memang tak sekalipun ku cicipi mie gomak ala Pangururan ini,mie yang tampak asing bagiku,namun soal rasa boleh dikatakan lumayan lah.
     Di warung itu dia pun mulai bercerita,tentang diri nya,keluarga nya,tentang pekerjaan nya di jakarta,bahkan tentang kisah cinta yang pernah gagal dia jalani nya,begitu juga dengan ku,seolah tak mau kalah dengan cerita heroik perjalanan nya.entah apa saja yang kami bahas disana,hingga waktu tak terasa sudah sekitar jam tiga sore,dari sana akupun mengajak nya ke pantai pasir putih di daerah Parbaba,daerah yang tadi nya ku lewati saat menuju Pangururan.
      Sekitar 20 menit perjalanan ahir nya kami pun tiba di pantai itu,Pantai yang sepi kala itu,disana di bawah sebuah tenda payung berwarna putih,yang yang berdiri diatas hamparan pasir putih dan menghadap ke arah
bibir pantai yang indah itu,dia kembali melanjutkan cerita nya yang terputus ketika kami masih di warung yang terletak dibawah aek rangat Pangururan itu,tak terasa,asik nya cerita kami dan indah nya suasana seolah kami sedang berada di pantai kuta Bali,hingga waktu sudah menunjukkan pukul setengah lima sore,awal nya dia memaksaku untuk menginap di rumah nya,karena ku katakan taksatupun ada keluarga dekat atau Famili kami yang tinggal di Samosir ini,
  “kenapa,,takut,,?tanya dia pada ku saat ku katakan bahwa aku harus pulang,hari itu juga,
 “bukan nya takut,,tapi tdak pantas kan seorang laki laki menginap si rumah gadis,,?jawab ku seolah mencari pembenaran,
  “tak usah terlalu khawatir,mama orang nya sangat terbuka kok,toh sebelum nya juga aku sudah bilang hari ini untuk bertemu dengan marga silalahi,teman di jakarta,,”dia menyebut Ibu nya,saja,karena memang Ayah nya sudah meninggal sekitar 5tahun yang lampau,seperti yang ia ceritakan jauh hari sebelum nya kepada ku,
     Sebenar nya jika mau jujur saat itu aku ingin sekali menerima tawaran baik nya untuk singgah ke rumah nya,meskipun jarak dari Parbaba ke Nainggolan masih sangat jauh,bahkan jika ada sanak famili yang tinggal di daerah itu,setidak nya aku menginap untuk satu malam lagi,sekedar demi pertemuan  kami ke esok hari nya,namun semua itu seolah terpotong oleh waktu yang semakin cepat berputar.
     Dari Pangururan ahir nya kami berpisah,
    “bila aku masih punya waktu lama di kampung halaman,aku pasti datang lagi ke rumah mu,,”ucap ku kepada nya ketika kami menunggu angkutan tiba di pinggiran jalan itu,
    “ya,,datang lah bang sebelum aku pulang ke jakarta,,”
    “kapan pulang ke jakarta,,?tanya seolah ingin tau lebih jauh,
    “aku cuti 3 minggu,dan sekitar tanggal 12-13 aku balik ke jakarta,bang,,”kata nya menjelaskan,tak lama kemudian sebuah angkutan umum yang bernama “Pulosamosir Nauli,berhenti tepat di hadapan kami,
   “aku pulang duluan ya bang,,dan ingat jika masih punya waktu datang lah lah ke Nainggolan,,”ucap nya lagi seolah mengingatkan sambil mengulurkan tangan nya kepadaku,untuk salam perpisahan kami,hingga dia menaiki angkutan itu dan membawa nya kembali ke arah Pangururan,hingga mobil itu menghilang dari pandangan mata di kejauhan,saat sosok boru Simbolon yang anggun dan  itu menghilang dari pandangan ku,segera ku pacu sepeda motor ku sekencang mungkin,karena Trip terahir penyebrangan menuju ke Tigaras tepat pukul lima sore.
      Dengan sisa waktu tinggal 20 menit lagi itu,tak ada pilihan lain selain mengebut sekencang kencang nya sepanjang perjalanan,sesekali ku lirik spedometer mencapai hingga kecepatan 100-110km/jam,kebetulan memang jalan lintasan sepanjang Parbaba hingga Simanindo relatif sepi,jika sampai aku ketinggalan kapal menuju Tigaras maka tak tau lagi memang kuperbuat saat itu,hingga di tengah perjalanan aku masih menyalip sebuah angkutan umum yang menuju Simanindo,rasa kawatir ketinggalan kapal pun ahir nya berkurang seketika,kerena saat itu aku ber asumsi setidak nya kapal itu masih menunggu penumpang yang ada di dalam angkutan ini,baru dia berangkat menuju Tigaras,dan memang seperti itulah pada umum nya,

Saat aku tiba di Dermaga Simanindo ahir nya perasaan ku pun lega seketika saat melihat kapal itu masih bersandar,dan tali pengikat nya pun masih tertambat ke tiang2 dermaga,

     “sudah mau berangkat Tulang,,?tanya ku kepada sang Nahkoda kapal..
     “sebentar lagi,,sekitar 15 menit lagi,jawab nya singkat,
syukur lah,ucapku setengah berbisik,dan sebelum berangkat ku sempatkan singgah sejenak di sebuah warung kopi di dermaga itu,sambil memandang ke arah kapal yang akan menghantarkan ku kembali ke daratan di seberang sana yang terlihat hanya bukit bukit yang diselimuti cahaya mentari senja di Tigaras sana.
     Saat berada di atas kapal aku mencoba membayangkan pertemuan kami itu semua,singkat namun sangat berkesan di hati,”ah,,,andai aku bisa kembali lagi besok menemui nya,,”bisik ku dalam hati,semua tentang dia membayangi pikiran ku sepanjang perjalanan di atas lapal itu,hingga tak sadar kapal sudah mendekati dermaga Tigaras,saat nya aku turun dan melanjutkan kembali perjalanan ku menuju Sidamanik yang masih jauh itu,dengan menyusuri jalan yang terkadang di hisai lobang2 yang menganga ditengah jalan.
      Sepanjang kurang lebih lima kilometer dari dermaga tigaras jalan yang kulalui menanjak dan menikung sangat tajam,sampai ahir nya aku tiba di ujung jalan menanjak itu,serta istrahat sejenak di sebuah Tugu yang menjulang tinggi,sebuah Tugu yang menggambarkan seorang pejuang menunggang kuda kebesaran nya saat melawan penjajahan Belanda.

Dari sini perjlanan ku lanjutkan kembali ke Sidamanik,dengan oleh oleh sejuta kenangan yang tak terlupakan,sampai ahir nya aku sampai di rumah….

                                          *********
    Hari berlalu,sesekali saya menghubungi nya sekedar menanyakan kabar,kabar diri nya,kabar orang Tua nya,demikian juga dengan nya,adakala nya dia menghubunguku,dan bercerita bercanda tawa di ujung telepon,
     “kapan datang ke Nainggolan bang,,,”?begitu selalu ucapan diujung pembicaraan kami,
     “nantilah kalau memang aku punya waktu luang lagi,,aku pasti datang,,jawab ku membalas nya,,
saat itu memang niat untuk kembali bertemu dengan nya sangat kuat,namun berhubung kesibukan lah yang selalu menghalangi nya untuk datang kembali kesana,hingga beberapa hari kemudian,dia mengabari bahwa tanggal 13 januari dia akan kembali ke Jakarta,
      “bang aku berangkat dari Nainggolan tanggal 12,dan nginap semalam  di rumah kaka,karena jadwal keberangkatan ku Pagi tanggal 13,kita ketemu kembali di jakarta kalau abang sudah pulang ke jakarta,dan kabari kalau abang sudah berada di jakarta,”demikian inti dari pembicaraan telepon itu.
sejak dia tiba di jakarta,komunikasi pun semakin intens,seolah ada rasa rindu yang begitu dalam saat dia pergi semakin jauh dari ku,entah kenapa.
     Dua minggu berlalu…..
Di penghujung bulan january ahir nya aku pun kembali lagi ke jakarta,bersama sang Ibu,sehari sebelum aku berangkat pun sudah ku kabari terlebih dahulu pada nya,dan hingga tiba aku di jakarta tetap aku mengabari nya,satu minggu sudah aku berada di jakarta,saat tiba hari sabtu,kami berencana untuk bertemu,di suatu tempat di daerah Jakarta Timur,saat itu rasa rindu ku semakin bertambah kepada nya,dan singkat cerita,pertemuan itu semakin mengokohkan sebuah kata cinta,ridu dan kangen,dan semua itu kusampaikan kepada nya,tanpa rasa canggung,karena aku merasa sudah begitu mengenal nya,demikian juga dengan nya,seolah kita sudah sangat akrab sebelum nya,tanpa ada rasa kaku dan kikuk.
       “Nanti kujawab bang satu minggu lagi beri aku waktu,,,”jawab nya saat ku ungkapkan tentang perasaan ku yang sebenar nya kepada nya,seminggu berlalu,,namun saat itu,,aku berpikir,”ah,,apa pun jawaban mu,ya atau tidak,itu sudah resiko,dan harus ku terima dengan lapang dada,singkat cerita dia menerima segala ucapan ku,dan resmi lah hari itu dia menjadi kekasih ku,
       “Ahir nya sebuah perjalanan panjang dan jauh tak sia sia”,bisik ku dalam hati,hari pertama,kedua,ketiga,,semua nya berjalan seperti apa ada nya,namun dalam hitungan hari ke lima usia kebersamaan yang kami lalui,pada hari yang ke enam dia mulai mengeluhkan penyakit nya,yang mulai kambuh,yang ahir nya dia memutuskan untuk istirahat beberapa hari di rumah untuk pemulihan kesehatan nya,namun tak henti henti nya selalu ku beri dorongan semangat dan spirit agar dia cepat sehat kembali,dan bekerja seperti sedia kala.
       Namun itu semua tak berlangsung lama,saat dia mencoba masuk kerja lagi,dingin nya suhu AC tak mampu menahan nya di ruangan tempat dia bekerja,dan ahir nya kembali lagi istrahat total selama satu minggu,dengan pertimbangan yang matang dan masukan dari Ibu nya selalu meminta nya untuk berobat dulu di kampung halaman nya,ahir nya dia memilih untuk opsi terahir itu,yaitu pulang kembali ke Nainggolan,bahkan kepulangan nya pun sama sekali tak ku duga,
     Saat aku menghubungi nya,ternyata dia sudah berada di bandara Polonia,Medan
   “aku minta maaf bang aku gak sempat pamit kepada mu,ini semua berlangsung sangat singkat,tadi nya aku berniat mengabarimu akan kepulangan ku ini bang,,”jawab nya saat ku minta penjelasan dari nya,
   “aku hanya 2 minggu di kampung bang,paling lama 3 minggu lah,,”dia menimpali ucapan nya lagi,,,
aku hanya bisa tertegun mendapat kenyataan ini,
    “semoga cepat sembuh ya dek,,dan bila sudah pulih kembalilah ke jakarta,,”pesan ku pada nya.
namun hingga waktu yang sebutkan tadi telah berlalu sekian lama nya,setiap kali kutanyakan kepulangan nya,dia selau menjawab “belum tau kapan bang,”semakin lama aku berpikir ini hanya kesia sia an saja,dan ku coba menahan rasa rindu ini kepada nya,dan intens hubungan komunikasi kepada nya pun semakin ku kurangi dengan berjalan nya waktu,aku yakin semua nya akan terjawab di kemudian hari,namun pertanyaan nya,KAPAN,,,,,,????
      Kabar terahir ku dengar dari nya,ia sempat di rawat di salah satu Rumah sakit swasta di Pematang siantar,dengan kondisi yang hampir kritis,beberapa hari yang lalu dia menghubungiku,dan mengatakan kesehatan nya sudah mendingan dan berada di Rumah familiy nya di Pematang siantar,dan ketika ku tanyakan kembali dengan pertanyaan yang sama”kapan rencana kembali ke jakarta,,”?jawaban nya tetap sama,”belum tau bang,,”?ah,,,,pusi,,,,,ng!!!!! namun satu hal, yang selalu ku ucapkan kepada nya,”Semoga cepat sembuh ya dek,,”…..sampai hari ini semua nya menjadi tidak jelas,,,entah kah….!
 Demikian,bila dalam tulisan ini ada kesalahan dalam penyebutanMohon maaf
 Catatan:sengaja foto dari sosok yang kusebutkan dalam cerita ini,tak ku lampirkan dalam catatan ini,demi alasan privasi.

*HORAS*

medellin car rental
 

Bekasi 20/08/2010.                                                  

                                                        

Tentang Bresmansilalahi

Belajar dari hal yang sangat kecil dan sederhana,untuk menemukan sesuatu yang lebih besar dan bermanfaat.
Pos ini dipublikasikan di pejalanan dan tag , , , . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s