Ketiga kalinya aku menangis dipelukan Ayahku


Rambut nya semakin memutih,tubuh nya semakin Tua dan ringkih senyuman nya tetap tersembunyi di balik wajah nya yang jarang tersesenyum,hanya satu yang tak berubah,cara berbicara nya yang selalu tegas tanpa tedeng aling aling.itulah sosok sang Ayah yang begitu ku kagumi dalam hal ketegasan,disiplin dan cara berpikir nya yang selalu berpikir sangat jauh kedepan.

Sekian lama aku meninggal kan di kampung halaman tercinta,ada kalanya Ayah dan ibu kami menjenguk para anak anak nya yang memang kebanyakan sudah bermukim di pulau jawa ini,diantara sembilan anak anak nya,tujuh diantara nya berada di Jakarta,enam laki laki,satu perempuan,satu diantara nya saya sendiri,yang merupakan anak terkecil(bungsu)diantara saudara saudara ku yang saya sebutkan tadi,kesemuanya sudah berkeluarga serta di karunia i beberapa putra dan putri.

Sudah menjadi tradisi pada umum nya,khusus nya orang Batak,jika mereka sudah memiliki cucu,maka atas dasar ini lah mereka sesekali mengunjungi cucu nya sekaligus anak anak nya di tanah perantauan,tiga tahun pertama semenjak aku menginjakkan kaki di kota ini,mereka datang dari kampung,untuk melepas rasa rindu dan sekaligus melihat kelahiran cucu nya,anak dari abang ku yang tertua,tahun ke empat juga demikian,dan begitu juga dengan tahun ke enam,pada tahun yang ke tujuh,ahir nya aku pun punya kesempatan untuk pulang ke kampung halaman.

Sekitar 5 hari lamanya aku di kampung halaman itu,semua nya berubah,sahabat sahabat yang dulu ku tinggal kan semuanya telah meninggalkan kampung itu,sama seperti saya,anak kecil ketika dulu masih SD saat ku tinggal kan kini telah duduk di bangku kuliah, waktu serasa sangat cepat berputar.

Tiba saat nya aku untuk kembali lagi ke tanah perantauan ku.

saat itu tepat hari kamis,segala sesuatu nya sudah rapi tersusun di dalam koper ku,tak lupa ku peluk dan ku cium Ibuku,ito ku dan ku salam lae ku,dan yang terahir Ayah ku,ketika itu aku melihat perubahan yang sangat drastis di wajah nya,dan tak pernah ku lihat raut wajah nya demikian,mata nya berkaca kaca,namun sperti nya dia berusaha untuk menutupi rasa terharu nya itu,saat ku peluk dan ku cium pipi nya dia pun berpesan agar aku baik baik nanti disana terlebih kepada abang abang dan ito ku.

“burju burju ho di jolo ni akka abang mi”(baik baik kamu kepada abang2 mu disana)begitu pesan nya,

“olo bapa,,,jawab ku singkat sambil menunduk kan kepalaku,

Saat aku pamit dan ku tarik koper ku,sekitar tiga langkah,,Ayah ku mengatakan,,

“Dang na laho bereng on ku be ho mangoli,,”(mungkin tak akan bisa lagi kau ku lihat menikah)

langkah ku tiba tiba terhenti saat dia mengatakan nya,,aku kembali lagi masuk ke dalam rumah,dan sepatu ku yang sudah ku kenakan ku buka kembali,aku terdiam duduk di bangku kayu itu,perasaan ku langsung terhenyuh,semangat untuk kembali ke perantauan ahir nya hilang seketika saat belia mengatakan demikian,

“Ga jadi aku pulang”

“ga usah kau dengar kan apa yang dikatakan bapak barusan amang,,”bujuk ibu ku kepada ku,,

saat itu Ibu ku sempat marah kpda Ayah,kenapa hal itu harus di ucapkan pada ku,aku pun menangis,akan ucapan yang terlontar dari Ayah ku,karena aku yakin dan memang selalu terbukti,itu bukan sekedar omongan belaka dari mulut Ayah ku,aku tau ucapan itu adalah firasat yang dia ucapkan tanpa sadar,memang seperti itulah Ayah kami ini.

Di dalam benak ku semakin tak tenang,bagaimana mungkin dia mengatakan itu kepada ku,bagaimana mungkin dia tak melihat ku nanti di saat aku menikah sementara delapan orang saudara saudara ku yang lain nya dia hadiri,dia saksikan dan dia pasu pasu,sementara aku,,,,,,,?yang dia sebut sebagai siampudan nya,yang abang2 ku sebut sebagai hasian nya,yang saudara saudara ku sebut sebagai anak yang selalu dimanjakan nya?setidak nya ini lah sebutan yang selalu dilekat kan oleh abang abang dan ito ku kepada ku.

“tidak usah kau tanggapi yang bapak katakan tadi dek,”,kata ito ku membujuk saat itu.aku masih masih duduk terdiam di bangku itu,aku ingin penjelasan atas ucapan yang barusan di katan oleh ayah ku,tidak berapa lama,ayah ku mendekati ku,dia memegang pundak ku,seolah ingin memberi semangat,

“ke inginan terbesar dalam hati ku adalah menyaksikankalian para anak anak ku hingga menikah,tapi,,ke inginan kita bukan lah kehendak TUHAN,”

hanya itu lah yang ter ucap dari nya saat itu dan dia pun kembali memeluk ku,suatu hal yang sangat ganjil,adalah saat aku melihat nya menangis dan menitik kan air mata,sesuatu hal yang tak pernah kami lihat oleh anak anak nya selama ini.

“berangkat lah kau,,sudah jam berapa ini tak usah terlalu kau pikirkan itu semua,”dia mencoba menenangkan perasaan ku.

Ahir nya pagi itu aku pun berangkat meninggal kan mereka menuju tanah perantauan ku kembali,dengan perasaan yang penuh tanda tanya…

Sore hari nya aku pun ahir nya tiba di kota ini,kota yang penuh sesak,kota yang tidak mengenal belas kasihan,kota yang tak pernah tidur,bahkan kota yang kejam,saat berkumpul di salah satu rumah abang ku,aku menceritakan hal yang sedikit membuat ku mulai gelisah saat aku hendak berangkat dari kampung halaman itu.

Satu tahun berlalu…

Penyakit yang di derita Ayah ku pun mulai kambuh,yaitu penyakit sesak napas,enam bulan sebelum nya memang penyakit nya sudah terdeteksi dan masih bisa di atasi obat obatan yang dia beli dari salah satu klinik di kampung kami itu,akan tetapi samakin lama,penyakit nya itu sering kambuh yan membawa nya harus rawat inap di salah klinik itu,jika kondisi nya mulai membaik dia pun pulang,dan seperti itulah secara ber ulang ulang dalam beberapa bulan,hingga ahir nya Dokter yang bertang jawab di klinik itu menyaran kan agar di rawat di rumah sakit yang lebih lengkap segala peralatan dan fasilitas nya.

Suatu ketika saat aku menayakan perkembangan kesehatan nya melalui telepon,Ayah ku mengabari bahwa dia akan baik baik saja,namun saat itu abang2 ku beserta ito ku menyaran kan agar aku pulang,sekalian menemani Ibu dan ito ku untuk merawat Ayah,supaya di rawat di Rumah sakit yang ada di Pematang siantar,dan mereka juga punya alasan tertentu kenapa harus aku yang pulang.singkat cerita ahir nya aku pun pulang….

Aku kembali tiba di kampung halaman ku,saat ku lihat Ayah ku terbaring lemah di kasur kesayangan nya,badan nya tampak semakin kurus,Aku memeluk nya dengan dengan erat seolah aku ingin memberi semangat agar tetap bertahan,tak kuasa aku menahan haru,sehingga aku menangis dan menitikkan airmata di pelukan nya.

Dua hari sesudah aku tiba,ahir nya kami membawa Ayah untuk di rawat di salah satu Rumah sakit di Pematang siantar,dengan harapan agar kondisi nya semakin membaik,namun selama lima hari lama nya di rawat di rumah sakit itu tak ada tanda tanda perkembangan yang menggembirakan,seperti nya dia juga sudah mulai bosan di ruangan itu,pada hari jumat dia bersikeras untuk pulang,walaupun saya dan semua anak anak nya membujuk agar di pindah ke Rumah sakit yang lebih bagus yang ada di Pematang siantar,namun dia tetap ngotot harus pulang.

Ahir nya kami pun membawa nya pulang di hari jumat sore itu,ke esok hari nya,saya melihat kondisi nya begitu baik,tak pernah ku lihat sebaik itu semenjak aku tiba di kampung halaman,saat itu perasaan ku sedikit lega”,mungkin kesehatan nya sudah mendingan,”pikir ku kala itu,bahkan ke esok hari nya dia memintaku agar memandikan nya,saat memandikan nya aku masih sempat bercanda dengan dia,ahir nya aku dapat melihat senyum nya ketika ku mandikan di siang hari itu.

Namun semua perkembangan itu hanya berlangsung sesaat,minggu sore kesehatan nya semakin memburuk,bahkan bicara nya sudah mulai ngelantur,mengoceh tak karuan,komunikasi pun terputus dia tak mampu lagi merespon apa yang saya bisik kan di telinga nya,setiap perkembangan keadaan Ayah ku selalu ku kabari kepada abang2 ku yang ada di jakarta.

Minggu malam kami mulai sadar saat melihat keadaan Ayah yang semakin parah itu,semakin lama tarikan napas nya semakin lambat,tatapan mata nya menatap kosong,namun bicara nya ngelantur tak jelas apa yang di katakan,Ibu ku menangis berteriak,menyebut nama oppung panggoari nya,begitu juga dengan ito ku,tangisan mereka bersahut sahutan di malam yang sudah menjelang pagi itu,Ibu mengajak kami untuk berdoa bersama sama di sisi Ayah yang tarikan nafas nya semakin tersenggal senggal itu

Aku sudah semakin pasrah akan situasi saat itu,”mungkin memang sudah tiba lah waktu nya,,”bathin ku….

tak henti henti nya aku memandangi wajah nya,tarikan helai nafas nya,sambil aku me meluk dia di sisi kiri nya,namun…..

tak lama kemudian,,ketika Ibuku menyuap kan beberapa sendok air putih ke mulut ayah ku,maka saat itu lah Ayah ku menghembus kan nafas terahir nya,tepat pukul 02:20 pagi hari senin 29 oktober 2009.

Tangis ku pun pecah seketika,tak henti henti nya aku menciumi pipi nya,dan kedua tangan ku tetap memeluk nya,kesedihan yang tak pernah kurasakan selama hidup ku kini telah ku rasakan,kini aku menagis kembali untuk ketiga kali nya tepat di pelukan nya,dan ahir nya segala yang ku kwatirkan semenjak ucapan nya satu tahun yang lampau,kini terjawab lah sudah.

Selamat jalan Ayah kami tercinta semoga TUHAN menerima di sisi NYA.

*HORAS*

Bekasi 11/08/2010.Bresman silalahi
K


Facebook | Ketiga kali nya ku menangis di pelukan Ayah ku

Tentang Bresmansilalahi

Belajar dari hal yang sangat kecil dan sederhana,untuk menemukan sesuatu yang lebih besar dan bermanfaat.
Pos ini dipublikasikan di Kisah. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s