BORU NI DA TULANG


  1. Atention please,,,,,,,bla,,,,bla,,,,bla,,,,,,”sayup sayup terdengar pemberitahuan dari salah seorang crew pesawat,yang menandakan bahwa sesat lagi pesawat akan mendarat di bandara Polonia Medan,aku masih terkantuk kantuk dan ku coba menyegarkan diri serta memasang kembali sabuk pengaman yang sejak mengudara dari bandara Sukarno hatta ku biar kan terbuka agar lebih leluasa dalam tidur ku,
    Ah,,,ternyata sudah sampai”batin ku,sambil mengucap syukur pada SANG KHALIK,saat pesawat bermanufer,ku coba melihat dari balik jendela pesawat,yang terlihat hanya deretan rumah rumah,dan aliran sungai yang terlihat sangat memanjang membelah kota medan,dan terkadang tertutup oleh awan.diketinggian seribu kaki,dua ribu kaki atau tiga ribu kaki?entah lah……..
    Saat menuruni tangga pesawat,persaan ku mulai membuncah,,dalam hati aku berbisik”Medan aku datang,,Sidamanik,,,aku telah kembali”saya tidak begitu mengenal bandara ini,karena saat aku meninggal kan kampung halaman sekitar 10 tahun yang lampau,saya naik kapal laut KM Kelud bersama Tulang ketika itu,dari bandara polonia medan ku coba mengikuti saran dari salah seorang sahabat agar langsung menghubungi Taxi yang khusus tujuan P,Siantar meski mengeluarkan biaya ekstra ketimbang menggunakan Bus Reguler Medan-P.Siantar.
    Sebuah kijang innova ahir nya membawa ku bersama beberapa penumpang lain nya menuju Pematang siantar,sepanjang perjalan,mulai dari kota medan hingga Lubuk pakam yang kami lewati,sama sekali tidak ada yang berubah,sama persis saat ku tinggal kan sekitar 10 tahun yang lampau,”ah…….tak ada yang berubah di lubuk pakam ini ya bang?tanya ku kpda sang sopir untuk memulai percakapan yang sedari tadi tampak membisu,begitu juga dengan 5orang penumpang lain nya,”Yah,,,kek gitu la bang,,sama seperti dulu sampai sekarang tak berkembang.
    Saat berada di sei rampah,hanya satu yang menandakan perubahan kota itu di sana yaitu perempatan baru yang di lengkapi lampu lalu lintas,”nah,,ini lah yang berubah bang,,hehehe…,kata sang sopir itu kepada ku,saat mobil itu di hentikan lampu merah yang tiba tiba menyala di perempatan itu.
    Kami pun tiba di Bengkel,ini nama daerah antara tebing tinggi dan tanjung morawa,mungkin sudah peraturan perusahan Taxi ini wajib berhenti di salah satu loket yang sudah di tentukan,untuk sekedar istirhat sejenak,sambil mengobrol bersama penumpang lain nya atau membeli oleh oleh Dodol bengkel.
    saat melanjutkan perjalan menuju pematang siantar,ku coba tidur sejenak karena sepanjang perjalan,tidak ada yang berubah drastis untuk di nikmati.
    “Bang,,,,
    “Bang,,,
    Tiba tiba aku di kagetkan suara sang sopir yang berusaha membangun kan ku dari tadi,,
    “Hah,,,kenapa bang,,,?kita udah sampai di siantar,,,?tnya ku sambil melihat ke arah jendela..
    “Udah bang tapi masi di rambung merah,,abang di antar kemana ini?jawab nya lagi,,,
    “aku di antar terahir aja,,sekalian mau menikmati kota siantar ini dulu”,,,,
    entah berapa lama aku tertidur tadi sejak dari Bengkel,,,,
    Saat berada di kota Pematang siantar suasana nya begitu berbeda dengan Medan,lebih dingin dan sejuk,lengkap dengan berseliweran nya becak BSA yang menjadi ciri khas kota pematang siantar selama ini,becak bersejarah yang telah di lestarikan sebagai bagian dari peningalan Perang Dunia ke dua.
    Entah kemana saja mobil ini mengantar kan para penumpang itu tadi,hingga tiba saat nya giliran ku untuk di antarkan nya,
    “Alamat nya dimana bang”?tanya sang sopir kepada ku
    “Sidamanik,,jawab ku singkat
    “Bah,,itu udah di luar lintas kami bang,,?
    “Ia aku tau kok bang,,tapi bisa kan?
    “Pasti bisa lah bang,,tapi tarif nya sama dengan tarif ke siantar-medan,,ya itu klau abg mau,kalau ga juga ga apa kok bang,
    Negoisasi tarif pun rampung,ahir nya aku di antarkan hingga ke sidamanik,,sepanjang perjalanan dari siantar ke sidamanik,aku benar2 menikmati pemandangan di kiri kanan jalan di hiasi oleh sawah yang membentang luas.
    Selama kurang lebih 20 menit perjalanan ahir nya aku pun tiba di kampung yang ku tuju,kampung halaman Sidamanik,kampung yang begitu lama ku tinggal kan,jalan yang dulu hanya di lapis aspal berkerikil,kini telah berubah menjadi jalan raya yang berlapis Hotmix,melewati tanah lapang sarimatondang,yang dulu nya hanya satu jalur,kini telah brubah menjadi dua jalur,lengkap dengan separator pembatas jalan,begitu juga dengan trotoar.
    Saat tiba di rumah,aku di sambut dengan Pelukan hangat dari Ibu,ibunda yang sekian lama nya ku tinggal kan,tak kuasa aku menahan haru hingga aku menitik kan air mata,”Ibu,,aku telah pulang,,anak bungsu yang dulu di anggap hilang kini sudah kembali ke pangkuan mu”aku tau beliau sangat bahagia saat melihat ku kembali di hadapan nya,meski pulang dengan tangan kosong.
    Gelap semakin menyelimuti kampung halaman ku,dingin nya pun semakin menusuk tulang,satu per satu para kerabat dan tetengga berdatangan ke Rumah kami,untuk menanyakan kabar ku.dan kabar yang ku bawa dari negeri seberang.
    Ke esok hari nya,saat mentari mulai menampakkan sinar nya,bergegas aku bangkit dari tempat tidur untuk jiarah ke makam sang Ayah tercinta,di sana aku bersimpuh dan memeluk gundukan tanah serta menangis sejadi jadi nya,di depan pusara ayah ku,aku mengeluh,,dan seolah aku berbicara dengan nya,entah apa lagi yang akan ku sampai kepada nya,hanya se onggok gundukan tanah lah lah yang dapat ku saksikan di hadapan ku,entah berapa lama aku disana hingga ibu ku menghampiri k dari belakang,serta memeluk ku,seolah menenangkan segala kegalauan pikiran ku saat berada di depan pusara nya.Ibu ku ahir nya membasuh wajah ku,dan mengajari ku”Pasahat ma aha na di bagas roha mi amang”begitu kata ibu ku padaku.
    Sepulang dari makam ayah saya bergegas ke rumah Tulang,yang jarak nya tidak terlalu jauh dari rumah kami,disana aku masih menemukan jiwa seorang Tulang yang sama seperti dulu ketika aku masih di kampung ini,Wajah nya semakin tua,Rambut nya semakin me mutih,tapi gaya berbicara nya selalu sama seperti dulu,meledak ledak.
    Saat becerita panjang lebar dengan Tulang ini,tiba tiba pembicaraan kami langsung mengarah ke jodoh,,”Ah,,,ini lah topik yang paling ku hindari Tulang,,”ujar ku sambil trtawa,
    “Ah,,,hindari gimana maksud kau,,,?bukan nya umur mu sudah 30
    “ia Tulang,,memang sudah 30,tapi kalau Tuhan belum menunjukkan jodoh itu kita mau bagaimana lagi tulang?
    “semakin jauh perjalan mu,semakin lupa kau ku tengok sama kekeluargaan ini.
    “Loh,,maksud tulang bagaimana?aku kurang faham,,”jawab ku penasaran,,,,
    “Pasti si Bintang tak kau kenal lagi sekarang kan,,?beliau menyebut nama boru Tulang yang terkecil itu,
    “hmmm,,,,,nama nya masih ingat tulang,,tapi wajah nya aku sudah lupa,,”
    sambil aku berdiri untuk melihat foto foto yang berjejer di dinding,
    “Dia baru lulus SMK,dan sekarang lagi kerja di Medan,biasa nya dia pulang sekali 3 mggu,kebetulan minggu besok dia pulang,nah,,,kalau ada nya nyali mu dekati lah Pariban mu itu,,”
    bah,,,orang nya belum terlalu ku kenal,udah langsung mendekati”pikir ku dalam hati,
    aku hanya bisa menganguk angguk,dan berpikir sosok si Bintang yang kutinggalkan masih SD kelas 4 itu,meski demikian aku tetep mempertimbangkan saran yang di berikan Tulang ini,dan yang pasti seperti nya Tulang ini pun serius akan hal ini,karna aku tau persis sosok Tulang ini sejak dahulu.
    Ke esok hari nya sambil bercita certa dengan Ibu,aku menceritakan apa yang kami perbincangkan kemarin sore dengan Tulang sewaktu di rumaah nya,dan sebagai pertimbangan aku menanyakan seprti apa si Bintang itu,seperti apa sikap nya terhadap ibu,belum selesai aku menanyakan hal itu kpda ibu,beliau langsung memotong pembicaraan ku.
    “Rikkot do ho amang di Tulang mi,,?
    “Rikkot do au inang (ibu)
    “Alana rikkot do Tulang mi marnida ho,jala rikkot do si Bintang maradophon au namboru na,dung sahalak ku di huta,attong molo songoni,,na olo do ho amang rikkot tu si si Bintang?
    Ibu bercerita,jauh hari sebelum nya mereka sudah membicarakan ini,namun karena kabarku tak kunjung datang dengan sekian lama nya,maka rencana itu pun buyar se iring dengan berjalan nya waktu,berhubung diantara kami sekeluarga yang laki laki,tak satu pun yang menikah ke pariban nya,maka ada niat Tulang dan ibu untuk tetap menyambung pertalian itu dengan cara seperti ini,dan di ahir pembicaraan ku dengan ibu malam itu,beliau mengatakan”keputusan semua di tangan mu amang dan ibu tak pernah memaksa,tp asal kamu sdh faham tentang ke inginan yang ibu dan pihak tulang sampaikan itu tadi”
    Sebelum tidur aku sempat berpikir,seperti apa ini si pariban si boru ni Tulang ini?bisa kah aku menerima si Bintang dalam tempo yang sangat singkat ini?dan begitu juga dengan nya,apa dia bisa menerimaku dan menerima saran para keluarga besar ini???ah,,,,apa pun itu aku coba aja dulu,batin ku,,
    Sabtu sekitar pukul sebelas siang,,aku sengaja berangkat ke suatu tempat dimana ketika masih sekolah tempat ini sering kami kunjungi bersama sama teman sebaya kala itu,tak ada yang berubah di tempat ini,dan selalu Romantis sepanjang masa,dengan pemandangan menghadap ke Danau Toba,satu jam,dua jam,tiga jam dan hingga pukul 5 sore aku habiskan waktu di tempat ini,tempat yang semakin ramai di kunjungi para anak2 muda untuk sekedar menghabiskan malam minggu bersama. pasangan nya.
    Saat aku asik duduk di bawah pohon pinus sambil mengedit beberapa foto yang ada di dalam ponsel ku,tiba tiba dua orang Gadis berwajah belia menghampiri ku,,
    “Bang,,bisa pinjam handphone sebentar ga,cuma mau misscall aja kok,”kata salah seorang kepada ku.setelah ku berikan dia seperti nya menghubungi no seseorang,entah itu siapa,dan setelah itu dia mengembalikan kembali kepada ku serta mengucap terima kasih,
    “oh ia,,,marga apa bang,,?tanya nya kembali sambil menyodorkan tangan nya,
    “silalahi”
    “boru manik,,” jawab nya,sambil kami besalaman dengan teman nya yang satu lagi,
    “oh ya,,,Pariban ku kalau begitu,,kebetulan mama boru manik,,”
    “wah,,,iban lah kita kalau gitu jawab nya lagi,
    tapi entah kenapa si br manik ini gampang sekali tersenyum kala itu,ahir nya kami pun ngobrol di sebuah warung menceritakan pengalaman kami masing masing,entah bagaimana cara nya saat itu aku bisa langsung tertarik dan smpatik pada nya di ahir pembicaraan kami yang singkat itu,kami sepakat untuk kembali esok hari nya ke tempat ini.
    Saat aku bangun di pagi hari nya,ibu mengatakan padaku bahwa si Bintang lagi pulang dari Medan,” dia kemarin datang ke rumah tapi mama bilang kau lagi pergi Dolok panatapan,kesana lah kamu amang,ke rumah Tulang mu,sekalian biar ketemu kau dengan si Bintang,ah,,,nanti siang lah ma,,sekalian aku mau ke dolok panatan nanti jam 3″ujar ku pada ibu ku
    “Emang ada siapa sekarang disana?kok semakin rajin kau kesana skrng??tanya ibu ku penasaran,dan aku hanya bisa tersenyum kepada nya,siang itu aku bermaksud ke rumah Tulang dulu,habis itu ke dolok panatan untuk bertemu kembali dengan si boru manik yang misterius itu.
    Ketika tiba di rumah Tulang,tak tampak ada sosok gadis disana,”kemana si Bintang Tulang,,kata mama dia sudah pulang dari medan,”bah,,,emang belum ketemu kalian,,?dia kemarin dari rumah,,”
    “ia Tulang kata mama juga begitu,,tapi kemarin aku lagi pergi ke dolok panatapan makanya kita tidak ketemu,”
    “barusan dia pergi sama teman nya naik kreta(motor)kata nya mau ke rumah kawan nya,tapi pulang nya kata nya sore,entah mau kemana dia itu,”
    “ah,,nama nya juga naposo Tulang,,jawab ku singkat,,”
    “kalau begitu nanti malam lah aku dtang tulang,kebetulan aku juga mau ke dolok panatapan sekarang,,”aku pun pamit dari rumah Tulang ku dan segera meluncur ke Dolok panatapan.
    Saat aku tba disana aku telah melihat nya menunggu ku di tempat yang sama di bawah pohon pinus yang tinggi,dan segera aku menghampiri nya.
    “hai,,,,sudah lama nunggu ya Pariban,,?kata ku dari arah belakang,seolah mengagetkan nya akan kehadiran ku dan tak dia duga,senyum manis nya pun mengembang dari bibir mungil nya,
    “ah,,,tidak juga kok iban,,baru cuma 5menit”jawab nya singkat,
    dari dolok panatapan ini,aku mengajak nya ke sebuah tepi pantai Dana Toba di dekat sebuah Tanjung,tempat ini lumayan lah buat di jadikan sebagai tempat memulai cerita,di iringi hembusan semilir angin dari tepian danau toba dan hempasan suara ombak di pantai yang berbatu semakin menambah eksotis suatu pertemuan ini.
    Hingga ahir nya kami sampai pada pembicaraan mengenai jodoh,dan ahir nya ku ceritakan apa yang sedang ku alami kini,dia dengan setia nya medengar cerita ku,dan sesekali merespon apa yang menjadi kendala yang ku hadapi kini,”sungguh manis pariban di hadapan ku ini”begitulah kata hati ku saat berada di samping nya kala itu,saat aku meminta pendapat dari nya,dan memberi waktu untuk berbicara,maka dia pun mengutarakan nya
    “jika aku jadi iban maka aku akan kejar pariban abang itu,apalagi selama ini menurut cerita mama nya abang,pariban nya abang itu sangat baik kepada mama nya abang,jadi apa lagi yang abang tunggu,,?bukan kah kebaikan yang selama ini yang pariban nya iban itu sudah menjadi satu bukti yang sangat jelas?apakah ada lagi pertimbangan yang membuat iban ragu,?
    “Tapi pariban,,?
    “Tapi kenapa,,?sudah cukup jelas kan?
    “bukan itu maksud ku iban,,”aku mencoba membela diri
    “iban,,coba lah untuk realistis akan kenyataan ini,,percaya lah,,ini semua demi kebaikan iban,dan keluarga iban,dan aku yakin,,,ini yang terbaik buat iban,,percaya lah….
    Perasaan ku jadi hancur,,aku jadi serba salah,jujur salah,bohong apalagi,,padahal di dalam hati aku sangat mengagumi sosok dia ini,dan ahir nya dengan keberanian yang di paksakan ahir nya aku pun harus jujur kepada nya tentang perasaan ini.
    “Pariban,,,kalau aku boleh jujur sekarang,,aku mau katakan yang sesungguh nya,,sejak pertama sekali bertemu dengan mu,aku merasakan kedamaian yang sangat berbeda,aku tidak tau menterjemah kan nya seperti apa,,”
    “Cukup,,,,,iban,,aku masih memiliki perasaan yang sama,apalagi sesama wanita yang notabene sama2 boru manik,aku tiada apa2 nya di bandingkan dengan pariban nya iban itu,jadi sekali lagi,aku mohon maaf,aku pulang duluan ya iban,salam sama pariban nya iban,,,,
    “Tapi iban…….belum sempat aku berbicara tiba2 di meninggal kan ku,,,,,
    ah,,,,,entah apa lagi nasib yang ku hadapi ini,,,bathin ku dalam hati,
    Sejak jam lima sore ku habis kan waktu kesendirian ku di tepi pantai itu hingga mendekati pukul tujuh malam,aku berusaha menenangkan pikiran di tepian DanauToba ini,aku berpikir,jangan sampai mama melihat ku dengan tampang yang lagi kusut di belit masalah ini.
    Dari sana aku langsung menuju ke Rumah Tulang untuk bertemu dengan si Pariban Bintang,karena aku sudah sempat bilang tadi siang pada tulang itu untuk kembali lagi saat malam tiba,ketika aku tiba disana,aku langsung duduk di Ruang Tengah,di atas kursi itu terletak Tas berwarna hitam,persis seperti tas yang di kenakan Boru manik yang begitu saja meninggal kan ku di tepi pantai tadi sore,,,ah…mungkin saja tas yang sama,toh dimana mana banyak jenis dan warna tas yang sama pikir ku,
    “Saat Tulang itu memanggil si Bintang dari kamar nya,maka rasa penasaran ku pun semakin menbuncah,,terasa dengan keringat yang membasahi telapak tangan ku,hening dan sadikit tegang dalam hati saat itu,namun,,,,,,hah……..???????
    Alangkah terkejut nya aku saat yang keluar menghampiriku saat itu adalah si boru manik yang meninggalkan ku tadi sore di pantai itu.
    Hah,,,,,kamu,,,?iban? yang tadi sore kan”?
    belum selesai rasa kebingugan ku tehadap nya,tangan ku langsung dia tarik ke luar untuk berbicara di teras rumah,,
    “kenapa,,,abang kaget,,?abang bingung,,?abang masih memilih si boru manik yang ketemu di dolok panatapan tempo hari itu?atau sekarang memilih si Bintang?jawab bang,,,,ia bertubi tubi memberi pertanyaan padaku,
    “ini semua strategi kamu sebelum nya”?tnyaku masih belum percaya
    “ia bang,,saya sengaja,karna aku yakin,,abang tidak kenal lagi dengan ku sekarang,makanya aku bersandiwara menjadi orang lain selama 3 hari,aku sengaja datang ke dolok panatapan menyusul abang saat namboru mengatakan abang lagi pergi ke sana,saat itu aku pamit kepada Tulang untuk mengajak si Bintang ke Rumah kami,untuk bercerita lebih detail tentang strategi dia ini.
    Sesampai di rumah,,,aku tertawa sejadi jadi nya akan ke konyolan ini,saat dia menanyakan kembali siapa yang ku pilih antara si Bintang dan si boru manik,maka jawaban ku abalah dua dua nya.saat dia tanya kenapa?maka ku jawab karena dua sosok dalam satu kenyataan.
    Di depan sang ibu maka ku kecup kening Pariban ku ini,sebagai tanda bahwa aku benar2 mencintai dan menyayangi nya hungga ahir nya nanti satu ikatan pernikahan akan menyatukan kami untuk selama lama nya,dan ini lah ahir nya yang menjadu ke inginan seluruh keluarga besar ku dan juga keluarga besar Tulang ku.Semoga………..
    ahir kata saya ucapkan terima kasih……

    *HORAS*
    Bekasi 29 juli 2010 Bresman silalahi Tolping

Tentang Bresmansilalahi

Belajar dari hal yang sangat kecil dan sederhana,untuk menemukan sesuatu yang lebih besar dan bermanfaat.
Pos ini dipublikasikan di cinta. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s