Duapuluh menit di jembatan Tano ponggol


     Tano Ponggol,

Sedikit tentang Tano ponggol,sebuah kanal yang memisah kan daratan Pulau Samosir,panjang kanal sekitar 1km memanjang dari garis pantai Pangururan lebar kanal sekitar 20 meter,dalam foto ini sisi kiri si pemotret adalah daratan Pulau Samosir,sedangkan sisi kanan adalah daratan Pulau sumatra yang menuju tempat wisata aek rangat Pusuk buhit,Kanal yang di bangun sejak zaman Belanda,untuk kepentingan pelayaran maupun transportasi pemerintahan Belanda kala itu,(Tano ponggol)
                          Duapuluh menit,di jembatan Tano ponggol
     Terima kasih buat salah satu sahabat ku,sahabat yang penuh dengan kejutan,yang ku kenal dari dunia maya,suatu persahabatan yang di mulai dari Jakarta hingga ahir nya bertemu kembali di tempat ini,tentu dengan situasi dan kondisi yang berbeda,
     Segala nya ber awal dari kebetulan,saat itu keberadaan ku tepat masih di kampung halaman,yang jarak nya sangat jauh dari foto yang terpampang ini,yaitu Pangururan,menempuh jarak perjalanan sekitar 56 kilometer,melewati jalanan mendaki,menurun,berliku dan menyeberangi Danau Toba,demi satu tujuan,yaitu bertemu dengan mu.salah satu alasan yang mendasari bertemu di tempat ini adalah,karena memang tempat ini lah yang saya datangi sebelum nya beberapa hari sebelum nya dengan seorang teman yang kusebutkan di atas tadi.
     “dimana sekarang,,,?sebuah pesan singkat yang masuk ke ponsel ku kala aku sudah berada di dermaga Tigaras pagi menjelang siang itu,
     “di dermaga tigaras,,”balas ku singkat.
berhubung jarak yang ku tempuh,sedemikian jauh nya,maka tidak mungkin aku menemui nya di kampung halaman nya sendiri di daerah Nainggolan,ahir nya kita pun sepakat untuk bertemu di Pangururan lebih tepat nya,di Tano ponggol,
      Dari dermaga Tigaras aku menyeberangi Danau Toba menuju Simanindo,salah satu Dermaga yang terletak di daratan Pulau Samosir,dan menempuh waktu sekitar 30 menit,riak riak ombak terdengar jelas beradu dengan badan kapal yang memulai memutar haluan menuju Simanindo,saat duduk di atas kapal itu,ku coba merasakan hembusan dingin nya angin yang menerpa wajah ku,di bawah tenda terpal yang menaungi kapal itu,
di atas kapal yang bernama “DOS ROHA”ini kucoba mengabadikan beberapa pemandangan yang indah ke arah Parapat di sisi kiri kapal dan ke Tao Silalahi di sisi kanan kapal ini yang terlihat biru di kejauhan sana.
       Melaju namun pasti,itulah kapal yang ku tumpangi ini,”semoga saja aku menemukan seperti nama kapal ini nanti nya di ujung perjalanan sana,,”benak ku saat itu menerka nerka arti sebuah nama yang terpangpang di bawah televisi berukuran keci di kapal itu,dalam lamunan ku tak sadar aku di kagetkan colekan sang kondektur kapal itu
   “ongkos lae,,,sapa nya  di sela sela lamunan ku sambil memegang beberap lembaran uang di tangan nya,
“berapa lae,,sekaligus onkos sepeda motor,,”?tanya ku kepada sang kondektur itu,
“sepuluh ribu,,,jawab nya singkat,dengan sigap ku rogoh saku celana ku,
 “dari simanindo ke pangururan berapa lama kalau mengendarai sepeda motor lae..”?saat dia sibuk menghitung kembalian dari uang yang kuberikan pada nya,
 “lae mau ke mana,,?tanya dia lagi,,
 “ke Pangururan,,”
 “tak sampai satu jam ke pangururan,,”jawab nya kembali sambil berlalu menagih ongkos ke penumpang yang lain nya,
     Daratan Pulau Samosir pun sudah membentang luas di depan mata,hijau nya bukit bukit yang membentang luas seolah menyambut kedatangan ku,di tanah Samosir yang tersohor itu,tak beberapa lama kapal yang ku tumpangi pun tiba di dermaga Simanindo,salah satu dermaga yang ada di pulau samosir ini,
    Dari Simanindo ahir nya aku melanjutkan perjalanan menuju ke pangururan,di sepanjang perjalanan menuju pangururan,entah berapa perkampungan yang ku lalui,di mulai dari  Simanindo,Simarmata,Parbaba,Pintusona dan sepanjang jalan yang ku lalui sesekali terlihat kuburan yang ber aneka bentuk corak dan warna,tentu hal ini sudah tak asing lagi buat ku,karena memang daerah ini salah satu tanah leluhur orang batak,dan pasti nya masih memegang teguh adat dan tradisi yang di turun kan oleh leluhur.
tidak berapa lama ahir nya aku tiba di Parbaba,sebuah daerah yang masih dalam tahap pengembangan disegala hal pembangunan sarana pemerintahan,karena di daerah ini juga lah letak kantor DPRD kabupaten Samosir,
      Berada di daerah ini mengingatkan ku akan masa lalu saat kecil,ketika salah satu kaka tertua dalam keluarga kami di tugas kan di daerah ini yaitu SMP Negeri Parbaba pada tahun 80 an,aku berpikir,mungkin jika kaka kami tidak di tempatkan disini maka mustahil aku menginjakkan kaki di Pulau Samosir ini,Parbaba yang selalu kami kunjungi saat tibu musim libur panjang yang jatuh pada bulan enam ketika itu,namun semua itu tinggal kenangan,si kaka yang dulu di tugaskan oleh dinas pendidikan dan kebudayaan ke daerah ini kini telah pindah kembali ke Sidamanik,satu daerah pengabdian yang lama dia impikan.
                                                            *********
      Kita tinggalkan Parbaba perjalanan ku lanjutkan menuju pangururan,kota kecil yang jadi kota tujuan ku,di kota ini lah saya sepakat dengan seorang gadis yang belum pernah ku temui sebelum nya,aku hanya mengenal suara nya,dan beberapa foto yang sengaja dia selipkan di dalam akun situs jejaring sosial dunia maya,
      Ketika memasuki gerbang kota ini,perasan mulai sedikit ragu,bagai mungkin bisa ketemu di kota ini?kota yang tidak ku kenal sama sekali ini?bagaimana mungkin aku bisa ketemu dengan seseorang yang hanya ku kenal melalui dunia pesbuk,,?gimana mungkin bertemu nya di pangururan padahal selama ini kami sama tinggal dikota yang sama di jakarta,,?namun,,,,semua keraguan ku di hentikan oleh getaran ponsel di saku ku,sebuah pesan singkat masuk ke ponselku.
      “Abang sudah dimana,,?pesan dari dia..
      “aku sudah tiba di pangururan dan 5mnt lagi sampai di tano ponggol,”balas ku kembali,tak lama kemudian dia kembali mengirimkan pesan singkat kepada ku
       “Tunggu aku di tanoponggol bang,,aku sudah berangakat sedaritadi dari Nainggolan,dan mungkin sekitar 20 menit lagi aku tiba di sana,”isi pesan nya di ahir komunikasi kami saat itu.
       Ahir nya aku pun tiba di tempat yang ku tuju,di Tano ponggol,tempat yang menjadi titik pertemuan kami,saat aku tiba,kucoba menikmati sejenak berdiri tepat di atas jembatan itu,tak luput pula ku abadikan sebuah pemandangan yang mengarah kesisi Sihotang,sisi Parbaba,sebelah Pangururan dan arah ke Pusuk buhit,lima menit sudah berlalu aku di jembatan ini,
       Tak lama kemudian,dia pun tiba di jembatan itu,dengan mengenakan celana Jeans hitam ketat dan atasan kaus ketat brwarna kuning cerah bertuliskan”BEBE”dan di balut baju hangat berlengan panjang berwarna biru,diapun segera menghampiriku,karena saat itu hanya aku yang berdiri di jembatan ini,sehingga dia tak perlu menghubungi ku kembali memastikan nya,
    “Horas,,,”sapaku saat dia mulai mendekat ke arah ku
    “Horas juga,,abang silalahi kan,,?tanya nya seolah memastikan siapa aku,
    “Ya,,,boru Simbolon kan,,?tanya ku kembali sembari menyodorkan tangan ku untuk bersalaman.
    “wah,,,aku tidak menyangka,,kita bisa bertemu disini bang,,”?
    “ia aneh juga ya,,padahal jarak antara Duren sawit dan Cakung tidak begitu jauh,namun justru kita bertemu di tempat yang sangat jauh dari domisili kita selama ini,jarak yang telah kita tinggalkan sekitar 2000km,,”?jawab ku lagu seolah memulai cerita di awal pertemuan kami itu,
     Sekitar duapuluh menit kami di jembatan itu sekedar ngobrol singkat,saat itu aku menilai dia sebai seorang gadis yang cantik kelahiran Samosir tepat nya di Nainggolan,meranatau ke jakarta sekitar 6 tahun,dan bekerja di salah satu perusahaan swata,sederhana,luwes dan memiliki rasa humor yang tinggi serta blak blakan saat bercerita maupun ketika berkomunikasi.
      Dari sana ahir nya dia pun mengajak ku ke sebuah tempat wisata aek rangat,yang terletak di kaki Pusuk buhit,disana kami singgah ke sebuah warung makan yang menyediakan menu Mie gomak,saat mie gomak tersaji di meja,aku pun sedikit menyeritkan dahi,karena memang tak sekalipun ku cicipi mie gomak ala Pangururan ini,mie yang tampak asing bagiku,namun soal rasa boleh dikatakan lumayan lah.
     Di warung itu dia pun mulai bercerita,tentang diri nya,keluarga nya,tentang pekerjaan nya di jakarta,bahkan tentang kisah cinta yang pernah gagal dia jalani nya,begitu juga dengan ku,seolah tak mau kalah dengan cerita heroik perjalanan nya.entah apa saja yang kami bahas disana,hingga waktu tak terasa sudah sekitar jam tiga sore,dari sana akupun mengajak nya ke pantai pasir putih di daerah Parbaba,daerah yang tadi nya ku lewati saat menuju Pangururan.
      Sekitar 20 menit perjalanan ahir nya kami pun tiba di pantai itu,Pantai yang sepi kala itu,disana di bawah sebuah tenda payung berwarna putih,yang yang berdiri diatas hamparan pasir putih dan menghadap ke arah
bibir pantai yang indah itu,dia kembali melanjutkan cerita nya yang terputus ketika kami masih di warung yang terletak dibawah aek rangat Pangururan itu,tak terasa,asik nya cerita kami dan indah nya suasana seolah kami sedang berada di pantai kuta Bali,hingga waktu sudah menunjukkan pukul setengah lima sore,awal nya dia memaksaku untuk menginap di rumah nya,karena ku katakan taksatupun ada keluarga dekat atau Famili kami yang tinggal di Samosir ini,
  “kenapa,,takut,,?tanya dia pada ku saat ku katakan bahwa aku harus pulang,hari itu juga,
 “bukan nya takut,,tapi tdak pantas kan seorang laki laki menginap si rumah gadis,,?jawab ku seolah mencari pembenaran,
  “tak usah terlalu khawatir,mama orang nya sangat terbuka kok,toh sebelum nya juga aku sudah bilang hari ini untuk bertemu dengan marga silalahi,teman di jakarta,,”dia menyebut Ibu nya,saja,karena memang Ayah nya sudah meninggal sekitar 5tahun yang lampau,seperti yang ia ceritakan jauh hari sebelum nya kepada ku,
     Sebenar nya jika mau jujur saat itu aku ingin sekali menerima tawaran baik nya untuk singgah ke rumah nya,meskipun jarak dari Parbaba ke Nainggolan masih sangat jauh,bahkan jika ada sanak famili yang tinggal di daerah itu,setidak nya aku menginap untuk satu malam lagi,sekedar demi pertemuan  kami ke esok hari nya,namun semua itu seolah terpotong oleh waktu yang semakin cepat berputar.
     Dari Pangururan ahir nya kami berpisah,
    “bila aku masih punya waktu lama di kampung halaman,aku pasti datang lagi ke rumah mu,,”ucap ku kepada nya ketika kami menunggu angkutan tiba di pinggiran jalan itu,
    “ya,,datang lah bang sebelum aku pulang ke jakarta,,”
    “kapan pulang ke jakarta,,?tanya seolah ingin tau lebih jauh,
    “aku cuti 3 minggu,dan sekitar tanggal 12-13 aku balik ke jakarta,bang,,”kata nya menjelaskan,tak lama kemudian sebuah angkutan umum yang bernama “Pulosamosir Nauli,berhenti tepat di hadapan kami,
   “aku pulang duluan ya bang,,dan ingat jika masih punya waktu datang lah lah ke Nainggolan,,”ucap nya lagi seolah mengingatkan sambil mengulurkan tangan nya kepadaku,untuk salam perpisahan kami,hingga dia menaiki angkutan itu dan membawa nya kembali ke arah Pangururan,hingga mobil itu menghilang dari pandangan mata di kejauhan,saat sosok boru Simbolon yang anggun dan  itu menghilang dari pandangan ku,segera ku pacu sepeda motor ku sekencang mungkin,karena Trip terahir penyebrangan menuju ke Tigaras tepat pukul lima sore.
      Dengan sisa waktu tinggal 20 menit lagi itu,tak ada pilihan lain selain mengebut sekencang kencang nya sepanjang perjalanan,sesekali ku lirik spedometer mencapai hingga kecepatan 100-110km/jam,kebetulan memang jalan lintasan sepanjang Parbaba hingga Simanindo relatif sepi,jika sampai aku ketinggalan kapal menuju Tigaras maka tak tau lagi memang kuperbuat saat itu,hingga di tengah perjalanan aku masih menyalip sebuah angkutan umum yang menuju Simanindo,rasa kawatir ketinggalan kapal pun ahir nya berkurang seketika,kerena saat itu aku ber asumsi setidak nya kapal itu masih menunggu penumpang yang ada di dalam angkutan ini,baru dia berangkat menuju Tigaras,dan memang seperti itulah pada umum nya,

Saat aku tiba di Dermaga Simanindo ahir nya perasaan ku pun lega seketika saat melihat kapal itu masih bersandar,dan tali pengikat nya pun masih tertambat ke tiang2 dermaga,

     “sudah mau berangkat Tulang,,?tanya ku kepada sang Nahkoda kapal..
     “sebentar lagi,,sekitar 15 menit lagi,jawab nya singkat,
syukur lah,ucapku setengah berbisik,dan sebelum berangkat ku sempatkan singgah sejenak di sebuah warung kopi di dermaga itu,sambil memandang ke arah kapal yang akan menghantarkan ku kembali ke daratan di seberang sana yang terlihat hanya bukit bukit yang diselimuti cahaya mentari senja di Tigaras sana.
     Saat berada di atas kapal aku mencoba membayangkan pertemuan kami itu semua,singkat namun sangat berkesan di hati,”ah,,,andai aku bisa kembali lagi besok menemui nya,,”bisik ku dalam hati,semua tentang dia membayangi pikiran ku sepanjang perjalanan di atas lapal itu,hingga tak sadar kapal sudah mendekati dermaga Tigaras,saat nya aku turun dan melanjutkan kembali perjalanan ku menuju Sidamanik yang masih jauh itu,dengan menyusuri jalan yang terkadang di hisai lobang2 yang menganga ditengah jalan.
      Sepanjang kurang lebih lima kilometer dari dermaga tigaras jalan yang kulalui menanjak dan menikung sangat tajam,sampai ahir nya aku tiba di ujung jalan menanjak itu,serta istrahat sejenak di sebuah Tugu yang menjulang tinggi,sebuah Tugu yang menggambarkan seorang pejuang menunggang kuda kebesaran nya saat melawan penjajahan Belanda.

Dari sini perjlanan ku lanjutkan kembali ke Sidamanik,dengan oleh oleh sejuta kenangan yang tak terlupakan,sampai ahir nya aku sampai di rumah….

                                          *********
    Hari berlalu,sesekali saya menghubungi nya sekedar menanyakan kabar,kabar diri nya,kabar orang Tua nya,demikian juga dengan nya,adakala nya dia menghubunguku,dan bercerita bercanda tawa di ujung telepon,
     “kapan datang ke Nainggolan bang,,,”?begitu selalu ucapan diujung pembicaraan kami,
     “nantilah kalau memang aku punya waktu luang lagi,,aku pasti datang,,jawab ku membalas nya,,
saat itu memang niat untuk kembali bertemu dengan nya sangat kuat,namun berhubung kesibukan lah yang selalu menghalangi nya untuk datang kembali kesana,hingga beberapa hari kemudian,dia mengabari bahwa tanggal 13 januari dia akan kembali ke Jakarta,
      “bang aku berangkat dari Nainggolan tanggal 12,dan nginap semalam  di rumah kaka,karena jadwal keberangkatan ku Pagi tanggal 13,kita ketemu kembali di jakarta kalau abang sudah pulang ke jakarta,dan kabari kalau abang sudah berada di jakarta,”demikian inti dari pembicaraan telepon itu.
sejak dia tiba di jakarta,komunikasi pun semakin intens,seolah ada rasa rindu yang begitu dalam saat dia pergi semakin jauh dari ku,entah kenapa.
     Dua minggu berlalu…..
Di penghujung bulan january ahir nya aku pun kembali lagi ke jakarta,bersama sang Ibu,sehari sebelum aku berangkat pun sudah ku kabari terlebih dahulu pada nya,dan hingga tiba aku di jakarta tetap aku mengabari nya,satu minggu sudah aku berada di jakarta,saat tiba hari sabtu,kami berencana untuk bertemu,di suatu tempat di daerah Jakarta Timur,saat itu rasa rindu ku semakin bertambah kepada nya,dan singkat cerita,pertemuan itu semakin mengokohkan sebuah kata cinta,ridu dan kangen,dan semua itu kusampaikan kepada nya,tanpa rasa canggung,karena aku merasa sudah begitu mengenal nya,demikian juga dengan nya,seolah kita sudah sangat akrab sebelum nya,tanpa ada rasa kaku dan kikuk.
       “Nanti kujawab bang satu minggu lagi beri aku waktu,,,”jawab nya saat ku ungkapkan tentang perasaan ku yang sebenar nya kepada nya,seminggu berlalu,,namun saat itu,,aku berpikir,”ah,,apa pun jawaban mu,ya atau tidak,itu sudah resiko,dan harus ku terima dengan lapang dada,singkat cerita dia menerima segala ucapan ku,dan resmi lah hari itu dia menjadi kekasih ku,
       “Ahir nya sebuah perjalanan panjang dan jauh tak sia sia”,bisik ku dalam hati,hari pertama,kedua,ketiga,,semua nya berjalan seperti apa ada nya,namun dalam hitungan hari ke lima usia kebersamaan yang kami lalui,pada hari yang ke enam dia mulai mengeluhkan penyakit nya,yang mulai kambuh,yang ahir nya dia memutuskan untuk istirahat beberapa hari di rumah untuk pemulihan kesehatan nya,namun tak henti henti nya selalu ku beri dorongan semangat dan spirit agar dia cepat sehat kembali,dan bekerja seperti sedia kala.
       Namun itu semua tak berlangsung lama,saat dia mencoba masuk kerja lagi,dingin nya suhu AC tak mampu menahan nya di ruangan tempat dia bekerja,dan ahir nya kembali lagi istrahat total selama satu minggu,dengan pertimbangan yang matang dan masukan dari Ibu nya selalu meminta nya untuk berobat dulu di kampung halaman nya,ahir nya dia memilih untuk opsi terahir itu,yaitu pulang kembali ke Nainggolan,bahkan kepulangan nya pun sama sekali tak ku duga,
     Saat aku menghubungi nya,ternyata dia sudah berada di bandara Polonia,Medan
   “aku minta maaf bang aku gak sempat pamit kepada mu,ini semua berlangsung sangat singkat,tadi nya aku berniat mengabarimu akan kepulangan ku ini bang,,”jawab nya saat ku minta penjelasan dari nya,
   “aku hanya 2 minggu di kampung bang,paling lama 3 minggu lah,,”dia menimpali ucapan nya lagi,,,
aku hanya bisa tertegun mendapat kenyataan ini,
    “semoga cepat sembuh ya dek,,dan bila sudah pulih kembalilah ke jakarta,,”pesan ku pada nya.
namun hingga waktu yang sebutkan tadi telah berlalu sekian lama nya,setiap kali kutanyakan kepulangan nya,dia selau menjawab “belum tau kapan bang,”semakin lama aku berpikir ini hanya kesia sia an saja,dan ku coba menahan rasa rindu ini kepada nya,dan intens hubungan komunikasi kepada nya pun semakin ku kurangi dengan berjalan nya waktu,aku yakin semua nya akan terjawab di kemudian hari,namun pertanyaan nya,KAPAN,,,,,,????
      Kabar terahir ku dengar dari nya,ia sempat di rawat di salah satu Rumah sakit swasta di Pematang siantar,dengan kondisi yang hampir kritis,beberapa hari yang lalu dia menghubungiku,dan mengatakan kesehatan nya sudah mendingan dan berada di Rumah familiy nya di Pematang siantar,dan ketika ku tanyakan kembali dengan pertanyaan yang sama”kapan rencana kembali ke jakarta,,”?jawaban nya tetap sama,”belum tau bang,,”?ah,,,,pusi,,,,,ng!!!!! namun satu hal, yang selalu ku ucapkan kepada nya,”Semoga cepat sembuh ya dek,,”…..sampai hari ini semua nya menjadi tidak jelas,,,entah kah….!
 Demikian,bila dalam tulisan ini ada kesalahan dalam penyebutanMohon maaf
 Catatan:sengaja foto dari sosok yang kusebutkan dalam cerita ini,tak ku lampirkan dalam catatan ini,demi alasan privasi.

*HORAS*

medellin car rental
 

Bekasi 20/08/2010.                                                  

                                                        

Dipublikasi di pejalanan | Tag , , , | Meninggalkan komentar

Martandang


Nauju i,addorang dihitaan dope iba,addorang so mullop dope hu kota na ribur on,somal do molo di hitaan akka naposo manang doli doli martandang tu luat hobbar huta na asing,di sude luat do ra masa si songon on,sian desa na uwalu sahat rodi tu toba holbung,ai so binoto sipata,ussurung do uli na jala tabona molo manadangi boru ni raja sian hombar huta,ninna dah,,,,
Songon i do nang di masa masa niba na uju i,boi ma dohonon tikki masa heppot heppot na,ganup juppa ma malam minggu,tung hu luat ni huta dia petaho molo idok ma martandang ba pittor hissa ma iba dohot akka dongan sa torbang on,molo mengenai hasil dapotan manang so dapotan,ba i,urusan belakang ma i,na penting rap dohot akka dongan dongan on.
Huhut ma di boan gitar on,somal do rupa ni dihitaan di boan gitar molo laho martandang hu sada hobbar huta,udut ni i,,,ba borhat ma hami tolu halak,molo toppat ni laosan inganan paridian ni borua,na di toru ni dalan i,,ba,,ittor gogo do ni endehon lagu batak on,”,,,,itoooooo,,,,,,,,,,,hasian,,………ito,,,,na lagu,,,,di dia ho,,,,haholongan,,jala huhut ma ni patinggil suara sada dua dohot tolu,,sandok boha ma asa uli di bege akka anak boru na topat maridi di mual i.
Songon ni nang molo pas mangalaosi jabu ni anak boru na ni taksir,sandok binahen ma suara na paling indah,dos pe rupa ni olo batuhon iba manarik referen na,na tung massai timbo not na,dung sahat ma di sada huta na ni tandangan on,ba jumolo do hami tu sada lapo,atik na lapo tuak manang lapo tes manis,asa songon na ni pattandahon diri niba tu akka pangisi ni huta na topat marnonang manag minum di lapo i.
Lapo manang kode on ma semacam basecam,manang sentral laho mangatur strategi,ise do na naeng si juppangon,jala ise ma jumolo,alana sahalak ikkon adong do tetap tinggal di lapo manang kode on,markombur kombur dohot akka par huta na sitandangon i.ba tutu pe,marsitodo na naeng sitandangon na ma.
Dung sidung na manjuppangi akka juppang on na i,marpungu ma muse di lapo/kode si nakkingan i,sian i ma muse rap mulak muse tu huta,di parjalanan ba marsibaen sarita ma dah.
“Hutiop nakkin tangan ni si Taruli,,songon i ma ngali na puang,,,”ninna dongan na doppak siamun on,huhut na sahalak nai di pukka pukka ende na mardongan gitar on,
“boa i ah,,,atik na na baru manucci piring do nakkin,,itoan i,,?ninna dongan na sai marende ende sian nakkin huhut dipaso gitar na on,di uduti ma rap mekkel hami,,,
“Molo au asing muse do puang ninna dongan si parende ende on,
“Boha muse i,,?nikku mangalus attar songon na penasaran,
“Di terras do hami padua dua ma sarita dohot si Tiur alai sai maos di serbeng Tulang i sian rung tengah sabbil manotton tipi,sipata ma di dok sian bagasan,”ai naso ngali dope kopi partandang mi Tiur,,?ninna puang,,,dagah,,,hape nanggo air putih pe so dilean inumon,,alai nga dapot rohakku nian i,molo naung ngali do kopi nai asa pittor tibu suru mulak,,ninna dongan parende on mangalusi hata na saddiri,,,toppu ma ma hami patolu margahargak di tonga dalan di borngin nasai tung mansai golap i.
“Tep ma i,,sahat ma sukkun sukkun ni dongan on tu au,
“Molo ceritam attar boha do nakking dohot itoan i,,,,”?
“Ba songon i ma,,,mantap dan terkendali,,,,topat muse marsogot arisan di jabu ni si Tarida,ba gabe dohot nama au mangurupi manduda boras nanaeng mambaen lappet,”bah,,ai tuani ma ma ro ho silalahi,nga tung maniak tangan si Tarida sian hannakkin na manduda boras i,,”ninna nattulang i,topat ro au
“Bah,,ai ikkon ido sipata lae,,ikkon adong do pengorbanan jala huhut ni buat rohani natua tua na,asa di dok iba doli doli na burju,ninna dongan paredde on manolopi,,huhut margahargak…..
dagah,,,sai na adong do partadangan ta on ateh hamuna,,,nikku tu dongan na dua halak on.
“Sae ma i,,,di tonga dalan on,,dipardalan nami natolu na laho mulak on,,ba ni pangolu do rupa ni sigaret niba,songon i nang dongan na dua halak nai.asa lam tamba las ni daging di borngin na tung massai ngali i,mardomu sore nai,baru udan di huta i,di dalan on sai sipata ma losot pat tu gabbo na tonga dalan i,saddok ba porsuk ma…..
“Asa songon na rame,,sai di pukka hami na tolu ma marende di dalan di golap ni ari i,sada lagu,dua lagu,tolu lagu,rodi sobinoto nga piga lagu di endehon hami,molo pas do not ni lagu ba,,masuk ma parsuara dua dohot tolu,
“Tep ma i,,sahat ma pardalanan nami na laho ma molus sada binanga,,agak turunan,,molo di bagas rohakku nungga sai mulai biar,,,bah,,mandapothon binanga parbeguan i nama,,”inna roha ku nenget di bagasan,alai sai tong do ni ihutton logu ni ende lagu batak na diendehon hami on,hubereng dongan na dua halakon,songon na serius do di endena i,,tuani ma,na lole/lupa do ra halaki inna rohakku muse,
“Nungga lam jonok,,tarbege ma suara ni jongguran ni aek na di bongbongan i,
“ah,,anggo on pe annon,,ise ma nuaeng na pittor marlojong jumolo,,ninna rohakku ma manginongi,,jala logu na ni ihutton on pe nga mulai marabbalangan,dia ma naso marabbalangan,pikkiran pe nungga dang konsentrasi holan mambege suara ni jongguran aek na di binanga parbeguan i,dohot imbulu pe na mardisir,tutu pe nungga mulai hu bukka solop hu on,atik beha pittor toppu marlojong dongan on,inna roha ku.
“Topat ma di ginjang ni bongbongan i,,,mardosong ma tutu gogo suara ni aek jongguran i,jala muse haroa dang sadar dongan si parende nakking i,di ganti ma logu na muse,,di endehon ibana gogo,,ai somal ni si tiop gitar do rupa ni mamukka ende,
“Sittakkon au,,,,,da begu,,,,,ullusson au da alogo,,,,,,ninna logu ni bayon ma toppu…
“dang parsidohot au disi opuuuuu,,,,,,ng,,,”ninna dongan na sahalak nai gogo,
Bah,,,,matte ma,,,toppu sip hami patolu sekitar 30 detik,huhut marsiberengan,,,
“ai naung sahat do hape hita di binanga i,,,?ninna dongan on muse huhut longan jala bolak bolak bohi na,,bah,,,,dukkon ni i,,dang be attong marsibukka slop na be ma halaki na dua,huhut ma malojong hami patolu,dohot gabbo nang begu aha dang di pardulihon be,,saddok marlojong sa hojot ni hojot na,,huhut marlojong,huhut muse ma di dok dongan parende on,,
“Dang tahe oppuuuuuuuuu,,,,,,,ng,,gait gait hu do si nakkinan i,,ai holan ende do i,,,,,,,,sala ma au disi opuuuuu,,,,,ng,alai dung agak dao hami sian binanga jongguran i,,maradian ma hami di dalan i,,huhut margahargak,,,,,,,,jala bohi nami na tolu nungga dohot bolak bolak.ue,,tahe,,alani ende i ma i,nainna dongan parende on,,huhut di pangolu muse sigaret na……..
Dung di torus son hami natolu muse pardalan on,”Dagah,,,sebenar na ai ise do pengarang ni lagu si nakkinan i tahe,,”?ninna dongan si parendde on muse sukkun sukkun,”lagu pandelean do i lae,,nikku ma mangalusi,jadi marsogot tibu pittor peakkon ma debban mu di binanga jongguran i lae,,,asa unang jadi lae di sittak nikku muse ma tu ibana huhut margait,,
“Ah,,,,husada an ma ho,,,,,ho ma di sittak begu i,,”.ninna muse tu au pabalikkon,,huhut rap margahargak hami natolu di golap ni ari i,hira hira sa pengkolan nai,,sahat ma mandopot hon huta nami,tutu pe,nungga songon na pos pakkilalaan,mardomu mangolu dope lappu terras jabu ni Tulang si Padot,ima jabu haroroan ni huta nami i….Mauliate.
*HORAS*
Bekasi 04.08.2010 Bresman Silalahi
Dipublikasi di cerpen | Tag , , | Meninggalkan komentar

Filosofi Gondang dan Tortor


PADA mulanya, gondang sabangunan hanya digelar pada acara yang bersifat sakral. Ia bukan sekadar seperangkat taganing, gordang, ogung, dan sarune yang melahirkan bunyi berupa nada-nada yang menciptakan harmoni serta estetika. Bukan pula instrumen musik untuk menghibur jiwa-jiwa yang memainkannya (pargonsi) dan yang mendengar serta menarikan. Gerakan tubuh yang dibangkitkan nada dan melodi gondang sabangunan yang disebut tortor pun punya arti tersendiri, dan kelirulah bila dianggap jenis tari belaka milik satu etnis yang bermukim di jantung Sumatera Utara.
Tak ada yang tahu kapan persisnya instrumen musik yang unik itu diciptakan leluhur orang Batak. Ada pula yang bilang bahwa sebelum gondang sabangunan dikenal, orang Batak telah memiliki gondang hasapi. Tak ada bukti atau semacam manuskrip yang bisa menguatkan pendapat tersebut. Yang pasti, derajat gondang hasapi dianggap di bawah gondang sabangunan, dan karenanya pada zaman dahulu tak dipakai dalam acara yang bersifat pemujaan, syukuran, atau untuk mengiringi ritus adat saurmatua-maulibulung.
Gondang sabangunan lazim diperdengarkan saat pembukaan huta, menyambut musim tanam, merayakan panen (pesta gotilon), pertemuan para raja marga dan pemimpin huta dalam upacara keagamaan dan adat horja-bius. Gondang jenis ini bersifat masif, menyertakan banyak pihak. Suhut (pengada hajatan) mengundang berbagai lapisan. Gondang saurmatua-maulibulung sendiri, yang juga menyertakan berbagai unsur dalam masayarakat adat, tak memerlukan undangan—melainkan cukup pemberitahuan atau informasi dari mulut ke mulut bahwa Ompu Dangsina, misalnya, telah tiba di akhir perjalanan saurmatua-maulibulung, dan akan dibuat upacara adat kematian dengan mamalu gondang sabangunan.
Sanak-saudara, kerabat, dan tetangga pun akan mafhum. Mereka kemudian datang untuk mananti, memberi penghormatan dengan cara manortor pada hari puncak upacara. Para pananti terdiri dari berbagai lapisan, selain lingkungan Dalihan Natolu. Pihak suhut akan menerima rombongan pananti dan terjadi pertukaran hak serta kewajiban adat yang disampaikan sambil manortor. Dalam lingkup yang lebih kecil, gondang pun acap dipakai untuk acara yang bersifat penyucian, pengobatan, atau pencegahan bala. Gondang jenis ini disebut mandudu, namun biasanya pihak suhut tak mengundang pihak lain selain keluarga inti dan medium untuk memimpin upacara, dan tak menyertakan tetabuhan (taganing).
Gondang sabangunan terikat dengan ritus dan tata aturan yang harus dipenuhi. Intinya ialah penghormatan. Kata-kata pembuka dari pemimpin pananti: “Ale amang pardoal pargonsi, alu-aluhon damang ma jolo tu…” harus dimaknai sebagai sikap menghargai. Dengan kata lain, sebelum merayakan sesuatu dengan membuat keramaian, ada yang tak boleh dilupakan dan terlebih dahulu minta izin, permisi, permakluman, yakni Sang Pencipta yang menguasai jagad raya, juga pada penguasa huta/raja, dan hadirin.
Pargonsi menjadi sentrum upacara yang menyertakan gondang sabangunan. Karenanya, mereka tak boleh ditempatkan sekadar pemain musik. Polah tingkah dan ucapan mereka tak boleh sembarangan. Mereka adalah orang-orang pilihan yang disebut pande, dan perlakuan pada mereka pun tak boleh serampangan, supaya tak kesal hati. Bila pargonsi kesal karena perlakuan suhut atau pananti yang dinilai tak patut, maka bunyi taganing, ogung, sarune bisa tak nyaring—dan itu dianggap kegagalan perhelatan sebab pananti telah manortor disertai keluh atau sungut-sungut.
Gondang sabangunan adalah alunan musik untuk memuja Yang Maha Kuasa sekaligus pengiring rasa hormat pada orang-orang yang disayangi. Tortor yang diiringinya merupakan ekspresi jiwa yang diwujudkan lewat gerakan tubuh, terutama kepala, bahu, tangan, jemari, dan hentakan kaki. Tortor tak terlalu memerlukan banyak gerak—kecuali saat mangembas. Karena tekanannya adalah puja, hormat, kasih-sayang, gerakan tortor harus santun, berwibawa (bagi laki-laki) dan anggun (bagi perempuan). Pandangan mata tak sepatutnya ke mana-mana, idealnya menatap ke bawah. Gerakan tangan dan jemari itu bermakna simbolik, menandakan posisi dan peran yang dibawa, sebagai hula-hula, dongan tubu, boru-bere, tulang, bona tulang, bonani ari, ale-ale atau dongan sahuta.
Gerak tubuh, tangan, jemari, dan pandangan saat manortor, diyakini pula menjadi cerminan kepribadian seseorang selain untuk mengetahui hal yang hendak disampaikan. Tortor yang santun menabukan gerakan pinggul ke kiri dan kanan (terutama wanita), apalagi dibarengi pandangan ke mana-mana. Itu dianggap murahan, kurang sopan; bukan tortor boruni raja. Lelaki yang manortor dengan gerakan semau-maunya dan pandangan jelajatan pun bukan tortor anakni raja, yang tak layak diberi penghargaan.
Pakem-pakem tortor dan gondang sabangunan sudah semakin memudar belakangan ini. Perobahan zaman dan masuknya pandangan-pandangan baru (terutama agama samawi) disinyalir sebagai penyebab. Untuk upacara saurmatua-maulibulung, misalnya, selain sempat digusur musik tiup karena dianggap tak ada roh gelap di dalamnya, kini dibuat campursari: taganing, hasapi, sulim, keyboard, kadang ditambah saksofon.
Repertoar yang dimainkan pun demikian, mulai dari lagu Batak, lagu rohani, hingga lagu Latin. Tak ada lagi prosesi mangalap tuani gondang, sudah langka tortor yang berwibawa dan anggun. Yang kini jamak tersaksikan adalah gerakan yang mengadopsi tortor, ronggeng, serampang, disko, cha-cha, hingga jadi terlihat ecek-ecek dan seolah meledek yang diupacarai. Tortor, gondang, memang kian mengalami distorsi dan manipulasi karena ditindas zaman serta ajaran-ajaran yang menghakimi tanpa mampu memahami filosofi yang terkandung di dalamnya—apalagi mengharap argumentasi yang memadai.
Kenapa bisa begitu mudah budaya adiluhung peninggalan leluhur yang penuh arti itu menyisih dari diri dan wilayah asal orang Batak? Kenapa hal semacam tak terjadi pada masyarakat Bali (setidaknya sampai saat ini), toh sama-sama menghadapi zaman yang sama dan bahkan lebih sering berinteraksi dengan orang asing? Coba sama-sama kita pikirkan.***
Oleh Suhunan Situmorang
Dimuat di koran Batakpos, Sabtu, 16 Juli 2011
Sumber Artikel bisa dilihat disini
Dipublikasi di adat dan budaya | Tag , , , , , | Meninggalkan komentar

Glory of Love [David Foster]


Glory of love[David foster].mp3

Dipublikasi di Music | Tag , , , | Meninggalkan komentar

Baddit Parluasan dan si Padot


 

 Pajak Horas,P.Siantar

Pajak Horas,P.Siantar

Hundul ma si Padot di jonok ni wc umum na diterminal Parluasan i,huhut karingatan jala dipangolu ma sigaret na,andorang dang ro dope motor sewa nalaho tu Huta na,dang sadia leleng,ro ma banddit 2 halak”laho tudia do hamu lae”? “bah laho tu Parbalogan do lae,na paima Sinar Tani do,”ninna si Padot mangalusi didok goar ni motor sewa na laho tu Huta nai burju.”dang mangan dope au dohot kedan hon lae,boha hira hira”?ninna bandit i ma muse tu si Padot huhut diparapat par hundul na disamping ni si Padot on,”attong sarupa hita lae,kebetulan au pe dang mangan dope sian nasogot,jadi rencana na naeng manogihon au do hamu mangan tu lapo lae?tuani ma,mauliate ma TUHAN,sai disarihon ho do hape au na dangol jala asi do ROHAM marnida au na male malean on,jala huetong ma suru suruan mu(malaikat)nungaeng na dua halak on,”ninna si Padot ma toppu,huhut dibereng doppak ginjjang,gabe maoto ma dihilala bandit na dua halak i,huhut mar siberengan,ala dung dibege hatani si Padot songon i,”ah,,sala sasaran ninna banddit na sahalak on tu dongan na sahalak nai,alai dang didok be manang aha,tor hiccat ma halaki nadua sian lambung ni si Padot.”matte ho,,”ninna si Padot dibagas rohana huhut mekkel.dang sadia leleng nai ro ma motor sewa na dipaima ima nai,dung hundul dibagasan,sai marpikkiri ma rohana huhut geok,jala sipata mekkel suping sahalak na”banddit naloakon an” ninna..!!
Boti ma jolo saotik cerita awal ni si Padot.
Horas…!!
*Bresman Silalahi/Bksi 15/06/2011*
Dipublikasi di Kisah | Tag , , , , | Meninggalkan komentar

Invasi Tuanku Rao,(Pongkinangolngolan Sinambela) di Tano Batak 1816-1820


Perang Paderi (Ada yang berpendapat kata ini berasal dari Pidari di Sumatera Barat, dan ada yang berpendapat kata Paderi berasal dari kata Padre, bahasa Portugis, yang artinya pendeta, dalam hal ini adalah ulama) di Sumatera Barat berawal dari pertentangan antara kaum adat dengan kaum ulama.
Sebagaimana seluruh wilayah di Asia Tenggara lainnya, sebelum masuknya agama Islam, agama yang dianut masyarakat di Sumatera Barat juga agama Buddha dan Hindu. Sisa-sisa budaya Hindu yang masih ada misalnya sistem matrilineal (garis ibu), yang mirip dengan yang terdapat di India hingga sekarang. Masuknya agama Islam ke Sumatera Utara dan Timur, juga awalnya dibawa oleh pedagang-pedagang dari Gujarat dan Tiongkok.
Setelah kembalinya beberapa tokoh Islam dari Mazhab Hambali yang ingin menerapkan alirannya di Sumatera Barat, timbul pertentangan antara kaum adat dan kaum ulama, yang bereskalasi kepada konflik bersenjata. Karena tidak kuat melawan kaum ulama (Paderi), kaum adat meminta bantuan Belanda, yang tentu disambut dengan gembira. Maka pecahlah Perang Paderi yang berlangsung dari tahun 1816 sampai 1833.
Selama berlangsungnya Perang Paderi, pasukan kaum Paderi bukan hanya berperang melawan kaum adat dan Belanda, melainkan juga menyerang Tanah Batak Selatan, Mandailing, tahun 1816 – 1820 dan kemudian meng-Islamkan Tanah Batak selatan dengan kekerasan senjata, bahkan di beberapa tempat dengan tindakan yang sangat kejam.
Sebelum masuknya agama Islam dan Kristen ke Tanah Batak, selain agama asli Batak yaitu Parmalim, seperti di hampir di seluruh Nusantara, agama yang berkembang di Sumatera Utara adalah agama Hindu dan Buddha. Sedangkan di Sumatera Barat pada abad 14 berkembang aliran Tantra Çaivite (Shaivite) Mahayana dari agama Buddha, dan hingga tahun 1581 Kerajaan Pagarruyung di Minangkabau masih beragama Hindu.
Agama Islam yang masuk ke Mandailing dinamakan oleh penduduk setempat sebagai Silom Bonjol (Islam Bonjol) karena para penyerbunya datang dari Bonjol. Seperti juga di Jawa Timur dan Banten rakyat setempat yang tidak mau masuk Islam, menyingkir ke utara dan bahkan akibat agresi kaum Paderi dari Bonjol, tak sedikit yang melarikan diri sampai Malaya.
Penyerbuan Islam ke Mandailing berawal dari dendam keturunan marga Siregar terhadap dinasti Singamangaraja dan seorang anak hasil incest (hubungan seksual dalam satu keluarga) dari keluarga Singamangaraja X.
Ketika bermukim di daerah Muara, di Danau Toba, Marga Siregar sering melakukan tindakan yang tidak disenangi oleh marga-marga lain, sehingga konflik bersenjatapun tidak dapat dihindari. Raja Oloan Sorba Dibanua, kakek moyang dari Dinasti Singamangaraja, memimpin penyerbuan terhadap pemukiman Marga Siregar di Muara. Setelah melihat kekuatan penyerbu yang jauh lebih besar, untuk menyelamatkan anak buah dan keluarganya, peminpin marga Siregar, Raja Porhas Siregar meminta Raja Oloan Sorba Dibanua untuk melakukan perang tanding -satu lawan satu- sesuai tradisi Batak. Menurut tradisi perang tanding Batak, rakyat yang pemimpinnya mati dalam pertarungan satu lawan satu tersebut, harus diperlakukan dengan hormat dan tidak dirampas harta bendanya serta dikawal menuju tempat yang mereka inginkan.
Dalam perang tanding itu, Raja Porhas Siregar kalah dan tewas di tangan Raja Oloan Sorba Dibanua. Anak buah Raja Porhas ternyata tidak diperlakukan seperti tradisi perang tanding, melainkan diburu oleh anak buah Raja Oloan sehingga mereka terpaksa melarikan diri ke tebing-tebing yang tinggi di belakang Muara, meningggalkan keluarga dan harta benda. Mereka kemudian bermukim di dataran tinggi Humbang. Pemimpin Marga Siregar yang baru, Togar Natigor Siregar mengucapkan sumpah, yang diikuti oleh seluruh Marga Siregar yang mengikat untuk semua keturunan mereka, yaitu: Kembali ke Muara untuk membunuh Raja Oloan Sorba Dibanua dan seluruh keturunannya.
(Yang berikutnya dimasukan ke Bagian ke-2):
Dendam ini baru terbalas setelah 26 generasi, tepatnya tahun 1819, ketika Jatengger Siregar –yang datang bersama pasukan Paderi, di bawah pimpinan Pongkinangolngolan (Tuanku Rao)- memenggal kepala Singamangaraja X, keturunan Raja Oloan Sorba Dibanua, dalam penyerbuan ke Bakkara, ibu kota Dinasti Singamangaraja.
Ibu dari Pongkinangolngolan adalah Gana Sinambela, putri dari Singamangaraja IX sedangkan ayahnya adalah Pangeran Gindoporang Sinambela adik dari Singamangaraja IX. Gindoporang dan Singamangaraja IX adalah putra-putra Singamangaraja VIII. Dengan demikian, Pongkinangolngolan adalah anak hasil hubungan gelap antara Putri Gana Sinambela dengan Pamannya, Pangeran Gindoporang Sinambela.
Gana Sinambela sendiri adalah kakak dari Singamangaraja X. Walaupun terlahir sebagai anak di luar nikah, Singamangaraja X sangat mengasihi dan memanjakan keponakannya. Untuk memberikan nama marga, tidak mungkin diberikan marga Sinambela, karena ibunya bermarga Sinambela. Namun nama marga sangat penting bagi orang Batak, sehingga Singamangaraja X mencari jalan keluar untuk masalah ini. Singamangaraja X mempunyai adik perempuan lain, Putri Sere Sinambela, yang menikah dengan Jongga Simorangkir, seorang hulubalang. Dalam suatu upacara adat, secara pro forma Pongkinangolngolan “dijual” kepada Jongga Simorangkir, dan Pongkinangolngolan kini bermarga Simorangkir. Namun kelahiran di luar nikah ini diketahui oleh 3 orang Datu (tokoh spiritual) yang dipimpin oleh Datu Amantagor Manurung. Mereka meramalkan, bahwa Pongkinangolngolan suatu hari akan membunuh pamannya, Singamangaraja X. Oleh karena itu, Pongkinangolngolan harus dibunuh.
Sesuai hukum adat, Singamangaraja X terpaksa menjatuhkan hukuman mati atas keponakan yang disayanginya. Namun dia memutuskan, bahwa Pongkinangolngolan tidak dipancung kepalanya, melainkan akan ditenggelamkan di Danau Toba. Dia diikat pada sebatang kayu dan badannya dibebani dengan batu-batu supaya tenggelam. Di tepi Danau Toba, Singamangaraja X pura-pura melakukan pemeriksaan terakhir, namun dengan menggunakan keris pusaka Gajah Dompak ia melonggarkan tali yang mengikat Pongkinangolngolan, sambil menyelipkan satu kantong kulit berisi mata uang perak ke balik pakaian Pongkinangolngola. Perbuatan ini tidak diketahui oleh para Datu, karena selain tertutup tubuhnya, juga tertutup tubuh Putri Gana Sinambela yang memeluk dan menangisi putra kesayangannya.
Tubuh Pongkonangolngolan yang terikat kayu dibawa dengan rakit ke tengah Danau dan kemudian di buang ke air. Setelah berhasil melepaskan batu-batu dari tubuhnya, dengan berpegangan pada kayu Pongkinangolngolan berhasil mencapai sungai Asahan, di mana kemudian di dekat Narumonda, ia ditolong oleh seorang nelayan, Lintong Marpaung. Setelah bertahun-tahun berada di daerah Angkola dan Sipirok, Pongkinangolngolan memutuskan untuk pergi ke Minangkabau, karena selalu kuatir suatu hari akan dikenali sebagai orang yang telah dijatuhi hukuman mati oleh Raja Batak.
Di Minangkabau ia mula-mula bekerja pada Datuk Bandaharo Ganggo sebagai perawat kuda. Pada waktu itu, tiga orang tokoh Islam Mazhab Hambali, yaitu Haji Miskin, Haji Piobang dan Haji Sumanik baru kembali dari Mekkah dan sedang melakukan penyebaran Mazhab Hambali di Minangkabau, yang menganut aliran Syi’ah. Haji Piobang dan Haji Sumanik pernah menjadi pewira di pasukan kavaleri Janitsar Turki. Gerakan mereka mendapat dukungan dari Tuanku Nan Renceh, yang mempersiapkan tentara untuk melaksanakan gerakan Mazhab Hambali, termasuk rencana untuk mengislamkan Mandailing.
Tuanku Nan Renceh yang adalah seorang teman Datuk Bandaharo Ganggo, mendengar mengenai nasib dan silsilah dari Pongkinangolngolan. Ia memperhitungkan, bahwa Pongkinangolngolan yang adalah keponakan Singamangaraja X dan sebagai cucu di dalam garis laki-laki dari Singamangaraja VIII, tentu sangat baik untuk digunakan dalam rencana merebut dan mengIslamkan Tanah Batak. Oleh karena itu, ia meminta kawannya, Datuk Bandaharo agar menyerahkan Pongkinangolngolan kepadanya untuk dididik olehnya.
(Yang berikut dimasukan ke Bagian ke-3)
Pada 9 Rabiu’ulawal 1219 H (tahun 1804 M), dengan syarat-syarat Khitanan dan Syahadat, Pongkinangolngolan diislamkan dan diberi nama Umar Katab oleh Tuanku Nan Renceh. Nama tersebut diambil dari nama seorang Panglima Tentara Islam, Umar Chattab. Namun terselip juga asal usul Umar Katab, karena bila dibaca dari belakang, maka akan terbaca: Batak!
Penyebaran Mazhab Hambali dimulai tahun 1804 dengan pemusnahan keluarga Kerajaan Pagarruyung di Suroaso, yang menolak aliran baru tersebut. Hampir seluruh keluarga Raja Pagarruyung dipenggal kepalanya oleh pasukan yang dipimpin oleh Tuanku Lelo, yang nama asalnya adalah Idris Nasution. Hanya beberapa orang saja yang dapat menyelamatkan diri, di antaranya adalah Yang Dipertuan Arifin Muning Alamsyah yang melarikan diri ke Kuantan dan kemudian meminta bantuan Belanda. Juga putrinya, Puan Gadis dapat menyelamatkan diri, dan pada tahun 1871 menceriterakan kisahnya kepada Willem Iskandar.
Umar Katab alias Pongkinangolngolan Sinambela kembali dari Mekkah dan Syria tahun 1815, di mana ia sempat mengikuti pendidikan kemiliteran pada pasukan kavaleri janitsar Turki. Oleh Tuanku Nan Renceh ia diangkat menjadi perwira tentara Paderi dan diberi gelar Tuanku Rao. Ternyata Tuanku Nan Renceh menjalankan politik divide et impera seperti Belanda, yaitu menggunakan orang Batak untuk menyerang Tanah Batak. Penyerbuan ke Tanah Batak dimulai pada 1 Ramadhan 1231 H (tahun 1816 M), dengan penyerbuan terhadap benteng Muarasipongi yang dipertahankan oleh Marga Lubis. 5.000 orang dari pasukan berkuda ditambah 6.000 infanteri meluluhlantakkan benteng Muarasipongi, dan seluruh penduduknya dibantai tanpa menyisakan seorangpun. Kekejaman ini sengaja dilakukan dan disebarluaskan untuk menebarkan teror dan rasa takut agar memudahkan penaklukkan. Setelah itu, satu persatu wilayah Mandailing ditaklukkan oleh pasukan Paderi, yang dipimpin oleh Tuanku Rao dan Tuanku Lelo, yang adalah putra-putra Batak sendiri. Selain kedua nama ini, ada sejumlah orang Batak yang telah masuk Islam, ikut pasukan Paderi menyerang Tanak Batak, yaitu Tuanku Tambusai (Harahap), Tuanku Sorik Marapin (Nasution), Tuanku Mandailing (Lubis), Tuanku Asahan (Mansur Marpaung), Tuanku Kotapinang (Alamsyah Dasopang), Tuanku Daulat (Harahap), Tuanku Patuan Soripada (Siregar), Tuanku Saman (Hutagalung), Tuanku Ali Sakti (Jatengger Siregar), Tuanku Junjungan (Tahir Daulay) dan Tuanku Marajo (Harahap).
Penyerbuan terhadap Singamangaraja X di Benteng Bakkara, dilaksanakan tahun 1819. Orang-orang Siregar Salak dari Sipirok dipimpin oleh Jatengger Siregar ikut dalam pasukan penyerang, guna memenuhi sumpah Togar Natigor Siregar dan membalas dendam kepada keturunan Raja Oloan Sorba Dibanua, yaitu Singamangaraja X. Jatengger Siregar menantang Singamangaraja untuk melakukan perang tanding. Walaupun sudah berusia lanjut, namun Singamangaraja tak gentar dan menerima tantangan Jatengger Siregar yang masih muda. Duel dilakukan dengan menggunakan pedang di atas kuda.
Duel yang tak seimbang berlangsung tak lama. Singamangaraja kalah dan kepalanya dipenggal oleh pedang Jatengger Siregar. Terpenuhi sudah dendam yang tersimpan selama 26 generasi. Kepala Singamangaraja X ditusukkan ke ujung satu tombak dan ditancapkan ke tanah. Orang-orang marga Siregar masih belum puas dan menantang putra-putra Singamangaraja X untuk perang tanding. Sebelas putra-putra Singamangaraja memenuhi tantangan ini, dan hasilnya adalah 7 – 4 untuk kemenangan putra-putra Singamangaraja. Namun setelah itu, penyerbuan terhadap Benteng Bakkara terus dilanjutkan, dan sebagaimana di tempat-tempat lain, tak tersisa seorangpun dari penduduk Bakkara, termasuk semua perempuan yang juga tewas dalam pertempuran.
Penyerbuan pasukan Paderi terhenti tahun 1820, karena berjangkitnya penyakit kolera dan epidemi penyakit pes. Dari 150.000 orang tentara Paderi yang memasuki Tanah Batak tahun 1818, hanya tersisa sekitar 30.000 orang dua tahun kemudian. Sebagian terbesar bukan tewas di medan petempuran, melainkan mati karena berbagai penyakit.
Untuk menyelamatkan sisa pasukannya, tahun 1820 Tuanku Rao bermaksud menarik mundur seluruh pasukannya dari Tanah Batak Utara, sehingga rencana pengIslaman seluruh Tanah Batak tak dapat diteruskan. Namun Tuanku Imam Bonjol memerintahkan agar Tuanku Rao bersama pasukannya tetap di Tanah Batak, untuk menghadang masuknya tentara Belanda. Ketika keadaan bertambah parah, akhirnya Tuanku Rao melakukan pembangkangan terhadap perintah Tuanku Imam Bonjol, dan memerintahkan sisa pasukannya keluar dari Tanah Batak Utara dan kembali ke Selatan.
Enam dari panglima pasukan Paderi asal Batak, yaitu Tuanku Mandailing, Tuanku Asahan, Tuanku Kotapinang, Tuanku Daulat, Tuanku Ali Sakti dan Tuanku Junjungan, tahun 1820 memberontak terhadap penindasan asing dari Bonjol/Minangkabau dan menanggalkan gelar Tuanku yang dipandang sebagai gelar Minangkabau. Bahkan Jatengger Siregar hanya menyandang gelar tersebut selama tiga hari. Mereka sangat marah atas perilaku pasukan Paderi yang merampok dan menguras Tanah Batak yang telah ditaklukkan. Namun hanya karena ingin balas dendam kepada Singamangaraja, Jatengger Siregar menahan diri sampai terlaksananya sumpah Togar Natigor Siregar dan ia behasil membunuh Singamangaraja X.
Mansur Marpaung (Tuanku Asahan) dan Alamsyah Dasopang (Tuanku Kotapinang) dengan tegas menyatakan tidak mau tunduk lagi kepada Tuanku Imam Bonjol dan Tuanku Nan Renceh, dan kemudian mendirikan kesultanan/kerajaan sendiri. Marpaung mendirikan Kesultanan Asahan dan mengangkat dirinya menjadi sultan, sedangkan Dasopang mendirikan Kerajaan Kotapinang, dan ia menjadi raja.
Tuanku Rao tewas dalam pertempuran di Air bangis pada 5 September 1821, sedangkan Tuanku Lelo (Idris Nasution) tewas dipenggal kepalanya dan kemudian tubuhnya dicincang oleh Halimah Rangkuti, salah satu tawanan yang dijadikan selirnya.
Catatan:
Tulisan ini merupakan cuplikan dari buku yang ditulis oleh Mangaradja Onggang Parlindungan Siregar, “Pongkinangolngolan Sinambela gelar Tuanku Rao, Terror Agama Islam Mazhab Hambali di Tanah Batak”, Penerbit Tanjung Pengharapan, Jakarta, 1964.
Tuanku Lelo/Idris Nasution adalah kakek buyut dari Mangaraja Onggang Parlindungan ( hlm. 358). Dari ayahnya, Sutan Martua Raja Siregar, seorang guru sejarah, M.O. Parlindungan memperoleh warisan sejumlah catatan tangan yang merupakan hasil penelitian dari Willem Iskandar, Guru Batak, Sutan Martua Raja dan Residen Poortman. Sebenarnya ia hanya bermaksud menulis buku untuk putra-putranya. Buku tersebut memuat banyak rahasia keluarga, termasuk kebiadaban yang dilakukan oleh Tuanku Lelo tersebut. Mayjen TNI (purn.) T.Bonar Simatupang menilai, bahwa tulisan tersebut banyak mengandung sejarah Batak, yang perlu diketahui oleh generasi muda Batak. Parlindungan Siregar setuju untuk menerbitkan karyanya untuk publik. Parlindungan Siregar meminta T.B. Simatupang, Ali Budiarjo, SH dan dr. Wiliater Hutagalung memberi masukan-masukan dan koreksi terhadap naskah buku tersebut.
Dipublikasi di Sejarah Batak | Tag , , , , , , , , | Meninggalkan komentar

Beda prinsip di forum diskusi,Hacker Kelas teri(Script Kiddies/Lamer)pun merusak akun


foto by Goole image

foto by Goole image

Sebelumnya tak dapat kubayangkan,seorang yang mengaku sebagai sahabat di Dunia maya ini dapat merusak akun Facebook saya berikut Email cadangan yang tercantum sebagai email pemulihan di akun tersebut,miris saya melihatnya,seorang yang menyatakan diri sebagai”appara/dongan tubu”(saudara semarga)tega merusak akun fb saudaranya sendiri oleh karena Pemahaman yang berbeda mengenai silsilah(Tarombo),bahkan saya baru menyadari sekitar empat hari yang lalu blog saya yang terdaftar di blogspot juga tak luput dari serangan si hacker kacangan tersebut,maklum,kedua akun saya,facebook dan blog di blogspot menggunakan email yang satu,yaitu di gmail,jadi praktis segala tautan dan link link resmi dari kedua akun tersebut tersimpan di email tersebut,baik itu email pemberitahuan,email konfirmasi dan email verifikasi,bahkan surat menyurat dan kiriman beberapa foto saya gunakan melalui email yang sudah dikuasai oleh si Lamer kacangan ini.
Untuk kasus facebook,saya menganggap tindakan Lamer pengecut ini tidak begitu berpengaruh kepada saya,toh saya masih punya banyak salinan mengenai foto foto,catatan dan koleksi vidieo yang pernah saya upload kedalam akun tersebut dan tersimpan di dalam komputer pribadi saya,jika masalah mengenai pertemanan itu bisa saja saya tambahkan ulang teman teman lama yang sudah ada sebelumnya pada akun lama,dan simpel nya,saya bisa membuat akun facebook yang baru tanpa ada kendala sama sekali.
Sebenarnya ketika akun fb saya diambil alih oleh si (Script Kiddies),tindakan antisipasi dini sudah saya lakukan dengan cara meriset pasword yang telah diganti oleh sang hacer kacangan tersebut,saya berasumsi jika pasword yang telah dirobah oleh si hacker tersebut akan segera terkunci kembali,dengan demikian secara otomatis si Lamer tidak dapat masuk (log in)ke dalam akun saya,namun hal ini sepertinya sudah dia antisipasi seblumnya dengan cepat,dengan cara menon aktifkan email akun saya,alhasil tindakan ini samasekali tidak berguna,satu satunya jalan terahir adalah dengan cara me locked (mengunci akun tersebut) hal ini untuk mengantisipasi tindakan si hacker untuk mengirimkan postingan postingan yang negatif atau meng upload gambar gambar yang tak senonoh dengan mengatas namakan saya selaku pengguna akun,seperti yang sering kita ketahui dalam beberapa kasus pengambil alihan akun fb oleh hacker.
Sebelum permintaan untuk mengunci akun tersebut di konfirmasi oleh pihak Facebook,ternyata sang Lamer kacangan ini berhasil mengirimkan beberapa postingan yang menyerang yang di alamat kan ke dalam satu Group,dimana saya salah seorang member di dalamnya,dan selalu aktif mengikuti topik diskusi setiap harinya,alahasil beberapa teman baik saya di group ini sontak kaget saat membaca posingan postingan yang dikirimkan dan dikendalikan oleh hacker kacangan tersebut,dan beberapa orang diantaranya mencoba menghubungi saya melalui ponsel untuk menanyakan keadaan akun saya,dan mengatakan bahwa saya mengirimkan beberapa postingan yang menyerang dan kata kata yang  tidak pantas ke wall salah satu Group.
Dengan demikian saya harus menegaskan kepada beberapa teman baik saya,bahwa itu bukan atas nama saya,dan akun itu sudah diambil alih oleh Lamer sejak kemarin kemarin,dan sengaja tidak saya beritahukan sebelumnya kepada mereka,karena awalnya saya yakin dapat mengatasinya sendiri,beruntung para teman teman saya ini dapat mengerti dan memang menyadari bahwa akun itu sudah di hack,seperti biasa yang sudah sering terjadi dan sering mereka lakukan kepada lawan lawan diskusi mereka yang tidak sepaham dengan mereka.
Sungguh keterlaluan,saya tidak habis pikir,saudara semarga saya sendiri tega melakukan ini kepada saya,dan kepada beberapa teman teman saya lain nya yang sudah menjadi korban sebelumnya,saya mengitung ada sekitar lima orang saudara saya yang selalu aktif di forum diskusi itu yang menjadi korban si hacker kacangan ini,saya menganggap tindakan ini sungguh tindakan seorang yang berpikiran kekanak kanakan tidak dewasa,bagaimana tidak,,?masalah beda pendapat dan saling beda pemahaman kok akun fb yang jadi sasaran?bukan kah ini tindakan laki laki yang tidak gentelement?disini saya mengatakan”Laki laki”karena memang saya tau persis siapa sosok Sang Script kiddis yang telah merusak akun saya,mulai dari akun Facebook,Blog di Blogspot dan Email di Gmail,beruntung Blog saya yang ada di WordPress ini tidak berhasil dia jebol,berhubung sistem pengamanan/sercurity wordpress memiliki pengamanan yang maksimal,meskipun demikian dia mencoba masuk beberapa kali dengan menggunakan username yang sama dengan yang saya gunakan di Blogspot,hal ini saya ketahui dengan meningkatnya aktifitas page view yang mencurigakan,dan menggunakan kata kunci pencarian dengan nama username saya dari Google.hal ini dapat terlihat dengan jelas di dalam page statistik pengunjung blog wordpress.
Untuk itu pesan saya kepada saudara saya yang sudah merusak beberapa akun saya,sadarlah saudara,tidak ada untungnya buat kamu merusak lawan diskusi kamu,jusrtu hal demikian semakin merusak nama kamu dan komunitas kamu di dunia maya ini,jadi gunakan lah kemampuan mu untuk tujuan tujuan yang baik dan positif,percayalah,,saya tidak pernah mengagumi kepiawaian seorang Hacker kelas teri sekelas Script kiddies seperti kamu,kamu masih butuh belajar yang banyak,kemampuan yang mumpuni untuk memahami bahasa pemograman untuk bisa menyandang sebuah gelar Hacker..
Pesan saya kepada teman2 pengguna facebook,Gunakan setting privasi facebook untuk melindungi akun anda dari keisengan para Script kiddies yang mencoba merusak akun anda,karena lebih baik melakukan pengamanan dini daripada tidak sama sekali,para hacker selalu bergentayangan di dunia maya dengan mencari sasaran baru,tanpa perduli itu siapa,dengan berbagai motif dan tujuan yang berbeda beda..
Waspadalah,,waspadalah,,waspadalah……!!!😀😀
Demikian..
*Bekasi  12 Juni 2011 Bresman Silalahi*
Dipublikasi di Kisah | Tag , , , , | Meninggalkan komentar

Andai aku menjadi Hamonangan seorang lulusan Institut Rochaster USA,dan sutradara film Dalihan Na Tolu.


foto ilustrasi by google image

foto ilustrasi by google image

Namaku adalah Padot Hamonangan Silalahi,lahir sekitar 30 tahun yang lampau,tepat hari jumat malam tanggal satu Agustus 1981,disebuah desa terpencil di pinggiran Danau Toba,tandus dan berdebu jika kemarau tiba,bebatuan,pohon pinus dan pohon mangga yang tumbuh di lereng bukit itu dan diselingi pohon pohon perdu yang berduri.ibuku adalah seorang wanita perkasa,yang sangat ku kagumi sekaligus inspirasiku sepanjang masa,sedangkan Ayahku??aku kurang begitu tau tentang alm Ayah ku,karena sejak aku kecil dan berumur sekitar 1tahun,beliau telah pergi untuk selama lamanya meninggalkan kami semua.
     Sejak sepeninggal ayah kami,maka praktis,Ibu lah yang berperan sebagai Ayah buat kami terlebih kepada aku dan kedua adik adik ku,masa kecil ku dipenuhi dengan kenangan yang menurutku kurang bahagia,setiap pagi subuh di usia yang sangat belia,yaitu umur lima tahun,aku sudah harus berangkat menuju tepi pantai Danau Toba,sambil membawa (Hole)dan (Doton)semacam jaring penangkap ikan mujahir di Danau Toba,bergegas menuju pohon Mangga yang berada persis di bibir pantai,karena disanalah SOLU (sampan kecil)peninggalan alm Ayah ku tertambat dengan rapi,setiap pagi sebelum matahari terbit aku harus sudah melemparkan jring penangkap ikan mujahir itu ke tengah danau(Tao) dan sore harinya aku kembali menganggkat jaring itu,seperti itulah tugas utamaku disela sela membantu Ibu di ladang,sepetak ladang yang selalu ditanami Bawang Merah,dan jika hasil tangkapan jaringku lumayan banyak,maka ibu selalu menjualnya ke Onan (Pasar)setelah itu ibuku membawa beberapa liter beras dari hasil menjual Ikan Mujahir itu,dan tak lupa,Ibu selalu membawakan ku oleh oleh Roti bulan kesukaan ku,ada rasa bahagia setiap kali melihat wajah Ibuku pulang dengan tersenyum dari Onan(Pasar)sembari memberiku oleh oleh roti bulan itu….
      Di Usia delapan tahun tepatnya kelas dua sekolah dasar,aku sudah hijrah ke Jakarta bersama Tulang(Paman),disanalah aku mulai tumbuh dan berkembang,remaja hingga dewasa,semuanya atas bantuan Tulang,semenjak aku menamatkan sekolah lanjutan atas(SLA) Negeri di bilangan jakarta Selatan,maka tibalah saat nya aku melihat sisi Dunia yang lebih luas,karena saat itu,seorang Lae ku(sepupu),anak dari Tulang itu sudah lebih delapan tahun tinggal di Negeri Paman Sam yang kesohor itu,Amerika Serikat,yang awalnya menyelesaikan study di salah satu Unversity dan bekerja paruh waktu(part time) disalah satu restoran milik keturunan Mexico,namun  semenjak ia lulus Universty telah bekerja di Perusahaan.
     Sejak kecil saya selalu menyukai seni,menggambar,melukis,mendengar musik dan menonton film,hingga remaja aku selalu rajin mengabadikan segala sesuatu yang kulihat didalam kemera saku sederhana,baik berupa foto maupun video durasi durasi singkat, kamera saku hadiah pemberian Tulang,ketika aku berhasil menggapai peringkat satu umum selama tiga tahun berturut turut di sekolah lanjutan pertama dulu, SLTP namun ternyata diam diam,Tulangku mengamati bakat yang kumili selama ini,singkat cerita,sejak lulus SLTA Tulangku mengirim ku ke California USA,dan untuk menuntut ilmu,yang sesuai dengan bakat yang kumiliki,tentunya orang pertama yang aku temui disana adalah Lae ku,anak dari Tulang tersebut,ketika pertama sekali Tulang mengutarakan rencana besar nya itu disela sela makan malam bersama kami beserta keluarga besar Tulang ku di Jakarta untuk mengirim ku study di USA,tiba tiba rasa mual serasa bergejolak dalam perutku,mual bukan kerena sakit perut atau karena keracunan makana,tapi oleh karena perasaan ku yang begitu terkejut dan senang nya bukan main mendengar rencana Tulang itu,aku mencoba bertanya kepada Tulang hingga tiga kali,benarkah aku mendengar ucapan Tulang itu ingin di kirim ke AS dalam rangka melanjutkan kuliah?namun Tulang berusaha meyakinkan ku,bahwa ini bukan mimpi akan tet mengunjungiapi kenyataan,maka saat itu juga aku memeluk Tulang dengan erat erat,dan menangis terharu,aku tidak tau lagi mengucapkan kata terima kasih kepada Tulang,atas semua pengorbanan yang begitu besar kepada ku.
      Dua hari kemudian aku minta ijin kepada Tulang untuk pulang ke kampung halaman di Samosir untuk mengunjungi Ibu,dan sekaligus inilah ini lah moment dimana aku pertama sekali pulang ke tanah kelahiran ku,dalam kurun waktu sepuluh tahun,sebelumnya selama 3 kali dalam rentang waktu itu Ibu lah yang datang  ke Jakarta,mengunjungiku dan mengunjungi para sanak keluarga dan family yang ada disini.setiba di kampung halaman,aku langsung memeluk Ibu,dan malam nya,aku baru mengutarakan maksud kedatangan ku mengunjungi Ibu,selain dari rasa kerinduan kepada Ibu dan kampung halaman tercinta.dan singkat cerita Ibu merestui keberangkatan ku ke USA,dan tak lupa ibu menyampaikan kata kata petuah,pesan dan Doa pemberangkatan ku ke esaok harinya,aku pun berjanji kepada Ibu,akan segera kembali,mengunjungi nya begitu study ku selesai disana.
      Dua hari kemudian akupun kembali ke Jakarta,dan selang waktu 20 hari,setelah urusan visa,paspor dan segala dokumen sudah rampung,ahirnya aku berangkat menuju Negeri impian Paman Sam,sebuah Negeri yang selama ini hanya ada dalam mimpi mimpi indahku,namun sebentar lagi impianku itu akan menjadi kenyataan,dan bukan sekedar mimpi semata lagi.
                                                                         *******
Hari selasa pagi,aku berangkat menuju Bandara Sukarno Hatta,diantar oleh Tulang beserta Nantulang dan langsung menuju terminal keberangkatan Internasional,tak sabar rasanya hati ini ingin segera duduk di seat pesawat air bus berbadan lebar yang akan membawaku menuju Amerika Serikat,yang terlebih dahulu Transit di bandara Changi  Singapura dan Dubai (Timur tengah),dari Dubai pesawatku langsung menuju Amerika Serikat,aku benar benar menikmati perjalananku ini yang sangat lama dan ber jam jam,dan beberapa jam kemudian,ahirnya pesawat yang ku tumpangi itupun mendarat di Bandara Jhon F Kennedy,badara terbesar di AS,yang sangat terkenal dan bersejarah dibangun pada tahun 1942.dan disana sepupu(lae) anak Tulangku yang tertua  sudah menunggu ku di terminal kedatangan,dan aku telah melihatnya berdiri dideretan pengunjung,”welcome to united states,,horas,,lae”sapanya dan langsung memeluk nya dengan erat,dari sana kami langsung melanjutkan perjalanan dengan melalui penerbangan domestik,menuju bandara Internasional San Diego yang terletak di negara bagian California,dan sekitar dua jam kemudian kami tiba disana,dan disana sebuah Taxi segera membawa kami ke kediaman sepupu ku ini,saat melihat pertama sekali kendaran dengan mengguanakan stir sebelah kiri,rasanya seperti serasa janggal dan kendaraan melaju di sebelah kiri,suatu pemandangan yang agak aneh saat pertama sekali aku melihatnya,terbalik dengan peraturan lalu lintas yang ada di kota kota besar di Indonesia dan kota kota besar lainya seluruh Indonesia.
Beberapa hari kemudian,aku bersama lae ku,mendaftar di sebuah insitut perfiliman yaitu Rochaster Institut of Technology,yang merupakan cabang dari Institut Rochaster yang berpusat di New York,dan disanalah aku menimba ilmu sebanyak banyaknya,tentang dunia per filim an,dengan mahasiswa yang berasal dari berbagai negara,dan singkat cerita beberapa tahun kemudian aku ahirnya menammatkan study di Institut tersebut,dan sepanjang menempuh pendidikan disana,aku bersama teman teman mahasiswa lain nya membuat beberapa film dokumenter dan film ber durasi pendek yang mengangkat tema sosial dan budaya yang diambil dari beberapa Negara yang masih memiliki akar budaya yang masih kuat,hingga suatu ketika,seorang sutradara film lokal yang berkebangsaan AS,mengajak ku berdiskusi untuk mengangkat sebuah film ber durasi panjang yang mengangkat tema budaya yang ada di Indonesian,dan dia bercerita sudah ketiga kalinya berkunjung ke Indonesia,diantaranya Bali,Lombok dan Samosir,saat itu pikiranku langsung tertuju kepada Budaya Batak,dan saya mencoba mengajukan untuk mengangkat sebuah film yang bertema budaya Batak,serta mengajukan beberapa konsep.
Dan setelah itu,dua hari kemudian kami mulai bekerja dengan dengan dengan beberapa tahap,diantaranya perencanaan,dana finansial yang besar,setting lokasi,per izinan dari pemerintah setempat,dan skenario yang akan dijadikan film.setelah kesemuanya sudah rampung,maka kami tinggal menentukan waktu yang tepat terbang ke Indonesia,bersama beberapa orang crew dan tehnisi,dari bandara Soekarno hatta kami langsung melanjutkan perjalanan ke Kota Medan hari itu juga,praktis tanpa Istirahat,dari Jakarta masih  membutuhkan waktu selama dua jam hingga sampai di Bandara Polonia Medan,berhubung pesawat yang kami tumpangi dari medan berjadwal sore hari,maka kami terpaksa menginap satu malam lagi di sebuah Hotel di dekat Bandara itu,dan ke esok harinya kami baru melanjutkan perjalan trlebih dahulu menuju kampung halaman,sebelumnya,Ibu telah kukabari tentang kedatangan rombongan kami dari Amerika.
      Pagi itu,kami sengaja men carter sebuah mobil dari salah satu rental mobil yang ada dikota itu untuk digunakan beberapa hari kedepan,dan sebuah mobil mini van,yang digunakan sekaligus,untuk mengangkut barang barang properti,siang harinya ahirnya kami tiba dikampung halaman,ada rasa haru yang begitu dalam,ketika aku memeluk Inang dengan erat erat,inilah moment pertama sekali kunjungan ku ke kampung halaman dan sekaligus tanah kelahiran ku di Samosir ini,satu persatu para rombongan kami ku perkenalkan kepada Inang,tentunya mereka hanya bisa mengatakan kata”Horas,,inang”kepada Ibu ku,sembari tersenyum,kampung kami ini tidaklah begitu istimewa dengan kehadiran para bule bule yang bertubuh tinggi besar,ber mata biru,dan ber rambut merah sebagaimana ciri ciri bangsa Eropa dan Amerika,karena dikampung kami ini sejak dahulu sering dikunjungi para Turis dari berbagai negara,sebagaimana turis yang melancong,dan kampung kami ini juga sering dilalui para Turis yang melintas dari Tomok maupun Tuktuk yang hendak ke Pangururan via Ronggur ni Huta.
Ke esok harinya kami baru memulai survey di Lapangan,dengan terlebih dahulu meminta izin ke pemerintah setempat,beberapa tempat yang akan jadikan syuting lokasi diantara nyaPusukBuhit.Buhit,Parapat,Tele,Sianjurmulamula,Tulas,Ronggurni Huta,Parbaba,Tomok,Tuktuk,Tongging,Onan Runggu,Nainggolan,Balige,Tarutung,Sipoholon,Pematang siantar dan Medan dan selanjutnya Pemilihan sosok karakter para pemain(Artis) yang akan terlibat langung didalam nya,dan termasuk diantaranya pemeran Utama dalam film yang akan kami garap ini,si Tiurma Simbolon,sebagai pemeran utama sengaja kami boyong dari medan,setelah melalui beberap tes dan seleksi pemilihan yang terlebih dilakukan dikota Medan,dan Maruli Silalahi pemeran Utama pria yang berasal dari pria kelahiran Samosir seorang mahasiswa semester 4 di salah satu universitas negeri di kota Medan yang mengambil sastra inggris,dan sebagai Orang tua kedua tokoh pemeran utama tersebut sengaja kami pilih para penduduk setempat kampung ku.
       Adapun judul film yang akan kami garap tersebut  adalah DALIHAN NA TOLU”,yaitu mengangkat kisah Adat dan Tradisi budaya batak yang berlangsung secara turun temurun,dari generasi ke generasi,yang tetap eksis hingga saat ini,dan selalau di jungjung tinggi sebagai plasafah hidut adat Batak,dalam film ini aka dijabarkan secara gamblang,bagaimana proses palsafah “Dalihan na Tolu”ini berjalan secara ber irama,dan terlihat dinamis dalam tatanan kehidupan batak toba pada umumnya,dimulai sejak,lahirnya seorang putra Batak yang bernama Maruli Silalahi,dari keluarga sederhana yang merupakan putra dari seorang bapak yang di daulat menjadi “Raja Parhata”dikalangan satu marga yang ada dikampung itu,dan kampung yang berbatasan tidak jauh dengan kampung kami itu,hingga maruli menginjakkan usia remaja,dan begitu juga dengan kehidupan sehari harinya,sebagai seorang,laki laki batak yang berasal dari keluarga sederhana,ayah nya hidup dari hasil bertani di sepetak lahan yang tidak terlalu luas,ditambah penghasilan sampingan sebagai nelayan penjaring ikan di Danau Toba,namun,Maruli selalu optimis dan yakin,meskipun dengan penghasilan yang sangat minim itu,Maruli mampu mencapai bangku kuliah di salah satu Universitas Negeri di kota Medan,namun di sela sela waktu kuliah nya dia memiliki pekerjaan sampingan,untuk mencukupi biayinya hidup yang setiap pertengahan bulan selalu kehabisan uang kiriman dari orang tua nya dari kampung halaman,untuk  itulah,dia menyiasat maka ia menyiasatinya dengan menarik becak dimalam hari,becak bang Dimin,tetangga kost Maruli di Gang Arjuna Medan.
     Disana akan diperankan kehidupan Maruli yang sangat pas pas an,serba minim,namun selalu ulet dan telaten dalam melakukan segalanya,termasuk dalam kerja sampingan nya itu,demikian pula semangat tingginya menuntut ilmu di bangku kuliah dan menggapai cita cita yang sejak kecil dia impikan.hingga satu waktu kemudian ia bertemu dengan sosok wanita sederhana sesama mahasiswa di universitas itu,Tiurma boru Simbolon,demikian namanya,seorang gadis cantik kelahiran Pangururan,Samosir,Putri tertua Pak Simbolon.keluarga terpandang dikampung itu,ayahnya seorang anggota  Dewan Kab Samosir,disini dikisahkan,bagaimana ahirnya Maruli jatuh cinta kepada Tiurma,namun ahirnya mendapat penolakan mentah dari orang tua si perempuan,namun Maruli tak pernah menyerah,ia selalu optimis,bahwa selama ia bersikap jujur,hormat,sopan dan selalu berpedaoman kepada Dalihan na Tolu,maka tak ada alasan untuk menyerah menghadapi orang tua kekasihnya itu,intrik dan kisah cinta ala pasangan muda khas Batak akan dipertontonkan disini dengan rinci dan sedetil mungkin,lengkap dengan setting lokasi dibeberapa tempat di pinggiran pantai Danau Toba,di dalam kapal dan di sebuah bukit yang menghadap langsung ke arah Danau Toba, yang eksotik semakin menambah  romantisme kisah cinta dua insan muda ini,serta ada canda,tawa dan suka duka.
Hingga ahirnya Marluli menikahi sang pujaan hatinya,disni,adat dan tradisi budaya Batak ditampilkan secara detil,dimana implementasi dan makna Dalihan na Tolu terlihat jelas,dalam pesta adat ini akan tampil siapa Tulang/Hula hula(pihak keluarga dari garis keturunan Ibu si Maruli,atau Paman,Dongan tubu,kerabat semarga dari garis keturunan Ayah,termasuk didalamnya kerabat satu kampung si Maruli,Boru,pihak dari keluarga saudara perempuan (Ito)si Maruli yang sudah menikah,dalam acara pesta pernikahan ini,ketiga makna yang terkandung dalam Dalihan Na Tolu,tampil secara bersama samaan dengan tugas masing masing yang berbeda,Pihak si empunya hajatan/pesta biasa disebut Hasuhuton Bolon,sedangkan pihak dari keluarga si Peremuan/mempelai wanita disebut Hula hula par boru,sedangkan yang bertugas di dapur ini adalah tugas utama Boru dari pihak yang punya hajatan.dalam prosesi pernikahan yang panjang ini,semua tampak jelas demikian juga saat Mangulosi(para hadirin undangan menyampaikan sehelai kain ulos kepada kedua mempelai)masing masing ulos memiliki nama yang berbeda beda namun menyimbolkan berkat dan anugrah dari TUHAN….
(Bersambung….)
Dipublikasi di Kisah | Tag , , | Meninggalkan komentar

Mimpi itu..!!


Dalam tempo dua bulan berturut turut,aku bermimpi sebanyak tigakali,mimpi yang pertama,aku berada disebuah kapal yang sangat besar,dan penumpangnya terdiri dari pasangan kekasih,ketika akan masuk kapal yang besar itu,aku bersama sama dengan seorang wanita yang ku kasihi,namun saat berada didalam,aku sama sekali tak melihat sosok wanita yang ku kasihi tersebut,tak henti hentinya aku mencari,mulai dari dek bawah hingga dek atas,lorong,koridor bahkan dari anjungan hingga buritan kapal yang besar itu aku periksa 1/1 namun aku tak menemukan sosok dirinya,diahir pencarian ku yang semakin putus asa itu,aku ahirnya tertunduk lesu dianjungan kapal serta menitikkan air mata,
hingga kini saya tak mengerti apa arti dari sebuah kehadiran mimpi itu,meskipun banyak orang berpendapat bahwa mimpi adalah bagian dari bunga bunga tidur,tapi aku tetap yakin,bahwa mimpi itu seakan memberitahukan sesuatu kepada saya suatu saat nanti dikehidupan nyata..
Dalam mimpi yang kedua,aku berada diantara orang orang yang tidak ku kenali sama sekali,dalam sebuah acara besar,saya kurang tau itu acara apa tepatnya,yang pasti saya ibarat terasing kala itu,meskipun ramai dan meriah,namun perasaan ku tetap merasa sendiri dan kesepian,hingga saat ini saya tidak mengerti apa pesan yang ingin disampaikan mimpi itu kepada ku,
Dalam mimpi ke tiga kalinya,aku tengah berada diantara Pesta besar,semacam sebuah pesta pernikahan yang aneh jutru disana saya menjadi pengantin pria,lengkap dengan pakaian kebesaran mengenakan Jas,jika saya mau jujur,inilah satu satunya mimpi yang tak pernah kualami sepanjang hidup diusia menapaki tigapuluh ini,bahkan setelah sadar dan terbangun dari mimpi itu masih menangis tersedu sedu disertai uraian air mata,bak seorang anak kecil ditinggal pergi oleh ibunya..
Dialam mimpiku itu,seperti yang kusebutkan diatas,yakni tengah berada disebuah pesta pernikahan,dan aku sebagai pengantin prianya,yang jelas saat itu suasana nya benar meriah dengan tamu tamu keluarga dekat dan family,disebuah altar,tapi tidak jelas altar itu dimana,aku berdiri menantikan seorang pengantin wanita,yakni sosok wanita yang kucintai selama ini,dalam hati saya bisa menebak,siapa sosok wanita yang kumaksudkan ini,sambil berdiri didepan menunggu kehadiran sang mempelai wanita ini,aku melihat wajah para tamu yang hadir disana,semuanya kukenali satu persatu,5 menit berlalu,10 menit hingga setengah jam,sang pengantin wanita tak kunjung tiba dihadapan ku,para keluarga dan tamu undangan pun semakin bertanya tanya,ada apa gerangan yang terjadi….
dan selidik punya selidik serta usut punya usut,ternyata seorang anak kecil menghampiri ku,anak kecil yang sama sekali tidak kukenali siapa dan dari mana,datang menghampiriku serta membisikkan kata”bahwa dia baru saja melihat seorang wanita dengan mengenakan pakaian kebaya,berdandan rapi serta wajah nya di make up,pergi bersama seorang Pria.seorang pria yang sama sekali tak dikenal oleh anak kecil itu.
Dan begitu kabar itu tersiar kepada keluarga dan para tamu undangan,maka terjadilah keriuhan,ada suara terikan,yang kudengar kala itu,serta beberapa orang disekitarku saya lihat menangis,entah apa yang mereka tangiskan kala itu,dan entah bagaimana ahirnya dalam waktu sekejap seorang wanita sudah berada disampingku,dengan mengenakan kerudung agak gelap,dalam hatiku,aku menganggap bahwa kekasihku/sang mempelai wanita sudah berada disisiku,kemudian prosesi pernikahan itu pun berjalan dengan sederhana,akan tetapi ada kejanggalan yang terlihat pada wajah wajah keluarga ku,beserta para tamu undangan saat itu,wajah meleka terlihat lesu dan menunduk,seolah wajah2 yang kusaksikan adalah wajah penuh duka,akupun semakin bingung dan tak mengerti,apa arti ini..
dan beberapa saat kemudian,setelah para undangan meninggalkan acara itu,dan yang tersisa adalah para keluarga dekatku,aku menyaksikan ternyata wajah dibalik kerudung yang kusunting disampingku itu adalah sosok orang lain,bukan sosok wanita yang kusayangi/kucintai selama ini,betapa hancurnya perasaan ku kala itu,yang dapat kulakukan hanya menyendiri dipojok sebuah ruangan sambil menangis,aku benar benar tidak percaya apa yang barusan ku alami,saat itu keluarga ku berusaha menenangkan gejolak dan tangis yang meraung raung dari mulutku,bak anak kecil yang ditinggal oleh ibunya.namun tak seorangpun keluargaku yang dapat menenangkan kegalauan dan hancurnya hatiku ku kala itu,yang ada hanya tangis,sepanjang malam dan sepanjang hari,yang kurasakan adalah kepedihan,sakit hati yang mendalam,aku menyadari bahwa aku telah dikhianati oleh seorang wanita yang amat kusayangi,kucintai sekaligus kubanggakan selama ini.dengan cara meninggalkan ku disaat hari pernikahan itu…
Tanpa sadar aku terbangun dari tidurku,aku sadar akan semua yang baru saja ku alami itu hanya sebuah mimpi,mimpi yang menurutku sangat buruk,dengan air mata yang ter urai membasahi bantal dan rambutku,dengan suara yang masih meraung dalam tangisan kesedihan,sejenak aku duduk dan mencoba menenangkan diri,menyadari dan mencoba meyakinkan bahwa ini itu semua hanya sebuah mimpi,persaan ku kala itu serasa campur aduk,antara senang dan sedih,senang karena ini hanya sebuah mimpi,sedih karena ada rasa ketakutan yang mendalam dalam diriku setellah kehadiran mimpi buruk itu,dipagi buta itu,aku mencoba menghubungi ponsel orang yang ku kasihi nan jauh disana,dan seolah memastikan dan meyakinkan diriku,bahwa kejadian buruk yang barusan kualami benar benar hanya di alam mimpi,di ujung telepon nun jauh disana dia benar benar meyakinkan dan menenagkan segala kegelisahan ku,dan kucoba menceritakan apa yang barusan kualami lewat sebuah mimpi,yaitu mimpi buruk,dan tak bosan bosan nya ia menenangkan dan menenteramkan segenap kegelisahanku…
**********
Mimpi itu ahirnya berlalu dengan menjalani hari demi hari,minggu dan bulan,namun penuh dengan tanda tanya yang besar,sampai pada detik ini,mimpi itu selalu segar dalam ingatanku,aku percaya bahwa,sebuah mimpi itu seakan membawa pesan,bahwa mimpi yang kualami itu sepertinya ingin menyampaikan sesuatu,namun hingga detik ini aku tak sanggup mengartikan pesan yang ingin disampaikan lewat mimpi mimpiku yang berturut tiga kali dalam 2 bulan terahir,dan hingga saat ini hanya dia seoranglah yang tau akan kehadiran mimpi buruk ku itu.
Sengaja kutuliskan mimpi buruk ini ke dalam sebuah catatanku,agar suatu saat nanti aku menyadari dan mengetahui kemana,apa dan mengapa mimpi itu hinggap dalam tidurku kala itu,sekaligus sebagai saksi tertulis,yang kan kukenang selamanya,sejujurnya aku tak menginginkan mimpi buruk ini terjadi suatu saat nanti dalam kehidupan nyataku,aku sadar dan selalu realistis menghadapi kenyataan hidup,pahit manis,dan kegetiran selalu akan kuhadapi kedepan nya.meskipun suatu saat hal terburuk akan terjadi kepadaku,ya,,semacam mimpi buruk yang kualami itu.toh saya hanya manusia biasa yang penuh dengan keterbatasan dalam memprediksi masa yang akan datang,akan tetapi TUHAN lah yang mengetahui rahasia kehidupan serta takdir ku kelak nanti…..
Ahir kata saya ucapkan Terimakasih……Horas…horas…horas…
*Bekasi 29 April 2011 Bresman Silalahi*
Dipublikasi di Kisah | Tag , , , , | 2 Komentar